by

Praktik Diferensiasi Proses Hingga Produk Pada Kurikulum Merdeka Mata Pelajaran Sejarah di SMAN 1 Pontianak

-Kabar Utama-199 views

Kabar Damai | Jumat, 27 Mei 2022

Pontianak I Kabardamai.id I Implementasi kurikulum merdeka belajar tengah diberlakukan diberbagai jenjang pendidikan di Indonesia. Walaupun baru, namun penerapannya disambut baik oleh banyak guru karena merupakan wujud dari cita-cita pendidikan yang dikembangkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara dahulu.

Pada penerapannya kini, SMAN 1 Pontianak menjadi satu dari beberapa sekolah di Kalimantan Barat yang dipercaya memberlakukannya. Guru-guru khususnya pengampu mata pelajaran kelas X yang pada tahun pertama ini mulai menerapkan sistem baru ini didorong untuk mengembangkan proses pembelajaran yang lebih merdeka tidak hanya bagi dirinya namun juga bagi siswa-siswi yang ada.

Terdapat beberapa penyempurnaan pada kurikulum merdeka dari kurikulum-13 yang sebelumnya diberlakukan. Seperti tidak adanya Kurikulum Dasar (KD) dan Kurikulum Inti (KI) serta menggantinya menjadi Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang disesuaikan dengan fase pendidikan, selain itu diterapkannya pula diferensiasi belajar guna mengembangkan kreatifitas dan kemampuan siswa, hingga ada pula Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang mendorong siswa untuk dapat menjadi pelajar yang berpijak pada nilai-nilai pancasila melalui berbagai proyek yang disusun oleh satuan pendidikan.

Diferensiasi Proses dan Produk

Belajar dengan diferensiasi berarti dalam prosesnya siswa diberi kebebasan untuk dapat mengikuti alur belajar sesuai dengan minat dan bakat serta ketertarikan yang dikehendaki, walaupun demikian tentunya tetap sejalan dengan capaian pembelajaran yang ada. Siswa dapat memahami materi dan sekaligus melakukan implementasi dengan cara-cara yang menyenangkan hingga tercapainya merdeka belajar sesuai dengan ketentuan yang ada.

Proses belajar secara merdeka dengan pendekatan diferensiasi juga diberlakukan pada mata pelajaran sejarah di SMAN 1 Pontianak yang diampu oleh Rio Pratama. Pada setiap capaian pembelajarannya, guru senantiasa menyiapkan metode dan media pembelajaran yang menyenangkan, memanfaatkan perkembangan teknologi dan hingga memberikan refleksi dan pendekatan sesuai dengan relevansi kehidupan sehari-hari.

Walaupun penerapannya masih baru, Rio biasa ia disapa mengaku mengapresiasi penerapan kurikulum merdeka belajar saat ini.

“Jika diposisikan sebagai siswa, saya tentu akan menyukai penerapan kurikulum ini karena implemetasinya jauh berbeda dari yang saya jalani saat sekolah dulu. Kemudian jika diposisikan sebagai guru, saya menyukai penerapan ini karena guru diberi kebebasan dalam mengajar dan berkreasi sesuai dengan kebutuhan siswa yang sebelumnya telah dianalisis melalui pendekatan asesmen diagnostk diawal semester,” ujarnya.

Baca Juga: Terus Bergerak Menciptakan Terobosan Pendidikan dengan Kurikulum Merdeka

Ia tidak menampik bahwa masih perlu banyak belajar dan mendapatkan peningkatan kapasitas karena dalam beberapa hal masih mengalami kesulitan, namun kendala tersebut selalu dapat diatasi dan terdapat jalan keluarnya.

“Ketika menerapkan sistem baru, pada awalnya sempat mengalami kesulitan. Terlebih ketika siswa diberi kemerdekaan dalam belajar melalui diferensiasi. Dalam memfasilitasi pembelajaran, terkadang dapat mempersiapkan lebih dari dua rubrik penilaian dan lain sebagainya, namun seiring waktu dan terbiasa sehingga saat ini tidak terlalu sulit secara pelaksaannya,” jelasnya.

Pada proses pembelajarannya, Rio memberi kebebasan siswa dalam berkreasi. Diferensiasi diberlakukan sesuai dengan minat dan bakat siswa sehingga penerapan diferensiasi kemudian diberlakukan pada tahap proses dan juga produk yang dihasilkan.

Ia memberi contoh, misal pada ATP akhir semester II yang disediakan oleh pemerintah pada mata pelajaran sejarah, siswa diinstruksikan untuk membuat video dengan tema asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia. Walaupun produk yang dihasilkan siswa dalam proyek ini secara keseluruhan adalah video, namun ia tidak memberikan intervensi kepada siswa-siswanya jenis video seperti apa yang akan dibuat oleh siswanya, semua diserahkan sesuai dengan kesepakatan kelompok siswa yang diampunya sehingga berbagai jenis video dengan capaian tema yang disediakan oleh pemerintah dapat dibuat.

Selain itu, secara proses dalam proyek yang diberikannya juga terdapat nilai diferensiasi. Pembagian tugas atau peran dalam proyek diberikan sesuai dengan minat masing-masing siswanya, sehingga dalam proyek video tersebut, peran siswanya sangat beragam dan juga adil.

“Ada yang bertugas menjadi kameramen, editor, voice over, penulis naskah materi, ada yang tampil dalam gambar dan lain sebagainya. Tidak ada kewajiban setiap orang punya jobdesk yang sama, asal semua memiliki peran. Tugas guru memastikan proses dan progress berjalan sembari membimbing dan menjadi fasilitator yang baik” ujarnya.

Tanggapan Siswa

Belajar secara merdeka sesuai dengan minat tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap siswa. Oleh karenanya, tanggapan baik juga tentu dihaturkan oleh siswa yang telah melaksanakan proses ini.

Akram, siswa kelas X SMAN 1 Pontianak saat ditanya tanggapannya mengaku lebih senang belajar dengan cara dan pendekatan saat ini dibanding dengan cara yang sebelumnya didapatkannya.

“Biasanya belajar banyak yang cuma mendengarkan ceramah, kalau ada tugas juga tugasnya sama semua, peran dalam tugas juga sama semua. Jadi saat sekarang seperti ini, jauh lebih menyenangkan proses belajarnya,” ucapnya.

Hal serupa diucapkan Della, siswi kelas X di SMAN 1 Pontianak ini juga mengaku lebih suka belajar dengan penerapan diferensiasi dan merdeka belajar karena lebih menyenangkan, tidak terburu-buru materi dan lebih dapat mengeksplore kemampuan dirinya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed