Quraish Shihab Tanggapi Soal Bolehkan Seseorang Percaya Pada Ramalan

Kabar Utama404 Views

Kabar Damai | Kamis, 10 Maret 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Melalui kanal youtube  Najwa Shihab, Quraish Shihab menjelaskan tentang bolehkan seseorang mempercayai ramalan dalam kehidupannya. Terlebih ramalan adalah fenomena yang selalu ada dan digemari serta dipercapai oleh banyak masyarakat dimanapun berada.

Diawal pemaparannya, ia menyatakan bahwa ramalan itu banyak, dapat dilihat sekarang peramal atau ramalan itu semua berkaitan dengan sesuatu yang tidak nyata atau gaib.  Gaib ini bisa dibagi menjadi dua. Ada gaib hakiki atau mutlak yang mana merupakan hanya Tuhan yang tahu. Itu contohnya antara lain kiamat. Oleh karenanya, jika ada yang meramal kapan kiamat, itu tidak bisa dipercaya karena merupakan gaib yang hakiki.

Kemudian ada pula gaib nisbi. Gaib nisbi ini ada bermacam-macam, seperti diantaranya gaib nisbi relative. Gaib ini ada rinciannya lebih jauh. Kita tidak akan masuk kedalam rincian itu, tetapi sebagian diantaranya itu informasi gaib yang diterima melalui mimpi. Disini kita harus berhati-hati mengenai mimpi karena mimpi ada tiga jenisnya.

Pertama, mimpi yang merupakan informasi dari Tuhan,itu yang pasti dialami nabi-nabi yang bermimpi sehingga itu benar, seperti yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan Muhammad. Ada pula mimpi dalam keadaan yang dialami seseorang sewaktu tidur. Contoh, dia mimpi tercekik, darisana ada mekanisme dari dirinya dan ketiga mimpi dari setan yang kita harus hati-hati. Itu sebabnya mimpi seseorang hendaknya berhati-hati menceritakan mimpinya.

“Jika berbicara lebih jauh tentang gaib nisbi, ada gaib nisbi yang diramalkan karena indikator-indikatornya ada. Ada ilmu Fuurologi yang merupakan ramalan namun berdasar indikator yang ada, yang jelas kita tidak boleh percaya kecuali yang disampaikan oleh Al-quran dan Nabi SAW. Itu wajib kita percaya,” tuturnya.

Dalam mimpi, tidak dapat semerta-merta dipercayai. Harus ada unsur rasional darinya agar jelas dan tidak menyebabkan kesesatan.

Baca Juga: Mengatasi Quarter Life Crisis Menurut Quraish Shihab

“Kita tidak wajib percaya atas nama agama, yang kita harus tolak kalau tidak ada indikator apalagi kalau irasional Kalau suprasional, karena memang ada orang-orang yang diberi oleh Tuhan kemampuan untuk membaca atau terbayang dalam benaknya,” tambahnya.

Dalam pelaku atau orang yang menerima mimpi dari Allah, ada istilah kekeramatan dan ada istilah penghinaan. Bisa kekeramatan itu anugerah dari Tuhan kepada orang-orang yang dekat dengan-Nya. Sehingga dia memandang dengan cahaya ilahi. Ada juga yang dihina Tuhan, melakukan hal-hal yang luar biasa tetapi itu berupa penghinaan terhadap dia.

“Kalau mau percaya pada peramal, lihatlah siapa yang menyampaikannya dan biasanya orang yang dekat pada Tuhan itu tidak mau mengaku bahwa ia peramal.  Karena dia akan rendah hati,” bebernya.

Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa mimpi baik sejatinya dapat dijadikan sebagai bentuk optimisme dan begitupun sebaliknya.

“Jika kita bermimpi, jika bagus maka optimislah. Karena optimisme mendorong kita untuk mengharap dan lebih dekat lagi pada kebaikan. Tetapi kalau buruk jangan ceritakan kepada orang. Kalau mau ceritakan mimpi, ceritakanlah orang yang paham,” terangnya.

Ia juga menambahkan bahwa satu hal yang harus diakui bahwa kita harus percaya adanya gaib. Gaib itulah yang antara lain yang membedakan manusia dengan binatang. Binatang itu hanya menjangkau yang diinformasikan panca indranya sedangkan manusia tidak. Dengan percaya gaib, kita akan merasakan bahwa wujud ini jauh lebih luas dari apa yang terjangkau oleh panca indra dan alat-alat yang membantu panca indranya.

Darisana wawasan dan pemahaman lebih luas, kegiatannya akan jauh lebih baik karena dia tidak hanya melihat wujud itu dari apa yang ada sekarang. Tapi ada wujud yang lebih jauh, tapi gaib yang rasional dan suprarasional yang didukung oleh ilmu agama.

Penulis: Rio Pratama

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *