by

Potret Baik Keberagaman di Sekolah Formal dan Sekolah Alam

Kabar Damai I Rabu, 06 Oktober 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Proses pendidikan merupakan hal yang penting, hal ini sebagai bentuk upaya sadar dalam meningkatkan pengetahuan akademik maupun pengetahuan atau kompetensi lainnya.

Saat ini, perkembangan zaman mengharuskan agar dapat terus maju dan dapat menyesuaikan diri pada keadaan. Skil untuk bertahan, berkolaborasi dan bekerjasama serta menerima keragaman menjadi hal yang penting dan semua itu dapat implementasikan melalui pendidikan.

Pendidikan juga dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Berkaitan dengan tempat, baik sekolah formal maupun sekolah alam dapat dijadikan sebagai pilihan. Berikut adalah potret baik keberagaman di sekolah alam dan formal yang ada di Pontianak, Lampung dan juga Denpasar.

Sekolah Alam Terpadu Cerlang Pontianak

Sri Wartati, Pendiri Sekolah Alam Terpadu Cerlang menjelaskan bahwa gagasan mendirikan Cerlang muncul dari hasil observasi terutama saat ia mengajar les yang, ia menemukan adanya komentar berbau sara yang dilakukan oleh murid-muridnya sehingga ketika ia merancang sekolah, hal tersebut kemudian menjadi salah satu hal utama yang diperhatikan.

Menurutnya pula, ia juga menyadari bahwa tuntutan terhadap keberagaman akan sangat besar saat anak-anak besar nanti. Seiring dengan berkembangnya globalisasi dan era dunia membuat anak-anak harus mampu beradaptasi, bersikap positif sehinggga dapat berkolaborasi dengan berbagai orang dari berbagai latar belakang.

Sekolah Cerlang berada Jl. Johar, pusat Kota Pontianak. Terdapat sebuah ruko yang dipinjamkan untuk sekolah ini. Siswa-siswinya dimulai dari usia dua tahun, hal ini karena konsep kebergaman dimulai dari beberapa hal seperti kemandirian, pola fikir positif dan sebagainya yang harus dibina sejak usia dini oleh orang tua. Usia yang belia akan lebih mudah dalam membina seiring dengan tumbuh kembangnya tentang keberagaman.

Baca Juga: Jurnalisme Keberagaman Mengikis Prasangka dan Bangun Pemahaman Antarsuku

“Saat ini, Cerlang sudah menerima siswa-siswinya hingga Sekolah Dasar kelas III dan IV sehingga keseluruhan telah ada Play Grup, TK dan juga SD dengan model PKBM, sehingga kesetaraan yang sifatnya non formal. Pilihan kepada non formal didasarkan pada supaya dapat lebih mudah dalam berkreasi,” jelasnya.

“Anak-anak Cerlang memang tidak banyak, terlebih memang karena untuk Play Grup dan TK satu guru hanya boleh membimbing delapan murid agar setiap anak dapat memiliki waktu dan kesempatan untuk bercerita setiap paginya,” imbuh Sri.

Diawal berdiri hingga sekarang, menurut Sri tidak terlalu banyak peningkatan jumlah siswa. Hal ini karena memang karena Cerlang tidak pernah melakukan promosi. Selain itu karena kesadaran masyarakat khususnya di Pontianak tentang rupa pendidikan masih sangat minim terlebih dengan tingkat literasi masyarakat yang rendah yang terdapat pada nomor 3 terbawah skala nasional.

Seiring dengan terjadinya pandemi Covid-19 diawal memang daring, kecuali saat kondisi sudah lebih kondusif seperti saat zona kuning dan menuju hijau para orang tua bersepakat untuk melakukan tatap muka. Kini, pelaksanaan kegiatan sudah full dilaksanakan secara tatap muka seiring dengan zona yang lebih aman di Pontianak.

Kembali pada permasalahan dan menganalnya anak-anak pada hal sara seperti telah dijelaskan diatas, menurut Sri dapat dilihat dari latar belakang Pontianak dan Kalimantan Barat memang sudah ada sejarah konflik panjang yang bahkan sudah ada sejak tahun 60-an yang sudah ada konflik etnis.

Bahkan, baru-baru ini juga merambat ke agama seperti halnya yang terjadi di Sintang. Potensi konflik cukup besar dan sejarah konflik yang panjang cukup berpengaruh pada anak-anak dan ditambah dengan berita tentang kekerasan dan juga konflik juga turut berseliweran dimedia sosial dan dapat diakses oleh siapa saja. Oleh karenanya, melakukan counter dengan mengajarkan nilai keragaman kepada anak-anak sangat penting dilakukan.

Keragaman di Sekolah Katolik, Bandar Lampung

Suster Vincentia, HK Guru BK SMP Xaverius 1, Teluk Betung Bandar Lampung menjelaskan bahwa Sekolah Xaverius 1 Teluk Betung berada ditengah kota Bandar Lampung, sudah berdiri sejak 57 tahun dan memiliki visi menjadi sekolah Katolik unggulan dan terpercaya dengan layanan cerdas, humanis, berkarakter, yakin yang ilahi dan kebersamaan serta peduli lingkungan. Lingkungan pada aspek ini dalam artian luas tidak hanya pada artian bumi namun juga dalam artian masyarakat.

“Sekolah ini memiliki lebih dari dua ratus delapan puluh siswa, walaupun berbasis Katolik namun dari jumlah tersebut juga ada penganut Kristen, Hindu, Budha dan juga Islam,” ujarnya.

“Begitupun dengan guru yang mana guru yang mengajar disana juga berasal dari berbagai macam ragam keimanan sesuai dengan kepercayaan yang dianut. Hal ini menjadi bukti bahwa sekolah ini terbuka pula pada keberagaman,” imbuhnya.

Secara formal, menurutnya anak-anak belajar keragaman melalui kegiatan OSIS melalui kegiatan kepada masyarakat berupa bersih-bersih dan layanan sesama.

Selain itu, juga melalui kegiatan seni dan budaya lokal Lampung yang mana anak-anak diajarkan untuk mengenal budaya Lampung sebagai rumah. Adapula melalui kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah.

Gerakan Rumah Pelangi di Denpasar

Rumah Pelangi berada di Denpasar, Bali. Menurut Johandi Sinaga, Pengurus Rumah Pelangi menyatakan bahwa Sekolah ini hadir dari adanya keresahanan seiring tingginya anak-anak yang putus sekolah dan tidak bisa membaca yang kemudian membuat ia dan rekan-rekannya membuat kegiatan dalam rangka membantu anak-anak dalam hal membaca, menulis, dan sebagainya.

Hal ini kemudian dilanjutkan dengan membuat sebuah gerakan berupa diadakannya bangunan berukuran 4×6 untuk mewadahi proses kegiatan yang kemudian diberi nama Rumah Pelangi. Penggunaan nama Rumah Pelangi karena adanya keberagaman yang ada disana.

“Awalnya, gerakan ini ada karena dipelopori oleh komunitas Katolik. Namun sadar akan pentingnya kolaborasi dan gerakan lebih banyak orang dalam rangka memajukan yang sudah dilakukan membuat berbagai orang dari latar belakang dan agama juga boleh bergabung,” bebernya. Saat ini, Rumah Pelangi diurus oleh anak-anak muda dan terus bergerak dan berkontribusi memberikan dampak baik bagi anak-anak disana.

 

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed