by

Ragam Puasa di Berbagai Agama

-Religipedia-116 views
Desain Oleh Ai Siti Rahayu

Kabar Damai I Jumat, 30 April 2021

 

Jakarta I kabardamai.id I Ramadhan selain disebut sebagai bulan suci umat islam, juga sering dibilang sebagai bulan puasa. Setiap hari selama ramadhan semua muslim dilarang makan dan minum dari mulai fajar hingga matahari terbenam. Mereka juga diwajibkan untuk menjaga lisan dan perbuatan, serta menahan hawa nafsu.

Namun ternyata, puasa bukan hanya ada di dalam saja. Di beberapa agama dan kepercayaan lain  puasa juga ternyata ada yang mewajibkannya.

 

Puasa dalam Agama Buddha

Puasa dalam agama Buddha adalah sebuah kewajiban bagi para bhikkhu seumur hidup mereka menjadi bhikkhu. Untuk umat awam, puasa dianjurkan 2 kali dalam sebulan (yang ditentukan berdasarkan peredaran bulan), walaupun tidak bersifat wajib.

Puasa dalam agama Buddha dimulai dari tengah hari sampai keesokan harinya. Artinya, bhikkhu dan umat yang melaksanakan puasa, hanya boleh makan pada dini hari sampai pukul 12 siang. Setelah itu, mereka akan kembali berpuasa.

Selain perbedaan pelaksanaan waktu, yang membuat puasa dalam Buddha berbeda dengan puasa dalam Islam adalah diperbolehkannya minum air putih selama puasa. Minum air putih diperbolehkan asalkan tujuan minum air putih bukan karena dorongan keinginan, tapi karena kebutuhan.

Baca Juga : Menikah Beda Agama, Begini Toleransi Amara dan Frans Mohede saat Ramadan

Sebenarnya, puasa dalam ajaran Buddha bukan sebatas tidak makan saja, mengingat bahwa puasa dalam agama Buddha merujuk pada uposattha, yaitu hari khusus untuk umat awam (dihitung berdasarkan peredaran bulan) melakukan atthasila. Lagi-lagi melaksanakan atthasila juga bukan merupakan sebuah kewajiban.

Atthasila adalah 8 latihan moral, yang dikembangkan dari pancasila atau lima latihan moral untuk umat awam. Pancasila berisi pedoman bagi umat awam untuk tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, dan tidak mengonsumsi zat adiktif dan memabukkan.

Di pelaksanaan atthasila, latihan moral itu ditambah dengan tidak makan selewat dari tengah hari, tidak menikmati hiburan dan wangi-wangian, dan tidak tidur di tempat yang mewah. Pada intinya, tujuan puasa dalam agama Buddha —mirip dengan tujuan puasa dalam agama lainnya— adalah untuk melatih diri mengendalikan nafsu.

 

Puasa dalam Agama Khonghucu

Dilansir dari Tirto.id, Pada waktu yang sama ketika bulan purnama atau tanggal 1 dalam kalender Buddha, umat Konghucu melakukan sembahyang di Litang. Sebelum bersembahyang, umat Konghucu dianjurkan untuk berpuasa. Tiga hari sebelum sembahyang, umat Konghucu harus terlebih dulu berpuasa. Puasa dalam Konghucu ini berbeda dari konsep puasa menahan haus dan lapar.

Puasa dalam kita, umat Konghucu, itu lebih pada berpantang. Bentuk berpantangnya beragam, tergantung kebiasaan seseorang. Jika seseorang terbiasa mengonsumsi daging, maka selama tiga hari sebelum sembahyang hari raya, mereka berpantang memakan daging. Tidak hanya soal konsumsi, bahkan urusan merokok hingga perilaku dan tutur kata bisa disertakan dalam berpantang.

 

Puasa dalam Agama Hindu

Dalam agama Hindu, Upawasa atau puasa dibedakan menjadi dua, yaitu wajib dan tidak wajib. Puasa yang wajib adalah puasa Siwa Ratri, yaitu dilarang makan dan minum dari matahari terbit hingg terbenam. Ada juga puasa Nyepi, yang dilakukan saat fajar hingga fajar lagi keesokan harinya. Puasa yang tidak wajib contohnya adalh puasa Odalan dan Anggara Kasih.

Puasa dalam Agama Yahudi

Dalam Yahudi Puasa untuk umat Yahudi bermakna menahankan diri keseluruhannya dari makanan dan minuman, termasuk air. Gosok gigi diharamkan pada puasa hari besar Yom Kippur dan Tisha B’Av, tetapi dibenarkan pada puasa hari kecil.

Umat Yahudi yang mengamalkan berpuasa sampai ke enam hari pada satu tahun. Dengan pengecualian Yom Kippur, puasa tidak dibenarkan pada hari Sabat, karena rukun menyimpan hari Sabat itu adalah menurut Alkitab (injil) ditentukan dan mengatasi hari-ari puasa berinstitusi rabbi kemudian. Yom Kippur adalah satu-satunya rukun yang mana ditentukan dalam Torah.

 

Puasa dalam Agama Katolik

Umat Katolik diajarkan untuk berpuasa dan berpantang. Puasa dan pantang merupakan latihan rohani untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, juga sebagai tanda tobat.

Puasa dilakukan pada Rabu Abu dan Jumat Agung, sedangkan pantang dilaksanakan pada Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa pra-Paskah hingga Jumat Agung. Saat berpuasa, umat hanya dibolehkan makan kenyang sekali dalam sehari. Ketika berpantang, mereka menjauhi kesukannya masing-masing, misalnya pantang merokok.

 

Puasa dalam Agama Protestan

Dalam Protestan, keyakinan puasa Kristen Protestan tidak ada bedanya dengan katolik melawan keinginan dunia keinginan daging (manusia) yaitu puasa makan minum dan hal-hal yang tidak baik dalam tingkah laku juga pikiran.

Dalam protestan dan aliran protestan yang lain ada juga cara puasa dalam hal-hal tertentu selain puasa makan dan minum yaitu berpuasa mengenai rutinitas yang sering dilakukan yang paling disukainya.

Contohnya: Puasa Tidak menonton TV atau puasa mendengarkan lagu selama 1 minggu, 1 bulan atau dalam jangka waktu tertentu. Ada juga contoh-contoh lain yaitu rutinitas dimana kalau sedang tidak berpuasa itu sulit di hindari Rutinitas seperti itulah yang di puasakan dalam Protestan, umat katolik juga biasa melakukan puasa ini, karna inti dalam puasa Kristen ialah menahan hawa nafsu, keinginan duniawi.

Tujuan berpuasa juga sama dengan Katolik sesuai ajaran dalam alkitab (injil), yang membedakanya hanya pelaksanaan dan tatacarannya. Puasa protestan tidak berpatokan pada hari-hari tertentu harus berpuasa, tetapi dalam keyakinan Protestan Pribadi masing-masing yaitu manusia itu sendiri yang menentukan hari untuk berpuasa yang dipilihnya sendiri selama 1 minggu, 1 bulan dan jangka waktu tertentu yang dipilihnya di harapkan bisa lagi berlanjut di bulan-bulan berikutnya.

Dalam melaksanakanya Pribadi yang berpuasa sebisa mungkin tidak di ketahui oleh kerabat, sanak saudara, dan orang-orang di sekitarnya di saat berpuasa, oleh sebab itu puasa Protestan tidak di umumkan secara resmi.

Agama Kristen Protestan secara resmi tidak mewajibkan untuk berpuasa yang berarti tidak memiliki bulan khusus untuk berpuasa, tetapi Ketua masing- masing Gereja mengajarkan pada umatnya menyempatkan diri agar sesering mungkin Berdoa dan Berpuasalah dengan keinginan, ketulusannya sendiri bukan karena paksaan.

Patokan berpuasa Umat Kristen Katolik dan Kristen Protestan sama-sama mengambil dasar dalam ajaran Alkitab.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Sumber: Antara I Tirto I Rappler

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed