by

PPKM Darurat, Gus Miftah Dukung Pemerintah Terkait Penutupan Masjid

Kabar Damai  | Rabu, 7 Juli 2021

Jakarta | kabardamai.id | Gus Miftah turut berkomentar soal aturan penutupan masjid saat diberlakukan PPKM Darurat. Gus Miftah mendukung kebijakan pemerintah termasuk soal penutupan masjid untuk memutus penularan Covid-19.

Gus Miftah dukung PPKM Darurat termasuk penutupan tempat ibadah disampaikan melalui unggahannya di Instagram, seperti dilihat pada Senin, 5 Juli 2021.

“Assalamualaikum wr wb. Dear Pemerintah, saya Miftah warga biasa, warga rendah, tidak punya jabatan apa-apa. Saya dukung penuh kebijakan Pemerintah untuk memberlakukan PPKM darurat, termasuk kebijakan menutup tempat ibadah,” tulis Gus Miftah.

Tak hanya soal penutupan masjid, Gus Miftah juga menyoroti soal kedatangan TKA asal China ke Indonesia di tengah situasi pandemi di tanah air yang semakin parah.

Gus Miftah beranggapan, sangat ironi di mana semua masyarakat diminta patuh untuk berdiam diri di rumah, tapi malah membolehkan 20 TKA China tetap datang ke RI.

Baca Juga: PGI Himbau Gereja Gelar Ibadah Virtual Selama PPKM Darurat

“Sebagai warga negara kami usul kepada Pemerintah, please kami meminta pada Pemerintah setop kedatangan warga asing untuk datang di saat PPKM ini,” tuturnya.

Gus Miftah juga mengaku akan mematuhi semua kebijakan pemerintah, akan tetapi ia meminta warga asing tidak lagi diizinkan masuk ke tanah air saat pemberlakuan PPKM Darurat lantaran hal itu ironi.

“Di saat PPKM Darurat diberlakukan, di saat kami mematuhi semua kebijakan Pemerintah, tetapi mata kepala kami dipertontonkan kedatangan warga asing ke Indonesia. Bukankah ini ironi,” ungkapnya.

Diketahui, tanggapan Gus Miftah terhadap kebijakan PPKM Darurat tersebut bertolak belakang dengan penilaian pendakwah kondang lainnya yakni Ustaz Abdul Somad (UAS).

UAS dalam sebuah video ceramahnya yang belum lama ini viral di media sosial, tampak emosi dan kecewa lantaran tempat ibadah ditutup selama PPKM Darurat.

Ia kecewa lantaran pemerintah menutup masjid selama PPKM Darurat, sementara tempat umum lainnya masih dibuka.

“Melarang orang ke masjid, tapi di mal, di pasar malah dibiarkan. Di mana letak hati kecilmu?,” ujar UAS dalam video ceramahnya itu.

UAS pun lantas menanyakan kepada pemerintah apakah mereka tak malu dengan Allah SWT lantaran telah menutup tempat ibadah selama PPKM Darurat.

“Tak malukah engkau nanti berjumpa dengan Allah? Di masjid orang hanya 5-10 menit, Hanya 5 menit saja di masjid. Sementara orang lain duduk lima jam di mal dan di pasar,” ujarnya, dikutip suara.com (6/7).

Menutup Semua Rumah Ibadah

Sebelumnya, Kementerian Agama akan meminta masyarakat agar menutup sementara tempat ibadah seperti masjid, gereja, wihara, klenteng dan pura selama pemberlakuan PPKM darurat pada 3-20 Juli 2021 di Jawa-Bali

“Kementerian Agama juga sudah menyiapkan peraturan peniadaan peribadatan di tempat-tempat ibadah di luar agama Islam seperti di pura, wihara, kelenteng dan sebagainya,” ujar Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Jumat, 2 Juli 2021.

Menag menambahkan, Kemenag akan mengeluarkan surat edaran yang mengatur pelaksanaan ibadah saat PPKM Darurat sekaligus menjadi penguat dari edaran sebelumnya.

Kemenag mengimbau agar masyarakat di wilayah PPKM Darurat tidak salat id berjamaah dan diminta salat di rumah masing-masing.

Kini Kemenag menyebut bahwa shalat Id berjamaah at ditiadakan dan diimbau digelar di rumah masing-masing. Begitu pula dengan kegiatan keagamaan lainnya di tempat ibadah ditiadakan sementara.

“Inti dari hasil rapat yang nanti akan kita turunkan menjadi Surat Edaran Menteri Agama yang akan kita sebarkan secara luas,” ujarnya.

DMI Menyambut Baik

Dalam video yang diterima Kompas.com, Kamis (1/7/2021), Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla (JK) menyebut langkah pemerintah tersebut menjadi upaya menyelamatkan umat dari penularan Covid-19.

“Salah satu cara untuk menghentikan laju daripada penularan Covid ini ialah membatasi orang berkumpul. Membatasi kerumunan. Hanya itu cara yang efektif,” kata Kalla.

Tempat ibadah, imbuhnya menjadi salah satu wilayah di mana orang biasanya berkumpul. Karena itu, pihaknya menyambut baik atas upaya pemerintah menekan laju Covid-19 tersebut dengan cara menutup sementara tempat ibadah.

“Rumah ibadah ditutup itu suatu cara yang baik untuk melindungi kita semua. Dalam agama Islam diutamakan untuk keselamatan sesama umat,” kata JK.

Dia kembali menekankan bahwa untuk menjaga keselamatan itu adalah dengan tidak berkumpul. JK memaparkan, langkah pemerintah untuk menutup tempat ibadah tak hanya dilakukan kali ini saja.

Tahun lalu pemerintah sempat menutup tempat ibadah saat Ramadhan dan membatasi Idul Fitri untuk menekan laju pertumbuhan virus corona.

MUI Dukung Penutupan Masjid: Untuk Menyelamatkan Jiwa

Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan, mengapresiasi apa yang telah dilakukan pemerintah. Menurutnya hal itu sejalan dengan Fatwa MUI terkait aturan ibadah di masjid yang masuk daerah yang tidak terkendali atau zona merah selama pandemi COVID-19.

Sementara itu, tambah Amirsyah, zona yang terkendali atau zona hijau sebaiknya tidak ditutup agar dapat berfungsi sebagai penguatan iman dan imun.

“Kebijakan PPKM kita apresiasi di satu sisi. Menutup itu kan sifatnya sementara dan itu di daerah sangat mengkhawatirkan, karena kategori zona merah. Tapi ini tidak hanya masjid, harus komprehensif. Semua yang menimbulkan kerumunan massa,” ujar Amirsyah, Rabu (30/6).

Untuk itu, ia menilai pengawasan PPKM Darurat itu harus berimbang. Jangan sampai hanya salah satu sektor. Sebab, semua sektor berpotensi menimbulkan pelanggaran prokes dan kerumunan. Bagi yang terbukti melakukan pelanggaran prokes harus diberikan sanksi yang adil agar menimbulkan efek jera.

“Kesannya tempat ibadah terus yang disorot, tempat lain gimana? Harus imbang. PPKM itu kan tidak satu sektor saja,” imbuhnya, dikutip dari kumparan.com.

Sesuai dengan aturan PPKM Darurat, menurutnya aturan tempat ibadah khususnya masjid tidak berbeda jauh dengan Fatwa MUI. Untuk itu, bagi yang berada di zona merah beribadah di rumah. Ditambah, penutupan ini sifatnya sementara.

Selain itu, ia juga meminta agar pengelola masjid menjadi contoh dalam penegakan prokes yakni penguatan iman, imun, sehingga aman dari COVID-19. Sebab, menurutnya masjid banyak yang menjadi contoh dalam literasi, sosialiasi dan edukasi warga terkait prokes.

“Intinya kebijakan PPKM mengutamakan menyelamatkan jiwa (hifdzun nafs), karena banyak yang terpapar dari corona,” pungkasnya. [suara.com/kumparan]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed