by

Ragam Tradisi Menyambut Bulan Ramadan di Indonesia

Kabar Damai | Jumat, 09 April 2021

Jakarta | kabardamai.id | Ramadan selalu disambut penuh suka cita oleh umat Islam. Bulan yang paling ditunggu ini menjadi momen istimewa untuk dirayakan.

Tiap daerah memiliki tradisi dan keunikan tersendiri dalam menyambut bulan suci Ramadan. Di berbagai daerah di Indonesia, Ramadan disambut dengan sejumlah aktivitas. Kegiatan-kegiatan ini menjadi tradisi turun temurun yang masih dilakukan hingga saat ini. Tradisi menyambut Ramadan di Indonesia berinti pada mensucikan diri, saling bermaafan, dan menjalin silaturahmi.

Baca Juga : Satu Tungku Tiga Batu, Akar Budaya Toleransi ala Fakfak Papua Barat

Berikut tradisi menyambut Ramadan di berbagai daerah di Indonesia, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (5/4/2021).

Punggahan – Sumatera Utara
Punggahan merupakan tradisi menyambut Ramadan di Sumatera Utara. Punggahan berarti naik artinya, tradisi ini diharapkan mampu menaikkan derajat manusia ketika menjalankan ibadah di bulan Ramadan.

Tradisi punggahan dilakukan berbeda di tiap daerah di Sumatera Utara. Labuhanbatu Utara misalnya, masyarakat biasanya akan membawa makanan dan berkumpul bersama menyantapnya di masjid. Di Batubara, punggahan dirayakan dengan menyembelih ternak jenis kerbau atau lembu mulai 32 hari sebelum hari pertama Ramadhan.

Dilansir dari laman IAIN Salatiga, Tradisi Punggahan hingga kini masih dilestarikan dan dijaga oleh masyarakat Sumatera Utara. Selain karena untuk menghormati tradisi yang sudah ada, Tradisi Punggahan juga memiliki nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan, terutama dalam kehidupan bermasyarakat.

Nyadran – Jawa
Menjelang Ramadan, masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta melakukan tradisi nyadran. Tradisi ini juga dikenal sebagai ruwahan. Nyadran adalah hasil akulturasi budaya Jawa dengan Islam. Nyadran diadakan satu bulan sebelum dimulainya puasa, atau pada 15, 20, dan 23 Ruwah.

Biasanya nyadran dilakukan dengan membersihkan makam orang tua atau keluarga lalu mendoakannya. Masyarakat yang melakukan tradisi Nyadran percaya, membersihkan makam adalah simbol dari pembersihan diri menjelang Bulan Suci.

Bukan hanya hubungan manusia dengan Sang Pencipta, Nyadran dilakukan sebagai bentuk bakti kepada para pendahulu dan leluhur. Setelah nyadran biasanya ada acara kenduri atau makan bersama.

Padusan – Jawa
Di Jawa ada juga tradisi padusan untuk menyambut bulan Ramadan. Tradisi unik ini merupakan kegiatan mandi dengan niat membersihkan atau menyucikan diri sebelum datangnya bulan Ramadan. Padusan biasanya dilakukan di tempat-tempat seperti pantai, sungai ataupun sendang.

Ketika tradisi padusan, orang akan berbondong-bondong ke sebuah tempat pemandian untuk mandi dan berendam. Mereka percaya air bisa menyucikan diri dalam rangka menyambut bulan Ramadan.

Nyorog – Betawi
Nyorog adalah tradisi masyarakat Betawi yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadan. Nyorog dilakukan dengan membagikan berbagai bingkisan seperti sembako, ikan bandeng dan daging kerbau kepada sanak keluarga. Bingkisan nyorog biasanya juga bisa berupa makanan khas Betawi seperti sayur gabus pucung.

Tujuan dari nyorog adalah untuk mengingatkan bahwa bulan Ramadan akan segera datang dan Ramadan merupakan ajang untuk saling silaturahmi.

Suru Maca – Bugis-Makassar
Di Sulawesi Selatan, terutama suku Bugis-Makassar ada ritual ‘Suru Maca’ yang menjadi tradisi sebelum memasuki bulan puasa. Suru Maca yang berarti membaca doa secara bersama untuk dikirimkan kepada leluhu. Biasanya, ritual Suru Maca dilakukan tepat sepekan memasuki bulan suci Ramadan. Dengan menyajikan beragam kuliner khas suku Bugis-Makassar yang diletakkan di lantai dan biasanya juga di atas ranjang tidur.

Ulama atau tokoh agama kemudian membaca doa dan ayat-ayat Al-Qur’an. Setelah pembacaan doa selesai, para keluarga yang menggelar ritual tersebut kemudian menyantap masakan yang telah didoakan. Makanan yang biasanya disediakan dalam ritual Suru Maca itu diantaranya opor ayam, ayam goreng tumis, serta nasi ketan dua warna, yakni ketan putih maupun hitam serta gula merah yang telah dicairkan atau akrab disebut songkolo palopo

Ritual menjelang Bulan Ramadan ini sudah dilakukan oleh nenek moyang suku Bugis-Makassar yang sampai saat ini masih terus terjaga.

Megibung – Bali
Megibung Megibung merupakan tradisi warga Karangasem, Bali untuk menyambut bulan Ramadan. Megibung merupakan kegiatan makan bersama, dilakukan dengan beberapa kelompok orang duduk bersila dan membentuk lingkaran, dimana nasi telah tersedia beserta lauk pauknya di atas nampan. Satu kelompok tersebut dinamakan satu sela.

Acara makan-makan ini diselingi dengan obrolan obrolan ringan. Satu porsi nasi megibung biasanya dinikmati oleh delapan orang atau bisa juga oleh empat orang.

Bulan Ramadan memang harus disambut dengan penuh kegembiraan. Ini sesuai dengan hadis yang berbunyi:

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (Hadis shahih, dan diriwayatkan oleh An –Nasa’i).

Penulis: Anugerah Ayu Sendari
Editor: Ahmad Nurcholish
Sumber: Liputan6.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed