by

Potret Toleransi: Tiga Tempat Ibadah Berdiri Berdampingan di Karanganyar

-Kabar Utama-144 views

Kabar Damai I Rabu, 10 Maret 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Ada potret toleransi antar-umat beragama yang ditunjukkan di sebuah desa di Kabupaten Karanganyar dan menjadi contoh rukunnya kehidupan antar umat beragama di salah satu daerah Indonesia.

Tiga tempat ibadah berdiri saling berdampingan dan masyarakatnya hidup rukun dalam kebersamaan. Komunikasi antar pemuka agama menjadi kunci toleransi terjaga dengan baik.

Ada tiga tempat ibadah yang berdiri berdampingan di Desa Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Tiga tempat ibadah tersebut adalah Masjid Al-Mu’min, gereja Sidang Jemaat Allah Pancaran Berkat, dan Pura Agra Bhadra Darma.

 

Masjid Al-Mu’min

Masjid Al-Mu’min dibangun pada 1998. Masjid tersebut adalah kategori masjid umum yang memiliki luas tanah 200 m2 , luas bangunan 350 m2 dengan status tanah Wakaf. Biasanya, jamaah yang ikut shalat berjamaah berjumlah 50 sampai dengan 100 orang, jumlah muazin 5 orang, jumlah remaja 20 orang, dan jumlah khatib 3 orang.

Suroso selaku takmir masjid Al-Mu’min mengatakan, salah satu cara untuk menjaga kerukunan ialah harus saling menghormati.

“Untuk itu baik dari pihak masjid, gereja, maupun pura, akan saling berkomunikasi jika akan melakukan kegiatan,” ujar Suroso, kutip nu.or.id (26/7/2015).

 

Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA)

Gereja Sidang Jemaat Allah atau disingkat GSJA adalah salah satu sinode gereja Kristen Pentakosta di Indonesia yang bernaung di bawah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Selain PGI, GSJA juga anggota dari Persekutuan Injili Indonesia (PII).

Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah atau Assemblies of God adalah salah satu Gereja Pentakosta terbesar di dunia. Pada 2004, Gereja ini memilikii sekitar 15 juta orang anggota di seluruh dunia. 12.100 gereja di Amerika Serikat dan 236.022 gereja serta pos penginjilan di 191 negara di seluruh dunia.

Kantor pusat Assemblies of God ada di Springfield, Missouri, Amerika Serikat. Teologi Gereja ini didasarkan pada teologi Protestan yang menekankan doktrin Pentakostal seperti misalnya baptisan oleh Roh Kudus, berbicara bahasa roh, dan penyembuhan ilahi.

GSJA didirikan pada 1914 di Hot Springs, Arkansas, Amerika Serikat. Wakil dari 20 negara bagian dan beberapa dari negara asing berkumpul untuk membentuk sebuah persekutuan Pentakostal. Tujuan persekutuan ini adalah melindungi dan melestarikan hasil-hasil dari kebangunan yang terjadi atas ribuan orang percaya yang mengalami baptisan Roh Kudus di Azusa Street, Los Angeles, California.

 

Pure Agra Bhadra Darma Ngargosoyo

Pada saat pembangunannya, Pure Agra Bhadra Dharma tidak hanya melibatkan umat Hindu saja, tapi juga melibatkan masyarakat yang beragama Islam dan Kristen yang membantu tanpa diminta.

Maka dari itu, keberadaan Pure Agra tidak sekedar milik masyarakat Hindu saja, akan tetapi juga seluruh warga masyarakat Ngargoyoso. Seorang tokoh pemuda Ngargoyoso bernama Suparno mengatakan bahwa toleransi juga ditunjukkan warga Ngargoyoso pada perayaan Idhul Adha setiap tahunnya, termasuk tahun 2020 lalu.

Dalam kegiatan tersebut, warga Kristiani dan Hindu akan membantu menjaga keamanan, menata parkir, dan membantu menyiapkan prasarana ibadah bagi umat Muslim.

Daging kurban pada Hari raya Idhul Adha kemudian dibagikan kepada semua warga masyarakat tanpa terkecuali, baik itu Muslim, Kristiani, Hindu dan Penghayat Kepercayaan di Ngargoyoso.

Baca Juga: Satu Tungku Tiga Batu, Akar Budaya Toleransi ala Fakfak Papua Barat

 

Komunikasi Antarpemuka Agama

Tiga tempat ibadah tersebut berdiri di lahan tanah kas Desa Ngargoyoso sejak belasan tahun silam. Meski saling berdampingan, tercatat tak pernah terjadi gesekan antarumat beragama. Masyarakat hidup berdampingan dengan saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Ide pendirian tempat ibadah secara berdampingan ini dipelopori Kepala Desa Sri Hartono karena begitu beragamnya umat beragama di Desa Ngargoyoso. Kunci keharmonisan antara umat Islam, Kristen, dan Hindu di sana adalah komunikasi antarpemuka agama.

Pada Hari Raya Idulfitri, pihak majelis gereja memajukan kegiatan peribadatan sebagai upaya toleransi umat muslim yang menjalankan salat Id. Seyogiyanya, potret toleransi di Karanganyar ini menjadi pembelajaran berharga untuk toleransi di Indonesia.

“Ini Menjadi bukti bahwa di Ngargoyoso sangat harmonis sekali kehidupan masyarakatnya walau berbeda keyakinan yang dianut, namun mereka bisa hidup berdampingan dan rukun. Semoga Desa Ngargoyoso bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain yang memiliki warga dengan berbagai latar agama dan Indonesia kedepannya, menjadi kaca bagi negara-negara yang lain tentang kerukunan antar umat beragamanya,” kata Hudaya, ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Karanganyar, kutip jateng.kemenag.go.id (20/9/2019).

Kepala Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar, Ahmad Nasirin, berharap Moderasi beragama di desa Ngargoyoso ini selalu dijaga, jangan sampai terkikis oleh zaman.

“Saya berharap, semoga kedepan desa Ngargoyoso ini tetap menjadi desa yang sadar dengan moderasi beragama. Hidup rukun, ayem tentrem berdampingan adalah kunci kuatnya persatuan bangsa Indonesia ini.  Ada masjid, ada gereja dan ada pula pura yang masyarakatnya hidup rukun sejak dahulu, ini sangat luar biasa sekali. Bisa menjadi percontohan bukan hanya di Kabupaten Karanganyar saja, tapi bisa di seluruh Indonesia bahkan dunia,“ terang Nasirin.

Jika nantinya dunia ingin belajar bagaimana menjaga kerukunan antar umat beragama, silahkan datang dan belajar ke Ngargoyoso. Karena pada hakikatnya semua agama mengajarkan hal kebaikan, semua bercita-cita masuk ke surga. Hati tidak bisa dipaksa dalam hal agama, karena keyakinan itu sendiri-sendiri dan semuanya bertujuan baik. [ ]

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas

Editor: A. Nurcholish

Sumber: nu.or.id I jateng.kemenag.go.id

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed