Privilege Menurut Pandangan Yenny Wahid

Kabar Utama1605 Views

Kabar Damai I Senin, o3 Januari 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Melalui kanal youtubenya, Yenny Wahid menjelaskan bahwa semua orang lahir dengan hak-hak yang sama, hak untuk mendapatkan hidup yang nyaman, aman dan terlindungi. Hak untuk berkembang, hak untuk mengekspresikan diri dan berbagai macam hak mendasar lainnya yang telah dideskripsikan dalam Hak Asasi Manusia.

Namun, menurutnya pula tidak semua orang tentunya dapat mendapatkan hak-haknya tersebut, lebih dari setengah penduduk dunia masih harus berjuang untuk bisa hidup secara layak bahkan untuk bisa makan tiga kali sehari. Banyak anak yang masih dieksploitasi dan bahkan masih ada sebagian orang yang hidup dalam ketakutan mencekam karena suasana konflik ditengah-tengah masyarakat mereka.

Disisi lain ada sebagian orang dimasyarakat yang terlahir dengan hak istimewa yang oleh sebagian kalangan disebut dengan memiliki privilege. Mereka tercukupi kebutuhan mendasarnya dan bahkan bisa mengembangkan potensi dirinya dengan sebaik-baiknya dalam proses mencapai kesuksesan.

Yenny menjelaskan bahwa sosiolog Raplh Linton membagi privilege kedalam tiga hal, pertama ascribed status, kedua assigned status dan ketiga adalah achieved status. Ascribed status adalah privilege yang dimiliki seseorang karena lahir dari golongan tertentu, sementara assigned privilege adalah status yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang individu yang dipercaya oleh masyarakat itu. Achieved status dimiliki seseorang atas usaha yang dilakukan oleh individu tersebut.

Berhubungan dengan adanya privilege tersebut, menurutnya kini menjadi sebuah hal yang kerap disalah artikan dan dianggap miring oleh sebagian masyarakatt.

“Kata privilege ini kini terdengar miring karena banyak opini masyarakat yang mengaitkan hal tersebut sebagai kunci emas yang otomatis bisa membuka semua peluang tanpa harus berusaha,” tuturnya.

Ia juga menuturkan, sebagai anak Gus Dur, ia dan saudara-saudaranya mendapatkan privilege berupa nilai Gus Dur yang kemudian digunakan untuk mengarungi hidup.

Baca Juga: Yenny Wahid: Tips Pentingnya Mengajari Life Skill Pada Anak

“Buat saya privilege yang sebenar-benarnya bukanlah harta atau kekayaan, bukan status sosial atau pangkat yang disandang oleh orang tua. Privilege sesungguhnya yang kami terima sebagai anak-anak Gus Dur adalah pemberian nilai dalam hidup kami yang menjadi bekal kami dalam mengarungi kehidupan,” terangnya.

Nilai tersebut menurutnya seperti nilai untuk terus berjuang, nilai untuk mau bekerja keras, nilai untuk tidak malu meminta tolong kepada orang lain, nilai untuk tidak merasa gengsi ketika harus bekerja dan yang paling utama adalah nilai memperlakukan orang lain secara setara. Nilai untuk melindungi, menghormati semua orang bukan karena status sosialnya tetapi karena mereka adalah manusia, dan setiap manusia punya hak untuk dihormati.

Karena nilai inilah, anak-anak Gus Dur tidak sungkan untuk bekerja apapun dan anak-anak Gus Dur hingga saat ini adalah anak yang ulet. Dalam dunia saat ini yang penuh tantangan, sesungguhnya inilah privilege yang sesungguhnya yaitu stamina dan kemampuan untuk berjuang agar bisa mendapatkan kesuksesan.

Terakhir, ia mengajak semua kalangan untuk melihat privilege dari sisi yang lain. Hal ini karena privilege yang utama sebenarnya ialah sikap mental dan juga ketanagguhan.

“Kita sama-sama tahu bahwa kesuksesan tidak bisa dicapai dalam waktu sekejab, butuh melewati banyak kegagalan bagi kita untuk mencapai kesuksesan. Jadi, privilege paling utama sebetulnya adalah sikap mental kita, ketangguhan kita,”.

“Jangan minder jika merasa tidak punya kekayaan atau bukan berasal dari status sosial atau ekonomi yang berkecukupan,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *