by

Psikolog Klinis Forensik Ungkap Dampak Kebangkitan Taliban bagi Indonesia

Kabar Damai I Jumat, 03 September 2021

Jakarta I kabardamai.id I Ketika ada berita tentang Taliban, dampaknya apa terhadap Indonesia? Membicarakan Taliban, kita harus kembali pada riwayat gerakan di Indonesia yang awalnya bermula dari gerakan separatisme, namun kemudian menjadi terorisme berbasis agama.

Kala itu semenjak tahun  1965-1998, gerakan terorisme terasa sedikit meredam, namun sebenarnya tidak.  Banyak kasus terorisme sejak tahun 1998 yang kita kenal dengan reformasi, namun justru bertambah empat kali lipat.

Banyak juga orang Indonesia, yang sudah keluar dari Indonesia dan melakukan ledakan di luar Indonesia. Dan tujuannya untuk membangkitkan semangat atau ghirah jihad.

Kasandra Putranto, Psikolog Klinis Forensik menjelaskan mengenai, bagaimana dampaknya bagi Indonesia, setelah Taliban kembali bangkit? adalah ketika orang Indoesia justru mendukung dan memberikan selamat atas kebangkitan Taliban, dan berharap mengambil bagian.

Lalu bagaimana dengan kelompok-kelompok yang mendukung Al-Qaeda dan ISIS di Indonesia? Seperti Jamaah Islamiyah (JI) yang memanag mendukung Al-Qaeda, kemudian Jamaah Ansharut Tauhid atau (JAT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Mujahidin Indonesia Barat, Mujahidin Indonesia Timur yang mendukung ISIS.

“Pertanyannya, apakah mereka semua tidur, Ketika Taliban kembali bangkit? Tidak! Mereka masih ada, sampai sekarang masih banyak yang ditangkap oleh densus,” ujar Kasandra dalam diskusi Taliban Menang Apa Dampaknya Bagi Indonesia? yang diselenggarakan oleh Aliansi UI Toleran via zoom meeting, Rabu (1/9/2021).

Kasandra juga menegaskan bahwa saat ini, kelompok terorisme melakukan penggalangan dana.  Jamaah Islamiyah menyebarkan ribuan kotak amal yang ada di seluruh Indonesia, dan dari dana itulah digunakan untuk membiayai latihan tentara mereka, juga merakit bom dan senjatanya.

Apa dampaknya bagi Indonesia?

Dampak bagi Indonesia yang pertama adalah Korban. Akan banyak masyarakat yang menjadi korban. Karena itu ketika kita membaca dan melihat berita harus bisa berpikir dengan kritis.

“Contoh jika ada perampokan Bank, mungkin itu bagian amaliyah, karena menurut yang mereka yakini harta orang kafir halal untuk diambil, darah orang kafir halal untuk ditumpahkan, dan leher orang kafir halal untuk dipenggal,” beber Kasandra.

Baca Juga: Afghanistan, Taliban dan Berakhirnya Mimpi Perempuan

Menurut Kasandra, inilah yang terjadi pada mutilasi tiga siswi SMA di Poso. Dimana ketiga pelaku yaitu Haristo, Irwanto dan Hasanuddin juga terlibat menjadi pelaku pemenggalan kepala desa, penembakan jaksa dan pendeta, penyerangan gereja Immanuel, bom di Poso, Palu, dan perampokan toko emas.

Kasandra mengaskan bahwa pada akhirnya Indonesia, akan mendapatkan lebih banyak korban.

“Akan ada lebih banyak orang yang terbangkitkan ghirahnya terbangkitkan semangatnya. Karena ingin menegakkan syariat islam secara penuh. Lalu menyatakan bahwa ini meniru Nabi Muhammad,” ungkap Kasandra.

Karena itu Kasandra berharap Indonesia bisa mengendalikan masalah keuangan dan kekuasaan. Tentunya masyarakat Indonesia juga harus lebih banyak berbicara, dan melindungi tanah air, menjaga budaya terutama. Karena selain Pancasila, NKRI, dan hukum yang penting lagi adalah budaya, seperti musik, dan warna warni keanekaragaman.

“Jika kita paham Bineka Tunggal Ika, kita tidak akan mempermasalahkan perbedaan. Karena potret Afganistan dulu juga demikian. Mungkin Taliban menjanjikan kehidupan yang moderat. Namun pada faktanya banyak perempuan yang takut akan kelangsungan hidup mereka, karena ekonomi akan menjadi sangat sulit.”

Bagaimana Pegaruh dari Kajian

Dampak kedua adalah yang disebakan karena pengaruh dari kajian. Kajian ini masif disampaikan secara langsung lebih dari 30% disampaikan melalui pengajian dari rumah, maupun masjid-masjid yang memang dikuasai kelompok radikal.

“Masyarakat harus bisa belajar mengidentifikasi lingkunagn di sekitar kita, karea kita tidak tahu bahwa mungkin saja mereka yang berprofesi sebagai ojek online, berjualan nasi, supir sepulang dari pekerjaanya mereka berkumpul dan melakukan kajian radikal,” tambah Kasandra.

Kasandra berpesan untuk seletif memilih kajian, karena persoalannya banyak dari tokoh yang memberikan kajian adalah orang radikal. Dan ini sebanyak hampir dari 35% kajian di Inonesia,  menjadi alasan penyebab, mengapa banyak yang terindikasi  radikal.

Selanjutnya Kasandra mengungkapkan bahwa, pada tahun 1990, Jamaah Islamiyah Indonesia mengirimkan kombatan ke Afghanistan. Tentunya setelah mereka pulan, mereka  kembali sebagai para ahli yang kemudian mengajarkan lagi paham radikal kepada rakyat Indonesia.

“Bom di katedral Makasar dan juga kasus penembakan di Mabes Polri adalah satu kelompok. Mirisnya pasangan suami istri ini baru menikah enam bulan dimana istrinya dalam kondisi hamil. Sehingga yang melakukan bom bunuh diri bukan hanya suami dan istri, tetapi juga anaknya yang masih di dalam janin.”

Apa yang harus kita lakukan?

  1. Pertama adalah menjaga kedaulatan NKRI
  2. Kedua, berani membela NKRI, menjadi individu yang memiliki jiwa nasionalisme.
  3. Ketiga yang paling penting adalah memberikan kesempatan belajar seluas-luasnya agar menjadi masyarakat yang lebih kritis lagi.

Terakhir Kasandra mengungkapkan bahwa tidak penting mengetahui mengapa mereka bisa terindikasi radikalisme, tapi yang terpenting adalah untuk mempelajari, dan menginvestigasi proses perubahan tersebut.

Yang penting adalah bagaimana kita bisa mengendalikan, jangan sampai ada anggota keluarga kita salah pengajian.

“Karena kita tahu metode mereka adalah rekruitmen, identifikasi diri, indoktrinisasi dan kemudian jihad yang disesatkan. Karena mereka meyakini mereka sedang berjalan di jalan agama. Mereka sengaja dibentuk dan mereka akan bangkit,” pungkasnya.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed