by

Pura Adya Dharma Menuntun Manusia Menuju Pada Kebenaran Tertinggi

-Peacetrain-121 views

Kabar Damai | Kamis, 29 April 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Angin di pagi hari bergerak menari mengisi ruang udara, sedang mentari masih malu-malu perlihatkan hadirnya. Langit sedikit gelap kala itu, masih tertutup embun di pagi buta, mungkin kota Salatiga juga enggan berpisah dengan rombongan Peace Train Indonesia (PTI) 12.

Benar, tanpa terasa PTI12 telah sampai di hari terakhir pada  Minggu, (26/4/2021 ). Hari terakhir itu, diawali dengan kunjungan ke satu-satunya Pura di Kota Salatiga, yaitu Pura Adya Dharma.

Pura Adya Dharma terasa meneduhkan sanubari, panorama pegunungan Merbabu yang mengelilinginya menjadi lukisan alami Pura ini. Dipenuhi dengan pohon hijau, dengan nyanyian deru angin, rasanya salah satu pilihan  terbaik dalam hidup adalah berkunjung ke tempat ibadah umat Hindu ini.

Kedatangan rombongan PTI12 disambut suasana penuh suka cita oleh dua laki-laki berwajah penuh keteduhan. Mereka Romo Wiku Satya Dharma Telaga, yang merupakan Pandhita Pura Adya Dharma dan Mangku Nyoman di Pura ini yang berlokasi di Jalan Purasari, Desa Bendosari, Kecamatan Argomulyo, Salatiga.

Baca Juga : PTI 12, Jalan – Jalan ke dusun toleran di Thekelan – Merbabu

Menurut Romo, Adya memiliki arti tempat tinggi, sedangkan Dharma berarti kebenaran. Sehingga dapat diartikan Pura Adya Dharma adalah mengisyaratkan bahwa manusia memiliki jasmani dan rohani yang sedang menuju pada kebenaran untuk mencapai titik tertinggi, yakni kesejatian dalam hidup.

Pura sendiri dibagi menjadi tiga area, diluar disebut dengan nista mandala, di tengah yaitu area kedua disebut Matta Mandala fungsinya untuk kegiatan sosial, kegiatan sekolah mimggu, ataupun kegiatan rapat, terakhir dibagian utama yaitu area ketiga disebut utama mandala tampat untuk ibadah dan sembahyang.

Di area Matta Mandala, Romo selanjutnya, mulai menjelaskan mengenai sejarah pendirian rumah ibadah ini beserta kehidupan harmonis di tengah pluralitas beragama di daerah tersebut.

“Pura Adya Dharma adalah tempat peribadatan agama Hindu tertua di Salatiga. Bediri pada tahun 1995 kemudian diresmikan tahun 2000 oleh H. Mardianto, selaku gubernur Jawa Tengah. Nama asli agam Hindu sendiri adalah Tana Dharma yang memberikan nama Hindu nadalah menteri agama pada tahun 1959,” tandas Romo.

 

Agama Buddhi

Agama Hindu juga orang Jawa menyebut dengan agama Buddhi artinya agama tingkah laku yang baik, lalu juga disebut Syiwa Buddha yaitu agama peninggalan Sriwijaya. Karena  tetap ingin melestarikan  Sana Tama Dharma, masyarakat juga melestarikan agama leluhur kami yaitu kejawen bersama dengan ajaran Hindu.

Setelah menerima penjelasan rombongan PTI12 kemudian diajak untuk melakukan ibadah di Pura Adya Dharma. Saat melakukan peribadatan, angin ikut berhembus menambah kekhidmatan dalam melakukan ibadah

Saat sembahyang tangan diletakan di atas embun-embun berarti menyembah kepada Tuhan, jika tangan ada di alis berarti menghoirmati pada manusia, terakhir jika tangan ada di pusar berarti menghormati pada butakala (makhluk di bawah manusia).

Setelah sembahyang, di akhiri dengan percikan di kepala, pembasuhan diwajah dan meminum sedikit airnya. Percikan air tersebut dilakukan agar dapat penerangan dan kesucian dan supaya dapat Wara Nugraha berkat dari yang Widhi Tirta Amerta.

Di Pura Adya Dharma juga memiliki lambang naga pada bendera yang berarti Naga Geni (Kemakmuran) dann berhubungan dengan Dewi Sri, Dewi Kemakmuran. Naga Geni adalah magma kekuatan alam sedangkan Naga Taksala adalah lambang angkasa.

Lebih lanjut Romo menjelaskan, “Makanan yang ada disini misalkan buah, sebelum dimakan harus di doakan, kita sebenarnya tidak memiliki apa-apa semua adalah milik tuhan. Sehingga kita serahkan dulu kepada tuhan, baru sisanya untuk kita nikmati.”

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed