Rabbi Yaakov Baruch: Museum Holocaust Sarana Melawan Rasisme dan Kebencian

Kabar Utama821 Views

Kabar Damai | Jumat, 04 Maret 2022

Minahasa I Kabardamai.id I Didirikanya Museum Holocaust di Minahasa merupakan upaya sadar dalam rangka menciptakan iklim yang beragam dan saling menerima, selain itu keberadaan museum ini juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat yang nantinya berkunjung kesana.

Hal tersebut diungkapkan Rabbi Yaakov Baruch dari Synagoge Shaar Hashamayim, Minahasa. Dalam peace talk forum yang diselenggarakan melalui zoom meeting, ia mengungkapkan bahwa museum ini didirikan pada 27 Januari 2022 bertepatan dengan International Holocaust Remember Day, Museum ini didirikan dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat Indonesia tentang bahaya laten dari dua hal yaitu rasisme dan kebencian.

Ia juga menambahkan bahwa dua hal yaitu rasisme dan kebencian sangat bahaya jika tidak kita lawan sejak dini yang dapat menyebabkan adanya holocaust. Holocaust lahir dari sikap arogansi pemimpin yang tidak mau menghormati kaidah-kaidah seperti hukum internasional, misalnya yang harusnya kita bisa saling menghormati kedaulatan negara itu kita bisa lihat seperti invasi Rusia ke Ukraina dapat kita pelajari seperti suasana Eropa awal tahun 30 dan 40-an.

“Dari museum ini, kami yang ingin lakukan bukan hanya untuk memerangi anti Yahudi tapi segela macamnya baik itu Islam fobia, anti Kristen, Anti Katolik, Budha, Hindu dan Konghucu itu kita perangi lewat museum,” ungkapnya.

Memurutnya, useum ini juga bertujuan membantu para siswa atau mahasiswa yang ingin belajar tentang perang dunia II dan ingin membuat skripsi atau tesis. Pengelola museum telah menyiapkan buku-buku dan juga berbagai program lewat video dari berbagai sumber untuk menjadi bahan pembelajaran.

Baca Juga: Forum Diskusi Urgensi Ranperda Jadi Perda; Wujudkan Pontianak Kota Bersama

“Karena dari pengalaman pribadi saya saat berkuliah S1, skripsi saya agak kesulitan dalam menyiapkan bahan namun karena bantuan dari seorang peneliti, professor dari Belanda sehingga saya dapat menyebabkan skripsi saya,”.

“Jadi saya pernah mengalami bagaimana susahnya mahasiswa di Indonesia mengakses tentang holocaust saat itu,” bebernya.

Tidak hanya melalui buku dan video, para pengunjung juga dapat bertemu dan difasilitasi untuk bertanya langsung dari para surviver holocaust.

“Sekarang dengan adanya museum atau Holocaust center ini kita bisa memberi kemudahan bagi siswa atau mahasiswa yang ingin memerlukan bahan karena disini ada berbagai buku dan video dan juga bisa menyimak kesaksian-kesaksian dari para surviver,” kata Rabbi Yaakov.

Terakhir, ia mengyatakan bahwa semua yang telah dilakukan intinya untuk edukasi. Ia juga bersyukur bahwa darisana muncul atensi dari masyarakat yang berkunjung, berdialog dan belajar bersama.

“Sampai saat ini animo masyarakat masih sangat banyak, masih banyak yang berkunjung dan juga ingin belajar dari berbagai latar belakang yang ternyata baru mengetahui tentang holocaust saat ini dan mereka dapat tahu tentang kekejaman Nazi saat itu, jadi ini murni untuk edukasi,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *