by

Rafael Ray: Masyarakat Pontianak Sangat Plural dan Toleran

Kabar Damai I Selasa, 13 April 2021

 

Pontianak I Kabardamai.id I Kota Pontianak ialah ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Secara geografis, sebagaimana catatan pontianakkota.go.id, Kota Pontianak berada tepat dilalui oleh garis khatulistiwa, oleh sebab itu Kota Pontianak sebagai salah satu daerah tropis.

Secara keseluruhan, Kota Pontianak berbatasan dengan wilayah Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Kubu Raya.

Wilayah Kota Pontianak banyak terdapat parit dan sungai yang keseluruhannya berjumlah 61 sungai/parit. Sebagian masyarakat masih memanfaatkan sungai/parit untuk kebutuhan sehari-hari dan digunakan pula sebagai penunjang prasarana.

Baca Juga : Representasi Partisipasi Publik Ciptakan Pontianak Kota “ANDA” yang Toleran

Sebagai ibu kota provinsi, Kota Pontianak dihuni oleh berbagai suku, ras dan agama. Pola ini sudah ada sejak dibentuknya pada tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman.

Pernyataan bahwa Pontianak adalah kota yang plural sangat dibenarkan oleh Rafael Ray, perantau dari Nusa Tenggara Timur yang sudah menetap di Pontianak sejak tahun 1993. Menurutnya, walaupun terdiri dari banyak aspek yang beragam, Kota Pontianak selalu damai sejak dahulu hingga kini. Ungkapnya saat dihubungi via telepon. Minggu, (11/4/2021) sore.

Rafael yang juga saat ini menjabat sebagai sekretaris Flobamira, paguyuban NTT di Pontianak menyatakan bahwa karena keberagamannya, Pontianak dapat disebut sebagai miniaturnya Indonesia.

“Pontianak itu bisa dibilang minaturnya Indonesia, ada Perkumpulan Merah Putih yaitu perkumpulan semua suku dan etnis dari seluruh Indonesia di Pontianak yang senantiasa bertemu dan menjaga perdamaian. Bisa jadi baru Pontianak yang punya perkumpulan seperti ini,” tuturnya.

Bahkan, guna semakin mendekatkan antara satu dan lainnya Perkumpulan Merah Putih rutin melaksanakan pertemuan setiap bulannya.

“Perkumpulan Merah Putih selalu melaksanakan pertemuan setiap bulannya, melakukan coffe morning yang mana lokasinya berpindah-pindah disetiap suku atau etnis. Tujuannya untuk menjalin silaturhami dan hubungan baik agar lebih dekat pula,” pungkasnya.

 

Tan Kim Leng dan Hidup Toleran

Hidup berdampingan dengan toleran bukan hal baru di Pontianak. Berbagai suku dapat kita jumpai di Bumi Khatulistiwa ini. Ada suku Dayak, suku Jawa, Suku Tionghoa, Suku Bugis, dan lain sebagainya.

Kesemuanya warga dari latar belakang suku-suku tersebut tak lagi canggung bidup bersama dalam perbedaan. Keragama suku, adat, budaya, dan juga agama justru menjadi pemantik bagaimana mereka bisa hidup rukun dan toleran satu sama lain.

Antar warga yang berbeda itu pun saling menginisiasi untuk dapat saling menghormati, menghargai satu sama lain. Termasuk Ketika bulan Ramadan tiba.

Adalah Tan Kim Leng, penganut Konghucu. Dia memanfaatkan bulan Ramadan untuk membangun kedekatan dengan umat muslim. Caranya, melalui acara buka puasa bersama orang jompo dan anak yatim piatu yang beragama Islam.

Melansir Liputan6.com, Tan Kim Leng yang berambut panjang memang tinggal di lingkungan masyarakat yang mayoritas muslim. Rumahnya di Jalan Imam Bonjol, Pontianak, berdampingan dengan kediaman umat Islam. Bahkan, rumah Tan Kim Leng bersebelahan dengan Masjid Pancasila yang sarat dengan aktivitas umat muslim.

Bila Ramadan tiba, dia selalu membagikan hartanya melalui acara buka puasa. Hal ini dilakukannya setiap Bulan Puasa. Tak heran bila sejumlah orang jompo dan anak yatim piatu di Pontianak sangat mengenal Tan Kim Leng. Bahkan, sebelum waktu berbuka, Tan Kim Leng juga membagikan angpau berisi uang kepada fakir miskin. Hal seperti ini pula yang dia lakukan bila Hari Raya Imlek.

Bagi anak yatim piatu, Tan Kim Leng sudah seperti keluarga atau kakek sendiri. Mereka tak ragu mencium tangan Tan Kim Leng, seperti mereka mencium tangan guru atau orang tuanya. Mereka melakukan hal ini sebagai tanda penghormatan.

 

Penulis: Rio Pramata

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed