by

Ragam Kebudayaan Masyarakat Kapuas Hulu

Kabar Damai | Selasa, 26 Juli 2022

Kapuas Hulu I Kabardamai.id I Sadar akan pentingnya pemahaman budaya terhadap generasi muda membuat Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kalimantan Barat menyelenggarakan kegiatan bertajuk Kenali Budayamu Cintai Negerimu: “Mengenal Budaya Tradisional Masyarakat Dayak Iban di Sungai Utik,”. Dilaksanakan di Dusun Sungai Utik, Kapuas Hulu, (18-23/7/2022).

Salah satu rangkaian kegiatan yang diselenggarakan antara lain mengenalkan budaya masyarakat di Kapuas Hulu yang disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan Kapuas Hulu, Alexander,S.Pd.

Siti Aisyah, Panitia dari Pontianak dalam sambutannya menyampaikan bahwa datang dan bergabung rombongan dari Pontianak ke  Kapuas Hulu ialah ingin mengetahui kebudayaan di Kapuas hulu agar dapat mencintai negeri Indonesia terutama kebudayaan di Dayak Iban Sungai Utik.

“Selama beberapa hari ini kita bersama akan belas tentang budaya yang ada disini secara bersama-sama agar semakin cinta akan budaya yang kita miliki,” ucapnya.

Lebih jauh, Kepala Bidang Kebudayaan Kapuas Hulu Alexander,S.Pd melanjutkan dengan menjelaskan apa saja bentuk kebudayaan dan tradisi masyarakat di Kapuas Hulu.

Diawal pemaparannnya, ia menuturkan bahwa budaya merupakan cara hidup yang tumbuh dan berkembang dalam kelompok manusia, diturunkan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Di Kapuas Hulu ada dua etnis besar yaitu Dayak dan Melayu. Adapula Tionghoa, Jawa dan lainnya.

Masyarakat Dayak dan Melayu memiliki berbagai kebudayaan hingga kini masih dilestarikan, misalnya saat hendak berladang ada ritual tertentu yang harus dilaksanakan serta ada pertanda yang masih dipercayai sejak masa nenek moyang dan harus dicontoh dan dilakukan hingga saat ini.

Baca Juga: Keragaman Indonesia dan Upaya Menghindari Konflik

Selain kebudayaan, bahasa menjadi alat dan kebutuhan suatu alat untuk berkomunikasi dengan sesama. Di Kapuas Hulu menggunakan beragam bahasa, namun yang lebih dominan adalah bahasa Dayak dan Melayu atau yang biasa dikenal pula dengan bahasa Hulu. Hal menarik dalam segi bahasa antar wilayah di Kapuas Hulu secara umum sama, namun ada perbedaan dalam logat atau penyebutan antara satu daerah dengan yang lainnya.

Pada sistem pengetahuan masyarakat Kapuas Hulu memiliki kemampuan dalam menciptakan peralatan hidup untuk mempertahankan kehidupannya. Misalnya alam sekitar, pada saat hendak berladang, masyarakat sudah mengetahui tentang penentuan suatu hal yang ditangkap dari alam seperti suara burung, bulan dan bintang, bentuk awan dan lain sebagainya.

Masyarakat Dayak utamanya secara turun temurun sudah mengetahui bahan makanan yang dapat dikonsumsi ataupun tidak berdasarkan dari hasil pengetahuan yang turun temurun dari leluhur.

Contoh dalam cara penentuan tersebut secara sederhana diketahui dari adanya atau tidaknya binatang yang hinggap pada tanaman berati dapat dikonsumsi dan begitupun sebaliknya.

Ia menambahkan, sistem kekerabatan dan organisasi yang ada pada masyarakat Kapuas hulu diatur oleh adat istiadat dan aturan yang ada dalam kesatuan lingkungan tempat masyarakat tersebut hidup. Hal tersebut yang dipatuhi dan diikuti berdasarkan aturan suatu wilayah.

“Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung,” ujarnya .

Menurutnya pula, dahulu di Kapuas Hulu manusia akan digolongkan dalam tingkatan geografis dalam pembentukan atau organisasi sosial. Dalam beberapa golongan, strata sosial dalam masyarakat masih sangat diakui. Agar dapat mengangkat strata, terdapat aturan adat dengan sistem dan ketentuan serta perhitungan tertentu.

Hal semacam ini juga berlaku dalam hal proses penyelesaian masalah dimana peranan adat masih sangat dihormati dalam proses penerapan.

Peralatan hidup dan teknologi pada masyarakat digunakan untuk digunakan dalam mendorong kehidupan.  Pada masa tradisional hingga saat ini, mempertahankan hidup menjadi sebuah hal yang wajib dilakukan. Alat-alat produktif yang digunakan sejak dulu misalnya lesung dan alu, kisar. Sedangkan sekarang sudah umum menggunakan mesin perontok agar lebih praktis dan ekonomis serta efisien.

Untuk senjata tradisional sangat penting digunakan untuk bertahan hidup. Pada umumnya, senjata yang digunakan di Kapuas Hulu adalah Mandau, Parang, tombak untuk berburu, sumpit yang diberi racun dan lain sebagainya. Untuk menyalakan api, masyarakat zaman nenek moyang di Kapuas Hulu menggunakan batu, bahkan ada pula yang menggunakan kayu.

Sedangkan untuk makanan tradisional di Kapuas Hulu yang paling terkenal adalah kerupuk basah, lemang, tempoyak, pekasam, peja, salai dan balor. Sedangkan minuman tradisional antara lain tuak dan papak.

Selama menempati permukiman. Masyarakat Kapuas Hulu juga menempati rumah panjang. Dalam kehidupan, masyarakat sangat mengendapankan musyawarah dalam penentuan ritual atau upacara adat.

Ketika sudah tidak ada jalan keluar dalam musyawarah maka akan ada proses penentuan yang benar dan salah dengan suatu cara yang telah ditentukan sebagai cara untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Tentu dilalui dengan upacara adat dan ritual-ritual tertentu terlebih dahulu.

Untuk mata pencaharian umumnya masyarakat  menggantungkan hidupnya dengan berburu dan meramu. Kini, masyarakat banyak yang sudah beternak. Selain itu, masyarakat juga berladang dengan menerapkan pendekatan kearifan lokal.

Kearifan lokal sangat dijaga dan dipertahankan. Masyarakat akan membuka ladang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Biasa, akan ada asas gotong royong dalam prosesnya.

Sistem kepercayaan dalam masyarakat etnik Dayak tidak dapat dipisahkan dari nilai budaya dan ekonomi sehari-hari yang sangat kompleks dan berkembang dan mengikuti tradisi yang diimplementasikan dengan upacara atau ritual adat.

“Masyarakat adat masih sangat memegang teguh tradisi yang mau tidak mau harus dilaksanakan,” pungkasnya.

Sadar akan pentingnya pemahaman budaya terhadap generasi muda membuat Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kalimantan Barat menyelenggarakan kegiatan bertajuk Kenali Budayamu Cintai Negerimu: “Mengenal Budaya Tradisional Masyarakat Dayak Iban di Sungai Utik,”. Dilaksanakan di Dusun Sungai Utik, Kapuas Hulu, (18-23/7/2022).

Salah satu rangkaian kegiatan yang diselenggarakan antara lain mengenalkan budaya masyarakat di Kapuas Hulu yang disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan Kapuas Hulu, Alexander,S.Pd.

Siti Aisyah, Panitia dari Pontianak dalam sambutannya menyampaikan bahwa datang dan bergabung rombongan dari Pontianak ke  Kapuas Hulu ialah ingin mengetahui kebudayaan di Kapuas hulu agar dapat mencintai negeri Indonesia terutama kebudayaan di Dayak Iban Sungai Utik.

“Selama beberapa hari ini kita bersama akan belas tentang budaya yang ada disini secara bersama-sama agar semakin cinta akan budaya yang kita miliki,” ucapnya.

Lebih jauh, Kepala Bidang Kebudayaan Kapuas Hulu Alexander,S.Pd melanjutkan dengan menjelaskan apa saja bentuk kebudayaan dan tradisi masyarakat di Kapuas Hulu.

Diawal pemaparannnya, ia menuturkan bahwa budaya merupakan cara hidup yang tumbuh dan berkembang dalam kelompok manusia, diturunkan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Di Kapuas Hulu ada dua etnis besar yaitu Dayak dan Melayu. Adapula Tionghoa, Jawa dan lainnya.

Masyarakat Dayak dan Melayu memiliki berbagai kebudayaan hingga kini masih dilestarikan, misalnya saat hendak berladang ada ritual tertentu yang harus dilaksanakan serta ada pertanda yang masih dipercayai sejak masa nenek moyang dan harus dicontoh dan dilakukan hingga saat ini.

Selain kebudayaan, bahasa menjadi alat dan kebutuhan suatu alat untuk berkomunikasi dengan sesama. Di Kapuas Hulu menggunakan beragam bahasa, namun yang lebih dominan adalah bahasa Dayak dan Melayu atau yang biasa dikenal pula dengan bahasa Hulu. Hal menarik dalam segi bahasa antar wilayah di Kapuas Hulu secara umum sama, namun ada perbedaan dalam logat atau penyebutan antara satu daerah dengan yang lainnya.

Pada sistem pengetahuan masyarakat Kapuas Hulu memiliki kemampuan dalam menciptakan peralatan hidup untuk mempertahankan kehidupannya. Misalnya alam sekitar, pada saat hendak berladang, masyarakat sudah mengetahui tentang penentuan suatu hal yang ditangkap dari alam seperti suara burung, bulan dan bintang, bentuk awan dan lain sebagainya.

Masyarakat Dayak utamanya secara turun temurun sudah mengetahui bahan makanan yang dapat dikonsumsi ataupun tidak berdasarkan dari hasil pengetahuan yang turun temurun dari leluhur.

Contoh dalam cara penentuan tersebut secara sederhana diketahui dari adanya atau tidaknya binatang yang hinggap pada tanaman berati dapat dikonsumsi dan begitupun sebaliknya.

Ia menambahkan, sistem kekerabatan dan organisasi yang ada pada masyarakat Kapuas hulu diatur oleh adat istiadat dan aturan yang ada dalam kesatuan lingkungan tempat masyarakat tersebut hidup. Hal tersebut yang dipatuhi dan diikuti berdasarkan aturan suatu wilayah.

“Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung,” ujarnya .

Menurutnya pula, dahulu di Kapuas Hulu manusia akan digolongkan dalam tingkatan geografis dalam pembentukan atau organisasi sosial. Dalam beberapa golongan, strata sosial dalam masyarakat masih sangat diakui. Agar dapat mengangkat strata, terdapat aturan adat dengan sistem dan ketentuan serta perhitungan tertentu.

Hal semacam ini juga berlaku dalam hal proses penyelesaian masalah dimana peranan adat masih sangat dihormati dalam proses penerapan.

Peralatan hidup dan teknologi pada masyarakat digunakan untuk digunakan dalam mendorong kehidupan.  Pada masa tradisional hingga saat ini, mempertahankan hidup menjadi sebuah hal yang wajib dilakukan. Alat-alat produktif yang digunakan sejak dulu misalnya lesung dan alu, kisar. Sedangkan sekarang sudah umum menggunakan mesin perontok agar lebih praktis dan ekonomis serta efisien.

Untuk senjata tradisional sangat penting digunakan untuk bertahan hidup. Pada umumnya, senjata yang digunakan di Kapuas Hulu adalah Mandau, Parang, tombak untuk berburu, sumpit yang diberi racun dan lain sebagainya. Untuk menyalakan api, masyarakat zaman nenek moyang di Kapuas Hulu menggunakan batu, bahkan ada pula yang menggunakan kayu.

Sedangkan untuk makanan tradisional di Kapuas Hulu yang paling terkenal adalah kerupuk basah, lemang, tempoyak, pekasam, peja, salai dan balor. Sedangkan minuman tradisional antara lain tuak dan papak.

Selama menempati permukiman. Masyarakat Kapuas Hulu juga menempati rumah panjang. Dalam kehidupan, masyarakat sangat mengendapankan musyawarah dalam penentuan ritual atau upacara adat.

Ketika sudah tidak ada jalan keluar dalam musyawarah maka akan ada proses penentuan yang benar dan salah dengan suatu cara yang telah ditentukan sebagai cara untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Tentu dilalui dengan upacara adat dan ritual-ritual tertentu terlebih dahulu.

Untuk mata pencaharian umumnya masyarakat  menggantungkan hidupnya dengan berburu dan meramu. Kini, masyarakat banyak yang sudah beternak. Selain itu, masyarakat juga berladang dengan menerapkan pendekatan kearifan lokal.

Kearifan lokal sangat dijaga dan dipertahankan. Masyarakat akan membuka ladang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Biasa, akan ada asas gotong royong dalam prosesnya.

Sistem kepercayaan dalam masyarakat etnik Dayak tidak dapat dipisahkan dari nilai budaya dan ekonomi sehari-hari yang sangat kompleks dan berkembang dan mengikuti tradisi yang diimplementasikan dengan upacara atau ritual adat.

“Masyarakat adat masih sangat memegang teguh tradisi yang mau tidak mau harus dilaksanakan,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed