by

Presiden Soekarno, Warisan Pemikiran dan Islam Nusantara

Kabar Damai I Senin, 7 Juni 2021

Jakarta I kabardamai.id I Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para pahlawan, yang telah menumpahkan darah, tenaga, serta pikirannya untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan.

Setelah melalui perjuangan panjang, kemerdekaan Indonesia akhirnya bisa diproklamasikan oleh Ir Soekarno dan Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Soekarno kemudian dipilih sebagai Presiden Republik Indonesia, dengan didampingi Hatta sebagai wakilnya.

Pada 6 Juni, 120 tahun lalu, tepatnya 6 Juni 1901, Soekarno, sang proklamator dan Presiden pertama Indonesia, lahir ke dunia. Ia  lahir di Jalan Peneleh Gang Pandean IV, Nomor 40, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya.

Mengutip ulasan Kompas.com (6/6), dalam penuturannya kepada Cindy Adams, penulis otobiografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, Soekarno melukiskan saat-saat kelahirannya itu. Soekarno mengatakan, ketika ia masih anak-anak, ibunya Ida Ayu Nyoman Rai, pernah bercerita kepadanya tentang saat-saat kelahirannya.

Baca Juga: Islam Sontoloyo: Intipati Pemikiran Kritis Soekarno

“Engkau sedang memandangi fajar nak. Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing,” demikian Ida Ayu berkata kepada Soekarno kecil.

“Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar,” kata Ida Ayu kepada Soekarno.

Kusno dan Epos Mahabharata

Pada saat kelahirannya, kedua orang tua Soekarno memberinya nama Kusno. Soekarno mengatakan, dia sering jatuh sakit ketika masih anak-anak.

Hal itu membuat orangtuanya, seperti kepercayaan pada masa itu, merasa bahwa nama Kusno tidak cocok untuknya dan menyebabkan sakit-sakitan, sehingga harus diganti.

Soekarno mengatakan, ayahnya, Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang yang sangat menggandrungi epos Mahabharata.

Nama Soekarno pun diambil dari nama tokoh dalam cerita itu, Karna, yang dalam kisah itu merupakan putra dari Batara Surya atau Dewa Matahari.

Meski masih bersaudara dengan Pandawa, namun dalam Perang Bharatayudha, Karna memilih untuk melawan saudara-saudaranya itu dan berjuang di pihak Hastinapura, tanah airnya.

“Sambil memegang bahuku dengan kuat, bapak memandang jauh ke dalam mataku ‘Aku selalu berdoa agar engkaupun menjadi seorang patriot dan pahlawan besar dari rakyatnya. Semoga engkau menjadi Karna yang kedua,'” demikian Soekarno menuturkan ulang perkataan ayahanya.

Soekarno menambahkan, nama Karna dan Karno memiliki arti yang sama. Dia menyebutkan, dalam bahasa Jawa, huruf A menjadi O, sedangkan awalan Su berarti baik, paling baik.

“Jadi Soekarno berarti pahlawan yang paling baik. Karena itulah maka Soekarno menjadi namaku yang sebenarnya dan satu-satunya,” kata Soekarno.

Pemikiran Bung Karno

Dikutip Kompas.com  dari Harian Kompas, 6 Juni 2006, sebagai proklamator dan Presiden pertama, Bung Karno juga mewariskan pemikirannya kepada bangsa Indonesia. Ajaran pokok yang selalu didengung-dengungkan hingga menjelang wafatnya adalah persatuan bangsa.

Pada sambutannya di sidang kabinet 15 Januari 1966 di Istana Merdeka, Soekarno menegaskan bahwa persatuan bangsa adalah suatu keniscayaan.

“Bangsa harus menjadi bangsa yang kuat dan besar. Oleh karena itulah belakangan ini selalu saya menangis, bahkan donder-donder, marah-marah. He, bangsa Indonesia, jangan gontok- gontokan!” kata Bung Karno.

Bung Karno kerap menyitir ucapan Arnold Toynbee, yang menyatakan “A great civilization never goes down unless it destroy itself from within” atau “Sebuah peradaban besar tidak pernah runtuh kecuali dihancurkan oleh bangsanya sendiri”.

Juga ucapan Abraham Lincoln, “A nation divided against itself, cannot stand” yang berarti “Sebuah negara yang terpecah tidak akan sanggup berdiri tegak.”

“Mana ada bangsa yang bisa bertahan jika terpecah belah di dalamnya,” kata Bung Karno. Soekarno wafat pada 21 Juni 1970 di Jakarta dalam usia 69 tahun.

Putra sang fajar akhirnya dikebumikan di dekat makam ibunya di Blitar, Jawa Timur.

Bung Karno dan Islam Nusantara

Dalam artikelnya berjudul Bung Karno dan Islam Nusantara, yang diunggah di medcom, 18 Juni 2015 lalu, Asep Salahahudin menyebut bahwa  Bung Karno bukan hanya pemikir yang bergulat dengan tema-tema seputar demokrasi, sosialisme, nasionalisme, kapitalisme, marxisme, dan ide Barat lainnya, melainkan juga dengan islamisme.

Kalau hari ini ramai dipercakapkan gagasan Islam Nusantara, kata Asep, pada titik tertentu, wacana ini mendapatkan personifikasinya pada sosok Bung Karno walaupun dia tidak datang dari kelompok santri, tetapi pemikiran Islamnya melambangkan bagaimana Bung Besar menafsirkan keyakinannya secara progresif dan kontekstual.

“Di bawah asuhan HOS Tjokroaminoto dan sedikit banyak pengaruh dari pidato-pidato pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, terlebih saat diasingkan ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1934-1938, Bung Karno benar-benar merenungkan hakikat keberagamaannya secara subtil dan mendalam,” terang Asep.

Asep menambahkan, Tuhan yang selama ini dicarinya, dalam sepi dan keheningan tanah Ende telah ‘ditemukannya’.

Ia mengungkap, pergulatan ketuhanan yang tidak saja dihujamkan ke kedalaman sukma, tetapi juga direfleksikan dalam pikir seperti nampak pada korespondensinya dengan A Hassan yang kemudian dibukukan menjadi ‘Di Bawah Bendera Revolusi.’ Bung Karno menulis,

“Di dalam surat-surat itu adalah tergurat sebagian garis perubahannya saya punya jiwa. Dari Islamnya hanya raba-raba saja menjadi jiwa yang Islamnya yakin. Dari jiwa yang mengetahui adanya Tuhan, tetapi belum mengenal Tuhan, menjadi jiwa yang sehari-hari berhadapan dengan Dia.”

Di Ende juga Bung Karno suntuk membaca buku-buku Islam, seperti The Spirit of Islam (Sayyed Ameer Ali) dan The Rising Tide of Color, The New World of Islam karya Lothrop Stoddard.

Daulat Akal dan Kebebasan Berpikir

Tuhan (agama) dalam pikiran Bung Karno tidak dikonseptualisasikan secara abstrak, mistik, dan serbasilam, tetapi tampil dalam sebuah gambaran yang maju, modern, bahkan mengandaikan untuk dicarikan tautan sejarahnya pada masa kejayaan Islam, ketika nalar menjadi daulat utama dan kebebasan berpikir dirayakan sedemikian rupa seperti nampak saat zaman keemasan manakala figur semacam Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Kindi, para teolog Mu’tazilah, dan lainnya mengambil peran besar dalam tubuh keumatan.

“Otentisitas keberagamaan tidak diletakkannya pada sikap arkhaik kembali kepada kitab suci secara harfiah, tapi justru kembali pada kekuatan daya pikir, pada semangat zaman,” ulas Asep.

Pada ‘api Islam’ bukan ‘abu Islam’, sebab hanya ‘api’ yang bisa memberikan kepastian bahwa agama itu hadir membawa pencerahan, perubahan, dan pembebasan.

Sementara ‘abu’ hanya menyisakan keberagamaan yang jumud, stagnan, puritan, dan ramai sebatas pekik upacara ritualistik.

Seperti inilah pandangan Soekarno, “…Akal yang masih terikat pada tradisi pikiran sendiri dan belum akal merdeka, tak dapat kita pakai sebagai penyuluh untuk mencari kebenaran. “Agama adalah bagi orang yang berakal,” begitulah Nabi bersabda. Orang yang berakal hanyalah orang yang bisa menggunakan akalnya itu dengan merdeka. Orang yang akalnya masih terikat bukanlah orang yang berakal. Orang yang demikian itu adalah orang yang mengambing kepada tradisi pikiran sendiri. Orang yang demikian itu adalah kuddemensch… Sekali lagi, janganlah kita berkepala batu. Marilah kita mau, suka, rida kepada penelaahan kembali. Hasilnya, bagaimana nanti. Tetapi keridaan kepada penelaahan kembali dan her-orienteering, itulah syarat tiap-tiap kemajuan.”

Akal sebagai anugerah terbesar Tuhan, tidak hanya harus dirawat, tapi juga wajib digunakan untuk kepentingan bangsa dan agama.

Akal secara ontologis sebagai identitas utama yang membedakan manusia dari ternak.

Soekarno menulis, “Agama Islam hanya dapat berkembang betul, bilamana umat Islam memperhatikan benar-benar akan tiga buah sendi-sendinya: Kemerdekaan ruh, kemerdekaan akal, kemerdekaan pengetahuan… Akal dan Islam mempunyai tujuan yang sama, yaitu membimbing kehidupan umat manusia.”

“Maka, menjadi sangat mafhum seandainya Bung Karno menertawakan aktivis Islam politik yang menahbiskan khilafah sebagai sistem politik Islam yang harus diperjuangkan sebagai pantulan kewajiban beragama,” tandas Asep.

Bagi Bung Karno, sikap politik seperti itu justru secara sempurna melambangkan absennya nalar dalam kaidah berzikir umat Islam, defisit akal sehat.

Khilafah sangat relevan untuk konteks zamannya, tetapi menjadi historis ketika hendak diterapkan pada saat berbeda apalagi dalam latar tanah air yang berlainan budaya dan atmosfer sosial-politiknya. [kompas/medcom]

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed