by

Potret Toleransi di Ciputat, Satu Keluarga Muslim Tinggal di Lingkungan Gereja HKBP

Kabar Damai I Rabu, 16 Juni 2021

Tangsel I kabardamai.id I Potret toleransi umat beragama terlihat di Gereja HKBP Ciputat, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan.

Bagaimana tidak? Dilansir dari poskota.co.id (2/4), di lingkungan Gereja HKBP Ciputat, terdapat satu keluarga muslim yang tinggal dan menetap di sana.

Keluarga Adiyanto (51) bersama istrinya Kesi (41) dan ketiga anaknya. Mereka tinggal di sebuah rumah petak berukuran 4X7 meter.

Kesi menceritakan, sudah tiga tahun lamanya tinggal di lingkungan Gereja HKBP Ciputat. Rumah itu disediakan oleh pihak gereja.

“Sudah tiga tahun tinggal di sini. Nemuin natal itu sudah tiga kali sih. Rumah di sini sudah disediakan oleh pihak gereja, saya dan keluarga tinggal menempati saja,” ujarnya ditemui Poskota di kediamannya, Jumat, 2 April 2021.

Wanita asli Tegal ini mengaku, mulanya tinggal di dalam Terminal Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Di terminal, Kesi beserta suami dan anaknya tinggal sambil berjualan usaha warung makan serta warung kopi.

“Jadi kita usaha warung makan dan kopi di dalam terminal, sekaligus tidur di sana juga,” ungkapnya, seperti dikutip dari poskota.co.id.

Namun, Kesi tidak menyangka ternyata seorang yang menjadi langganan tempat warung makannya merupakan dari pihak Gereja HKBP Ciputat.

Baca Juga: Menilik Potret Toleransi di Bumi Serambi Mekah

Kesi beserta suaminya diajak untuk tinggal di lingkungan gereja sekaligus diminta bekerja sebagai tukang bersih-bersih.

“Orang gereja itu kasihan melihat anak saya yang paling kecil usia 8 tahun bermain di terminal. Karena itu saya sama suami diajak untuk tinggal di lingkungan gereja,” terangnya.

Kesi beserta suaminya akhirnya diajak terlebih dulu untuk melihat tempat tinggal di lingkungan Gereja HKBP Ciputat.

“Akhirnya saya sama suami memutuskan menerima tawaran pihak gereja. Sebab daripada bingung melihat anak kasihan tidak bisa sekolah kalau di terminal,” sebutnya.

Kesi beserta suaminya mulai bekerja sebagai petugas bersih-bersih dan membantu saat ada ibadah perayaan hari besar umat kristen.

Kesi mendapatkan upah gaji Rp 1 juta setiap bulannya. Sementara Adiyanto mendapatkan upah gaji Rp 3,7 juta setiap bulannya.

“Saya dan suami merasa bersyukur banget ada kehidupan lebih baik dari terminal. Di sini, kami bisa menyekolahkan anak dari hasil uang kerja,” sebutnya.

Gereja Tak Melarang Salat

Kendati memiliki kewajiban bekerja sebagai tukang bersih-bersih, Kesi mengaku pihak gereja tidak melarang jika dirinya bersama suami menunaikan ibadah salat.

“Saya juga bersyukur di sini pihak gereja tidak melarang kalau saya dan suami mau salat. Malah justru kalau sudah waktunya kami malah disuruh prioritaskan ibadah,” paparnya.

Tidak hanya salat, Kesi menyebut, ibadah puasa juga selalu diberikan toleransi kala waktu berbuka puasa.

“Sama kalau saat puasa menjelang buka sebelum magrib sudah diminta untuk istirahat atau lepas kerjaan. Bahkan kalau ada makanan halal mereka suka memberi. Kalau ada haram, mereka bilang maaf yah bu lagi ada makanan yang tidak sesuai beli saja diluar,” sebutnya.

Jejak Toleransi Islam-Buddha di Banten Lama

Potret toleransi juga dapat kita jumpai di Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Toleransi itu sudah berjalan selama ratusan tahun sampai saat ini.

Contoh yang paling nyata kuatnya toleransi di Kawasan Cagar Budaya ini yaitu berdirinya Vihara Avalokitesvara sejak 1652 sampai sekarang. Tak jauh dari vihara, berdiri juga sebuah masjid ikon Banten, yakni Masjid Agung Banten.

Dahulu, seperti dilansir dari kabarbanten.pikiran-rakyat.com, kesultanan Banten dikenal menjadi salah satu kerajaan Islam terkuat di bumi nusantara. Namun terlepas dari semua itu, di daerah ini tidak ada pengekangan untuk agama lain. Vihara itu untuk agama konghucu, juga ada sebagian yang beragama Buddha.

Pendirian vihara tidak terlepas kebesaran nama Sunan Gunung Jati. Dalam cerita sejarah disebutkan, ketika masa kejayaan Pelabuhan Karangantu mencapai puncaknya, banyak saudagar dari luar Banten berdatangan, salah satu di antaranya adalah Putri Ong Tin Nio dari Cina.

”Pelabuhan Karangantu telah mendatangkan banyak saudagar dari luar Banten,” kata Direktur Banten Heritage, Dadan Sujana, seperti dikutip dari Kabar Banten.

Singkat cerita, sesampainya di Banten ia memutuskan bermalam selama beberapa hari. Ternyata Banten membuat sang putri merasa nyaman, pada akhirnya iapun menetap.

Namun, kedatangan sang putri membuat beberapa warga sekitar merasa terganggu dan resah, karena khawatir kehadirannya akan merusak tradisi dan kepercayaan masyarakat.

Kekhawatiran warga sekitar terus berlanjut hingga berujung pada gesekan yang semakin memanas. Saat situasi demikian, Sunan Gunung Jati menegur dan meminta agar warga tidak berbuat semena-mena terhadap keseharian sang putri.

Karisma sang sunan membuat warga luluh.  Selang beberapa waktu kemudian ternyata Sang Putri menaruh hati pada Sunan, kemudian Putri Ong Tin Nio memutuskan untuk memeluk Islam dan menikah dengan Sunan Gunung Jati.

Melihat kuatnya kepercayaan pengikut Sang Putri, Sunan pun mendirikan sebuah vihara yang saat ini dikenal dengan Vihara Avalokitesvara. Meski sudah beberapa kali mengalami perubahan, cerita dibalik vihara ini masih melekat.

Saat ini vihara berada Jalan Raya Serang, Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

”Memang sudah tidak masuk ke dalam cagar budaya karena sudah beberapa kali mengalami perubahan bentuk,” tuturnya. [poskota/kabarbanten/pikiranrakyat]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed