by

Bijak dalam Membaca, Redam Hoax dan Hate Speech

-Opini-19 views

Oleh: Ai Siti Rahayu

Kerap dijumpai beberapa pesan broadcast di WhatsApp mengenai hal-hal minor, sesuatu yang berbau politik bahkan agama. Entah dari mana berbagai informasi itu berasal dan apa tujuan sesungguhnya. Namun teka-teki ini tidak cukup menahan kegemasan masyarakat untuk menyebarkan warta berita tersebut pada keluarga, teman, ataupun pihak lain. Secara tak sadar, itulah awal mula mengapa media sosial disesakkan oleh berita bohong atau yang sering kita sebut dengan hoax.

Ucapan kebencian atau ujaran kebencian hate speech adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual , kewarganegaraan, agama, dan lain-lain.

Dalam arti hukum, hate speech adalah perkataan, perilaku, tulisan, ataupun pertunjukan yang dilarang karena dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan sikap prasangka entah dari pihak pelaku, pernyataan tersebut, atau korban dari tindakan tersebut. Situs yang menggunakan atau menerapkan hate speech ini disebut hate site. Kebanyakan dari situs ini menggunakan forum internet dan berita untuk mempertegas sudut pandang tertentu.

Baca Juga: Kepala BPIP: Pendidikan Pancasila Dapat Tantangan Besar di Era Disrupsi Informasi

Para kritikus berpendapat bahwa istilah hate speech merupakan contoh modern dari novel Newspeak, ketika hate speech dipakai untuk memberikan kritik secara diam-diam kepada kebijakan sosial yang diimplementasikan dengan buruk dan terburu-buru seakan-akan kebijakan tersebut terlihat benar secara politik

Pada dasarnya, hoax hadir sejak manusia berbudaya. Walaupun hoax terlihat anak baru dalam panggung publik Indonesia, namun faktanya hoax telah memiliki peran yang penting untuk sejarah dunia. Hoax banyak digunakan dalam Perang Dunia II, salah satunya pada “operasi daging cincang”. Pada sejarahnya, salah satu hoax yang paling awal terjadi tercatat di tahun 1661 mengenai Drummer Tedworth.

Histori itu bukanlah suatu landasan yang menjadikan hoax untuk diterima. Bagaimanapun hoax dapat berbahaya dan menimbulkan kekacauan. Berita hoax dirangkai seakan-akan memang sebuah fakta. Berita fenomenal yang sedang terjadi di masyarakat menjadi sasaran empuk dari berita hoax. Contohnya seperti dilansir dari katadata.co.id, di Indonesia sendiri sudah terdapat 405 kasus hoax mengenai Covid-19.

Informasi yang dikemas secara singkat, menarik, judul yang atraktif dan terkadang berisi hal sensasional mudah mengundang perhatian dan kepercayaan masyarakat. Kecenderungan publik untuk berselancar di platform media sosial pun semakin tinggi didukung akses teknologi yang berkembang pesat. Setiap berita yang berkaitan dengan isu yang hangat seringkali dibenarkan tanpa konfirmasi.

Mengutip dari Paul Joseph Goebbels mengenai konsep Big Lie-nya,“Kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi kenyataan. Sedangkan kebohongan sempurna adalah kebenaran yang dipelintir sedikit saja.” Konsep itu bisa menjadi teori mengapa hoax dengan mudahnya diterima dan tersebar di masyarakat.

Berita yang diulang secara terus menerus akan diterima oleh masyarakat menjadi sebuah fakta. Hingga akhirnya orang-orang terjebak pada hoax yang seperti lingkaran setan. Parahnya, seseorang yang sudah meyakini terhadap suatu hal dia bisa terbelenggu pada ruang gema. Dia hanya mendengarkan apa yang sepaham dengannya untuk mempertahankan keyakinannya.

Di Indonesia, hoax semakin merajalela dari waktu ke waktu. Mulai dari tips-tips kesehatan, tes CPNS, lowongan pekerjaan, perpecahan antar suku, hingga berita-berita Pemilu yang membuat banyak orang saling membenci sampai saat ini walau pemimpin telah ditetapkan. Apa yang membuat masyarakat Indonesia sangat mudah tertipu daya oleh hoax?

Tingkat Kemampuan Membaca yang Buruk

Dilansir dari Kompas.com, Desember 2019 kemarin hasil skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 telah diserahkan kepada Menteri Pendidikan Indonesia. PISA ini gagas oleh The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang dilakukan setiap tiga tahun sekali mulai dari tahun 2000. Program ini merupakan penelitian tingkat dunia untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun. Materi yang diuji adalah sains, menghitung, dan membaca.

Hasilnya cukup mengejutkan. Indonesia masih menempati urutan sepuluh besar terbawah dengan berada di peringkat 74 dari 79 negara. Faktanya lagi, nilai Indonesia mengalami penurunan dari penelitian terakhir di tahun 2015. Perbedaan ini sangat terlihat dalam nilai untuk membaca dari skor 397 menjadi 371.

Catatan buruk ini bukan karena anak-anak Indonesia tidak bisa membaca. Tapi, mereka tidak mampu memahami apa yang mereka baca. Penilaian ini tentu sangat berkaitan dan bahkan menggambarkan tingkat membaca masyarakat secara umum. Kemampuan analisa masyarakat Indonesia yang masih cenderung minim menyebabkan banyak orang salah tangkap atau mudah terkecoh dengan suatu berita.

 

Hal ini diperjelas oleh ungkapan dosen Sosiologi Budaya UIN SGD Bandung, Sidik Permana. Dari penuturannya ia menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat dengan tingkat membaca yang tinggi. Alasannya karena latar belakang yang berkembang di negara kita adalah budaya lisan (illiterate culture), bukan budaya baca (literate culture).

Dalam kehidupan sehari-harinya masyarakat di Indonesia terbiasa mendengarkan dongeng, mengobrol dan minim membaca. Lebih menyukai informasi yang mengalir deras dengan konten yang singkat dan menarik, dibandingkan buku fiksi atau non fiksi yang dirasa panjang dan membosankan. Sehingga jika terdapat informasi, masyarakat menerima itu tanpa penyaringan dan akhirnya mendapatkan informasi yang tidak benar.

Bijak dalam Membaca

Hoax yang menyebar cepat seperti virus ini memang tidak hanya menjangkiti masyarakat kita. Demikian pula masyarakat dunia. Namun, dalam pengendaliannya jelas lebih terkontrol di negara Barat sana yang memang menerapkan budaya membaca. Selain itu, mereka juga dapat bijak dalam bermedia sosial baik tentang waktu dan apa yang mereka baca.

Sebetulnya tidak terlalu sulit untuk mengalahkan maraknya hoax. Setiap masyarakat perlu berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan suatu berita. Tak terjebak dalam bias konfirmasi. Perlu adanya kemauan untuk menyaring, memilah dan memilih suatu informasi yang akan ia benarkan.

Selanjutnya, pernyataannya Sidik Permana juga mengatakan bahwa perlunya mengembangkan dan meningkatkan budaya literasi.

Bagi setiap orang yang mengetahui bahwa suatu berita itu hoax, bisa mengcounter dan memberikan klarifikasi. Sehingga pihak-pihak lain tidak terperangkap dalam kepalsuan informasi tertentu.

Gaya hidup baru masyarakat Indonesia yang sangat erat dengan smartphone yang membuat orang lebih sering mendapat berita asal, harus dibatasi dengan bijak. Dan pihak pemerintah pun sangat perlu terlibat dalam penanganan masalah hoax. Baik untuk kalangan kelas sosial atas maupun kelas sosial bawah. Apabila tidak ada dukungan dari setiap pihak, maka bisa diperkirakan hari-hari ke depan Indonesia bahkan dunia bisa hancur karena sebuah berita yang selalu tidak benar.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed