by

Puasa Syawal dan Keutamaannya

Kabar Damai | Jumat, 06 Mei 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Ramadan telah berakhir, suka cita dalam menyambut syawal tengah dilakuka oleh seluruh muslim di dunia dan di Indonesia. Setelah berpuasa ramadan, ada keutamaan dan ibadah lain yang dapat dikerjakan oleh umat muslim yaitu menjalankan ibadah puasa sunah enam hari pada bulan syawal.

Puasa syawal memiliki banyak keutamaan. Keutamaan tersebut terdapat pada sebuah hadist sebegai berikut:

“Barangsiapa yang telah melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan berpuasa selama 6 (enam) hari pada bulan Syawal, maka dia (mendapatkan pahala) sebagaimana orang yang berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim No 1.164).

Melalui kanal NU Online, muncul beberapa pertanyaan tentang pelaksanaan puasa syawal dalam masyarakat. Beberapa pertanyaan tersebut seperti apakah puasa syawal haruslah dilakukan selama enam hari berturut-turut juga bolehkan membatalkan puasa sunnah syawal karena undangan makan ketika lebaran.

Menjawab pertanyaan tersebut, Ustadz Ahmad Muntaha AM menjelaskan bahwa dalam sabda Imam Muslim dijelaskan terdapat prinsip barangsiapa yang sudah melaksanakan puasa ramadan dan kemudian disusul dengan puasa syawal enam hari maka secara prinsip ia telah melaksanakan puasa setahun penuh.

Baca Juga: Puasa Sebagai Obat Hati Manusia

Perihal pelaksanaannya, secara prinsip pula asalkan sudah melewati tanggal satu syawal, pada kedua sudah mulai berpuasa.

Hal demikian karena dalam rangka cepat dalam melaksanakan sunah rasul berupa puasa enam hari pada bulan syawal sebagai rangka menyempurnakan puasa ramadan selama satu bulan penuh.

“Dalam hal ini tidak harus dilakukan secara berturut-turut,” ungkapnya.

Ketika tuan rumah keberatan dengan puasa seseorang karena sedang dalam suasana lebaran dan sudah disediakan hidangan yang banyak dan nikmat bagi tamunya.

Ia menjelaskan bahwa merujuk pada sahabat nabi, ketika dalam keadaan puasa syawal kemudian bertamu dan tuan rumah keberatan maka diperbolehkan untuk membatalkan puasa syawal dan dilanjutkan esok hari karena pada saat itu ibadah yang terbaik adalah memberikan kelegaan terhadap tuan rumah kepada para tamunya.

“Pada kondisi ini lebih utama memberikan kelegaan kepada tuan rumah, membatalkan puasa syawal kita dan memberikan kelegaan makan bersama,”. Tuturnya.

“Ingatlah bahwa ibadah bukan hanya puasa saja, ada ibadah yang sifatnya vertikal dan horizontal,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed