by

Praktisi Pendidikan: Penerapan Nilai-Nilai Pancasila Harus Kritis, Terbuka dan Kontekstual

Kabar Damai | Senin, 4 Oktober 2021

Jakarta | kabardamai.id | Praktisi Pendidikan keragaman Yayasan Cahaya Guru, Muhammad Mukhlisin menilai penerapan nilai-nilai Pancasila perlu lebih kontekstual. Diantaranya membuka ruang-ruang perjumpaan antar siswa.

“Membuka ruang perjumpaan yang beragam penting untuk mempersiapkan siswa menghadapi masa depan” tegasnya dalam Webinar Andi Academy: Membangun Karakter Pelajar Pancasila, Tantangan Guru Dosen dan Lembaga Pendidikan, Jumat, 1 Oktober 2021.

Lelaki yang menjadi Kepala Sekolah Guru Kebinekaan ini menceritakan bahwa membuka ruang perjumpaan sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila. Dan itu selaras dengan kompetensi abad 21 yaitu kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikasi.

Yayasan Cahaya Guru secara konsisten menggali praktik baik guru dalam penerapan nilai Pancasila. Salah satu contohnya adalah peran penting Ibu Guru Maset Musiin di SMPN 3 Sawai, Seram Utara, Maluku.

Mukhlisin menceritakan bahwa ibu guru ini menjadikan sekolah sebagai tempat aman untuk anak-anak saat terjadi konflik sosial di Maluku pada tahun 1999-2004.  Dia menggunakan kearifan lokal “hapuama” yang berarti merangkul.

Meskipun begitu, Mukhlisin masih menemukan tindakan-tindakan yang bertolak belakang dengan nilai Pancasila. Dia menyebutkan, masih terjadi praktik pengutamaan, pengecualian dan diskriminasi yang terjadi di sekolah atas dasar identitas agama.

“Kami sudah menyampaikan kertas posisi kami ke pemerintah terkait ini, pemerintah perlu memperkuat prinsip penyelenggaraan pendidikan. Yaitu pendidikan diselenggarakan secara demokratis, berkeadilan, dan tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa” terangnya.

Baca Juga: Generasi Milenial dan Pancasila, Kunci Indonesia Emas 2045

Alumni Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini  berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap implementasi nilai Pancasila. Profil pelajar Pancasila perlu ditinjau ulang dan didefinisikan secara jelas, sehingga mudah diaplikasikan di sekolah.

“Indoktrinasi Pancasila tidak efektif untuk pembelajaran. Berikan kesempatan pada guru untuk memaknai pancasila sebagai ideologi yang terbuka, merespons tantangan zaman, dinamis, dan reflektif. Dengan demikian maka, siswa akan tertantang dan terpacu untuk berpikir kritis untuk menjawab berbagai persoalan” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama Staf Khusus Presiden, Ali Mochtar Ngabalin menyatakan bahwa penanaman nilai Pancasila harus dimulai sejak anak usia dini.

“Ajarkan mereka nilai kebersamaan, tidak boleh mengklaim kita benar sendiri” ujar lelaki yang akrab disaba Bang Ali ini.

Sementara itu, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Silverius Y. Soeharso menekankan pentingnya ekosistem penanaman nilai pancasila.

Oleh sebab itu, saat ini kampusnya sedang menyiapkan beragam rumah ibadah untuk menciptakan ekosistem pancasila buat mahasiswa.

 

Indonesia Tangguh Berlandaskan Pancasila

Sementara itu, momen peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2021 ini mengangkat tema Indonesia Tangguh Berlandaskan Pancasila.

Dilansir dari laman KemdikbudRistek, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menyampaikan pidato singkat mengenai Hari Kesaktian Pancasila. Menurutnya, Hari Kesaktian Pancasila harus dijadikan momentum untuk merefleksikan diri dan mempersiapkan Indonesia menjadi bangsa yang tangguh.

“Peringatan Hari Kesaktian Pancasila perlu kita jadikan momentum untuk merefleksikan hal-hal yang telah dan harus kita lakukan untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang tangguh di masa kini dan bangsa yang tangguh di masa yang akan datang,” ujar Mendikbudristek melalui pidato singkat yang diunggah di kanal YouTube Kemendikbudristek.

Sejak kemerdekaan diproklamirkan, Negara Kesatuan Republik Indonesia telah mendapatkan berbagai rongrongan yang mengancam kedaulatan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Rongrongan tersebut dimungkinkan karena faktor kelengahan dan kekurangwaspadaan bangsa Indonesia terhadap kegiatan yang berupaya untuk menumbangkan Pancasila sebagai ideologi negara.

Sebagai dasar negara dan ideologi, Pancasila telah menunjukkan kesaktiannya bahwa tidak akan tergantikan oleh paham apa pun. Jangan sampai Pancasila kembali terancam dengan paham-paham dan juga ideologi yang ingin menggantikan kedaulatannya.

Maka dari itu, dengan semangat kebersamaan yang dilandasi oleh nilai-nilai luhur ideologi Pancasila bangsa Indonesia tetap dapat memperkokoh tegaknya NKRI. Mari kita bulatkan tekad untuk tetap mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai sumber kekuatan menggalang kebersamaan untuk memperjuangkan, menegakkan kebenaran dan keadilan demi keutuhan Indonesia.

Sobat SMP selaku bagian dari bangsa Indonesia bisa turut mengamalkan nilai-nilai Pancasila, salah satunya dengan cara menerapkan 6 Profil Pelajar Pancasila. Keenam Profil Pelajar Pancasila tersebut ialah beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; berkebinekaan global; gotong-royong; mandiri; bernalar kritis; dan juga kreatif.

“Para Pelajar Pancasila itulah yang akan meneruskan estafet pembangunan Indonesia yang berkelanjutan dan berkeadilan di masa depan. Kepada para seluruh masyarakat Indonesia saya ucapkan selamat memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Dengan nilai-nilai Pancasila yang menyertai langkah kita, mari membangun Indonesia yang lebih tangguh, lebih inklusif, dan lebih mencerdaskan dengan Merdeka Belajar,” pungkas Nadiem.

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed