by

Puja Mandala, Inspirasi Toleransi dari Pulau Dewata

Kabar Damai I Sabtu, 12 Juni 2021

Nusa Dua – Bali I kabardamai.id I Pulau Bali yang kenal pula sebagai Pulau Dewata tak hanya memanjakan pengunjung dengan berbagai kekayaan pariwisatanya. Di pulau yang dijejali ribuan Pura ini juga menyuguhkan potret toleransi yang dapat kita jadikan inspirasi dalam mewujudkan kerukunan dan kedamaian.

Hal ini sebagaimana tercermin di area Puja Mandala yang terletak di Desa Kampial, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

Puja Mandala adalah pusat peribadatan yang menghadirkan lima rumah ibadah di dalam satu kompleks. Terletak tepat di tepi Jl Raya Kurusetra, jalur utama menuju sejumlah obyek wisata ternama seperti Pura Uluwatu, Pantai Dreamland, Jimbaran, dan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana.

Puja Mandala berada tak jauh dari kawasan kompleks hotel Nusa Dua dan dapat dicapai dari pusat Kota Denpasar dengan berkendara selama 30 menit melintasi By Pass I Gusti Ngurah Rai.

Baca Juga: Empat Rumah Ibadah Berdampingan, Potret Toleransi di Kotawaringin Timur

Di desa yang memiliki pemandangan cantik menghadap Tanjung Benoa, terdapat lima pusat beribadatan bagi lima agama yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Buddha, dan Hindu.

“Di sini ada Mesjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Vihara Buddha Guna, Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Bukit Doa, dan Pura Jagat Natha,” terang Narko kepada Kabar Damai, Jumat, 11 Juni 2021.

Narko, driver yang menemani Kabar Damai selama di Bali ini menyebut bahwa keberadaan Puja Mandala tak hanya menjadi protret toleransi di pulau Dewata, melainkan menjadi ikon kerukunan antarumat beragama di Bali.

Tak salah memang. Saat Kabar Damai mengngungi Puja Mandala untuk salat Jumat di masjid Ibnu Batutah, potret kerukunan itu terlihat nyata, dimana para jemaat salat Jumat tak hanya memarkir kendaraannya di pelataran masjid, tapi juga meluber hingga pelataran gereja, vihara, dan pura.

Pengurus Mesjid Agung Ibnu Batutah Ustad Sholeh Wahid menceritakan, pendirian Puja Mandala yang memiliki arti “tempat beribadah”

Ide Menteri Joop Avee

Sumber Foto: ANTARA News

Mengutip Kompas.com (28/4), Puja Mandala bermula dari keinginan warga Muslim yang umumnya pendatang dari Pulau Jawa yang bermukim di sekitar Benoa dan Nusa Dua untuk memiliki mesjid sendiri. Keinginan yang muncul pada 1990.

Saat itu mereka merasa kesulitan menjangkau mesjid karena mesjid terdekat berada di Kuta, yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari tempat tinggal mereka.

Namun sebagai minoritas, mereka terganjal aturan Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama nomor 1/BER/mdn-mag/1969 tentang Pelaksanaan Tugas Aparatur Pemerintah dalam Menjamin Ketertiban dan Kelancaran Pelaksanaan Pengembangan dan Ibadat Agama oleh Pemeluk-Pemeluknya.

Keluhan mereka ditanggapi Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi saat itu, Joop Ave yang kemudian berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan tokoh-tokoh masyarakat setempat.

Menteri Joop Ave kemudian meminta agar dibangun suatu pusat peribadatan bagi lima agama yang ‘diakui’ di Indonesia ketika itu. Kehadiran tempat ibadah ini sekaligus memfasilitasi para karyawan dan tamu-tamu yang berkunjung untuk tetap bisa beribadah sesuai agamanya.

Kehadiran pusat peribadatan itu juga untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kerukunan beragama di Bali berlangsung dengan baik.

Sementara itu Ida Bagus Wika Krishna, doktor dari Universitas Hindu Indonesia menjelaskan saat itu Joop Ave menugaskan PT Bali Tourism Development Center (BTDC) untuk menyiapkan lahan.

Pada 1992, BTDC memilih sepetak lahan seluas 2,5 hektare di Desa Kampial yang menghadap ke Tanjung Benoan. Setiap rumah ibadah dibangun di atas lahan seluas 5.000 meter persegi.

Dalam penelitian Krishna berjudul “Kajian Multikultur: Ide-ide Imajiner Dalam Pembangunan Puja Mandala”, BTDC juga menentukan adanya lahan parkir bersama nonsekat bagi kelima rumah ibadah dan tinggi tiap-tiap rumah ibadah yang dibangun mesti seragam.

Pembangunannya mulai dilakukan pada 1994 dan berlangsung hingga 1997, dengan menyelesaikan bangunan Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, dan Gereja GKPB Bukit Doa.

Dalam sejumlah literasi disebutkan bahwa Vihara Buddha Guna selesai dibangun pada 2003. Namun menurut Krishna, vihara resmi digunakan 20 Desember 1997. Pura Jagat Natha menjadi rumah ibadah yang terakhir diresmikan, yaitu pada 30 Agustus 2004.

Jaga Toleransi dengan Gotong Royong

Haji Muhamad Jumali, yang juga Pengurus di Masjid Ibnu Batutah  menceritakan tentang toleransi yang sangat tinggi itu terjalin sudah bertahun-tahun lamanya.

“Kita di sini Puja Mandala tidak pernah ada masalah. Bahkan, kerjasama kita lebih baik,” kata Haji Jumali kepada Liputan6.com, Kamis, 24 Mei 2018 silam.

Menurutnya, antar umat beragama di Puja Mandala memiliki kerjasama yang sangat baik. Jelang ada kegiatan di sana masing-masing pengurus dari rumah ibadah mengadakan pertemuan dan melakukan koordinasi untuk kelancaran kegiatan berlangsung.

“Kita memang ada paguyubannya. Biasanya setiap akan ada acara keagamaan kita rapat dulu. Apabila di gereja sedang ada kebaktian dan ramai kebetulan di masjid parkirnya masih ada, kita persilahkan jemaat gereja menggunakan parkirnya. Pemuda-pemuda masjidnya juga akan membantu,” ujar pria keturunan Bugis itu.

Menariknya, Haji Jumali melanjutkan, pada suatu ketika kelima tempat ibadah itu pernah menggelar upacara agama berbarengan. Kendati bersamaan waktu itu tidak menjadi masalah.

“Pernah pada waktu itu kita di sini (Puja Mandala) bersamaan ada acara. Kita ada pengajian, di gereja kebaktian, sampai di Pura dan hampir semua menggunakan mikrofon. Tapi kita masing-masing tidak merasa terganggu,” ujar dia.

Di sisi lain, Heri seorang petugas keamanan di salah satu gereja di Puja Mandala mengaku merasa damai melihat kerukunan umat di Puja Mandala. Pria asal NTT yang sudah bekerja selama 1,5 tahun itu berharap kerukunan antar umat beragama ini terus berlanjut.

“Tentu sangat senang bisa beribadah berdampingan seperti ini. Walau kita beda-beda ibadah di tempat ini (Puja Mandala) tapi sebenarnya doa kita ditujukan untuk Tuhan yang sama,” ujar dia.

Menurutnya, hampir setiap hari komplek peribadatan itu ramai pengunjung. Mulai dari pengunjung yang ingin beribadah hingga yang hanya datang untuk berwisata.

“Banyak pengunjung dari luar Bali datang hanya untuk berfoto di tempat ini,” terangnya

Persis sebagaimana disaksikan Kabar Damai, Jumat, 11 Juni 2021, saat berada di Puja Mandala banyak pengunjung berswafoto, mengambil gambar, mengabadikan indahnya kerukunan dan perdamaian.

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed