by

Rape Culture: Tendensi Menyalahkan Korban Kekerasan Seksual

Kabar Damai I Selasa, 26 Oktober 2021

Jakarta I kabar damai.id I Apakah kita sering mendengar candaan yang enggak pantas di lingkungan kita yang merendahkan cewek atau korban pelecehan seksual, atau mengetahui orang-orang yang meremehkan laporan kekerasan seksual yang dialami seseorang?

Atau mungkin kita mengetahui kalau seseorang yang selama ini kita anggap baik ternyata melakukan kekerasan seksual seperti perkosaan, tapi orang lain malah menganggap remeh kesaksian korban yang mengungkap kejadian tersebut karena pelaku merupakan orang terkenal.

Hal seperti itu seolah dianggap normal oleh masyarakat, bentuk pujian karena perempuan tersebut dianggap cantik dan pantas digoda. Padahal, Catcalling adalah intimidasi dan kadang punya maksud dan tujuan tertentu.

Maret 2020, Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) meluncurkan Catatan Tahunan (CATAHU) 2020. Catatan pendokumentasian berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani oleh berbagai lembaga negara, lembaga layanan, maupun yang dilaporkan ke Komnas Perempuan sepanjang tahun 2019.

Beragam spektrum dan bentuk kekerasan terekam dalam CATAHU 2020 dan temuan khusus merepresentasikan bahwa dalam 12 tahun terakhir di Indonesia, kekerasan terhadap perempuan meningkat delapankali lipat.

Peningkatan kasus cyber pun terjadi yang berbentuk ancaman serta intimidasi penyebaran foto dan video porno korban. Kekerasan terhadap anak perempuan meningkat 65%, dan kekerasan seksual terhadap perempuan disabilitas dibandingkan tahun lalu naik sebanyak 47%, dengan korban terbanyak adalah disabilitas intelektual.

Semakin jelas bahwa kekerasan seksual itu endemis di Indonesia. Statistik dalam CATAHU menyebutkan setiap dua jam, tiga perempuan menjadi korban kekerasan seksual di Indonesia. Dan angka tersebut masih merupakan fenomena gunung es, yang dapat diartikan dalam situasi yang sebenarnya, kondisi perempuan Indonesia jauh mengalami kehidupan yang tidak aman.

Istilah rape culture digunakan ketika perilaku perkosaan dan pelecehan atau kekerasan seksual lainnya dianggap lumrah, bahkan diwajarkan untuk tayang di media dan budaya populer.

Sadar atau enggak, lingkungan di sekitar kita atau bahkan diri kita sendiri mungkin pernah melakukan salah satu dari banyak perilaku yang termasuk ke dalam rape culture.

Yuk, lebih aware dan segera hentikan budaya yang mengancam korban seperti ini!

 

Contoh Rape Culture

Sebetulnya ada banyak banget contoh rape culture yang marak terjadi, bahkan bisa jadi dilakukan oleh cewek meskipun pada kenyataannya kebanyakan korban pelecehan dan kekerasan seksual adalah cewek juga.

Salah satunya yang cukup sering terjadi adalah victim blaming atau menyalahkan korban atas kejadian yang menimpanya, misalnya dengan menuduh kalau hal itu terjadi gara-gara pakaian, bentuk tubuh, atau perilaku korban.

Selain itu, candaan yang mengarah pada topik seksual dan melibatkan orang lain tanpa consent juga termasuk dalam jenis rape culture.

Baca Juga: Menciptakan Kepercayaan dan Perasaan Nyaman Terhadap Anak Saat Alami KBGO

Memaklumi perilaku pelecehan dan kekerasan seksual atas alasan apapun, misalnya dengan berdalih kalau cowok wajar melecehkan cewek, serta meremehkan laporan berbagai bentuk pelecehan seksual seperti tuduhan perkosaan yang dilakukan seseorang juga termasuk rape culture, lho.

Sadar atau enggak, mungkin ada beberapa perilaku rape culture yang masih kita lakukan sampai saat ini.

Kalau kita sudah menyadari letak kesalahannya, segera berubah, yuk! Pasalnya, budaya ini salah banget dan bakal sangat merugikan korban.

 

Bahaya Rape Culture Bagi Korban

Kebiasaan menerapkan rape culture dan victim blaming dapat menyudutkan korban dan membuatnya ragu atau takut untuk melaporkan kejadian yang dialaminya.

Apa lagi kalau orang-orang enggak menganggap serius laporan tersebut dan malah mengolok-olok korban atau mengatakan bahwa dirinya seharusnya enggak memancing pelaku berbuat seperti itu.

Pada akhirnya, bukan hanya luka fisik yang mungkin diderita korban, tetapi juga mental.

Ini juga berarti kita turut menyalahkan korban atas hal yang terjadi bukan karena kesalahannya.

Kemudian korban akan semakin merasa enggak nyaman dan terancam karena hidupnya enggak dapat sebebas pelaku, yang aksinya didukung oleh rape culture ini.

 

Cara Memberantas Rape Culture

Lalu, gimana cara terbaik untuk menghentikan rape culture?

Kita bisa mulai dengan menggunakan bahasa yang enggak merendahkan cewek atau korban pada umumnya dalam percakapan.

Selain itu, mulailah berani speak up atau menegur orang lain ketika kita mendengar ada kata-kata atau melihat perbuatan enggak pantas yang dilakukan dan termasuk ke dalam rape culture.

Ketika ada orang yang menyebut dirinya sebagai korban pelecehan atau kekerasan seksual pun, prioritaskan pernyataan korban terlebih dulu, terlepas dari apakah pelaku menanggapi tuduhan terhadap dirinya atau enggak.

Pastikan korban aman dan enggak malah semakin terintimidasi dengan rape culture yang mungkin dilakukan sebagian orang terhadap dirinya.

Ingat pula untuk meminta pertanggungjawaban pelaku atas aksi yang dilakukannya, siapapun dirinya; entah itu orang terdekat kita, orang asing, atau bahkan orang yang selama ini kita idolakan.

Jangan biarkan pelaku berdalih bahwa ia beraksi akibat pengaruh alkohol, perilaku korban, dan sebaganya.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed