by

Putra Mahkota Salman: Arab Saudi-Iran Berencana Damai dengan Berhubungan Baik

Kabar Damai  | Senin, 03 Mei 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Perseteruan dua negara muslim dunia yakni Arab Saudi dan Iran kini tengah memasuki babak baru dalam kerja sama regional.

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman mengatakan pihaknya menginginkan ‘hubungan baik’ dengan musuh bebuyutannya, Iran. Pernyataan ini menandai berakhirnya sikap keras Riyadh terhadap Teheran.

“Kami ingin Iran yang sejahtera dan memiliki kepentingan bersama satu sama lain, tetapi masalah kami adalah tindakan negatif mereka, seperti program nuklirnya atau dukungan untuk milisi terlarang di kawasan itu, atau program rudal balistiknya,” kata Putra Mahkota Mohammed bin Salman kepada Al Arabiya TV, dikutip dari Anadolu Agency, Sabtu, 1 Mei 2021.

“Kami bekerja dengan mitra kami untuk mengatasi masalah ini, dan kami berharap dapat mengatasinya dan memiliki hubungan yang baik dan positif dengan semua orang,” ujarnya.

Media Inggris The Financial Times baru-baru ini bahkan melaporkan delegasi Arab Saudi dan Iran telah bertemu di ibu kota Irak, Baghdad, pada 9 April.

Menurut laporan itu, pertemuan tersebut ditujukan untuk meredakan ketegangan antara rival regional. Serangan terhadap Arab Saudi oleh pemberontak Houthi Yaman juga menjadi bagian dari diskusi.

Laporan itu mengklaim kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan putaran pembicaraan lagi. Kementerian Luar Negeri Iran pada Kamis, 29 April 2021 menyambut baik pernyataan Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman tentang hubungan Teheran dan Riyadh.

Baca Juga : Jadi Bagian Silabus, Arab Saudi Masukan Epos Ramayana dan Mahabharata

“Iran dan Arab Saudi, sebagai dua negara penting di kawasan dan dunia Muslim, dapat memasuki babak baru interaksi dan kerja sama untuk mencapai perdamaian, stabilitas, dan pembangunan kawasan dengan mengadopsi pendekatan konstruktif dan berbasis dialog,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh dalam sebuah pernyataan.

 

Dipengaruhi Amerika Serikat

Pakar kawasan Timur Tengah Universitas Indonesia, Yon Mahmudi mengakui dia cukup terkejut dengan perubahan kebijakan antara kedua negara, khususnya dari Arab Saudi. Menurut Yon, penyebabnya tak lain berawal dari adanya perubahan kebijakan pemerintahan di Amerika Serikat dari Donald Trump kepada Joe Biden.

“Kedua negara ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan Amerika pada satu sisi, Arab Saudi sangat dekat dengan Amerika, sementara Iran anti terhadap Amerika,” kata Yon pada Jumat, kepada Anadolu Agency.

Sebenarnya dalam sejarahnya juga kedua negara pernah bersama dan menjadi teman dekat Amerika sebelum revolusi Iran.

“Nampaknya ada semacam relaksasi hubungan antara Amerika dengan Iran dan itu akan berimbas kepada Saudi,” kata Yon.

Dalam kasus Yaman, di mana Iran mendukung milisi pemberontak Houthi, kini tidak dilabeli sebagai teroris oleh Amerika Serikat. Selain itu, Biden menyatakan tidak lagi mendukung operasi Saudi di Yaman dengan mendukung pemerintah Yaman. Bahkan Joe Biden menyatakan Arab Saudi telah kalah di Yaman.

Ini membuka jalan bagi Arab Saudi yang juga terlibat dalam perang di Yaman untuk berdamai. Adapun pakar tentang Iran, yang juga kepala jurusan Sastra Arab Universitas Indonesia, Bastian Zulyeno, mengatakan rencana perbaikan kerja sama Saudi-Iran masih terlalu awal.

“Langkah ini masih terlalu kecil, ini langkah kecil pertama. jadi masih belum bisa diprediksi ke depannya akan seperti apa,” kata Bastian.

Menurut Bastian, perubahan pendekatan Arab Saudi terjadi karena negara itu telah banyak menghabiskan dana untuk membiayai pasukan pemerintah Yaman selama kurang lebih lima tahun. Bastian mengatakan penyebab lainnya adalah motif ekonomi dari Arab Saudi maupun Iran.

Sebagai negara penghasil minyak terbesar di Timur Tengah, Iran dan Arab Saudi berkepentingan mengekspor minyak ke China guna mengurangi kerugian mereka akibat harga minyak yang beberapa tahun terakhir ini mengalami penurunan tajam.

Dengan melakukan perdamaian, kedua negara akan sama-sama diuntungkan oleh perdagangan minyak dengan China. Sementara China berkepentingan dengan dua negara penghasil minyak itu untuk membuka jalur sutera ke Eropa melalui Timur Tengah.

Perubahan kebijakan kedua negara ini akan mempengaruhi tidak saja kawasan Timur Tengah, tetapi juga antar negara-negara berpenduduk muslim di dunia, seperti Indonesia dan Pakistan yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Selama ini Iran dan Saudi saling berebut pengaruh di kawasan Timur Tengah. Bahkan keduanya juga saling melempar tuduhan.

Iran dipandang banyak terlibat di dalam berbagai konflik di kawasan, seperti di Irak, Lebanon, dan Suriah. Sementara dalam persepsi Iran, Saudi dilihat terlalu mencampuri urusan negara-negara di kawasan Timur Tengah, jelas Yon.

“Kerja sama kedua negara Ini akan mengurangi potensi konflik, ini juga berdampak ke negara-negara lain, termasuk bagi Indonesia,” kata Yon.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Sumber: Pikiran Rakyat I Financial Times

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed