by

Polri: Kelompok Teror Kerap Bicara Kebebasan Berpendapat

Kabar Damai | Senin, 05 April 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Karo Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol Rusdi Hartono mengatakan kelompok terorisme kerap berkamuflase saat melakukan aksinya. Tak sedikit dari mereka yang menantang penindakan yang dilakukan aparat dengan kedok kebebasan berpendapat.

“Sering sekali terjadi di masyarakat ketika dia bicara bahwa ini kebebasan berpendapat padahal kami dari Polri tentunya bisa mengetahui latar belakang dari pada kelompok-kelompok ini,” kata Rusdi dalam Webinar yang digelar Public Virtue dengan tema Bom di Makassar dan Penembakan di Mabes Polri, Perspektif Toleransi dan Demokrasi, Minggu (4/4), seperti dikutip CNN Indonesia.

Baca Juga : Rasa Kemanusiaan yang Terkikis: Peristiwa Bom Makassar

Rusdi membeberkan, kebanyakan aksi teror akan didahului dengan narasi-narasi radikal, namun ketika mulai ditindak oleh aparat, mereka berkilah.

Rusdi menekankan pihaknya tentu tak akan serta merta melakukan penindakan pada kelompok yang memang tak dicurigai berafiliasi dengan tindakan radikalisme berujung terorisme. Apalagi, sambungnya, aparat kepolisian sangat mendukung dan sepakat terkait iklim demokrasi yang sehat.

“Bagaimana demokrasi di dalamnya toleransi pun hidup dengan sehat dengan cara cara seperti ini, demokrasi yang sehat toleransi juga sehat,” ujarnya.

Rusdi  pun kembali menegaskan penindakan terorisme yang dilakukan aparat kepolisian tak akan mengancam demokrasi yang ada di Indonesia.

“Tentunya yang terakhir kami ingin menjelaskan, menegaskan kembali bahwa penindakan aksi teror tidak mengancam demokrasi karena suara kritis itu tidak menjadi target sasaran daripada penanganan terorisme,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya oleh detik.com, sejumlah terduga teroris ditangkap oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri pasca-bom bunuh diri yang dilakukan L dan YSF di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Total ada 32 terduga teroris yang sudah ditangkap dari beberapa wilayah.

Dari 32 terduga tersebut, 18 orang ditangkap di Makassar. Mereka masuk kelompok Kajian Villa Mutiara dan berkaitan dengan L dan YSF.

“Penanganan terhadap pelaku, sampai siang hari ini Densus terus mengembangkan masalahnya. Telah diamankan sampai siang hari ini 18 yang diduga terlibat di dalam kasus Gereja Katedral di Makassar khususnya ini kelompok Villa Mutiara,” ujar Rusdi Hartono kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (1/4).

Fenomena Lone Wolf di Aksi Terorisme

Sebelumnya, terkait dengan fenomena lone wolf dalam aksi terorisme, Dr. Dedy Tabrani dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) mengatakan, sekarang ini banyak bermunculan serangan teroris di mana para penyerangnya adalah anak muda yang direkrut oleh jaringan kelompok teroris secara online yang kemudian disebut lone wolf.

“Benar sekali bahwa cara lone wolf dinilai paling aman agar jaringan mereka tidak terbongkar karena hanya terputus pada pelaku saja,” tegas Dedy dalam siaran pers yang diterima awak media, Jumat (2/4) malam.

Dia mengatakan, anak-anak muda sekarang banyak direkrut sebagai lone wolf melalui media sosial dan diarahkan untuk melakukan serangan dengan persenjataan minimal.

“Mereka dikendalikan dari jarak jauh melalui telepon genggam atau HP yang mereka miliki, dengan nomor yang sering berubah-ubah,” terangnya, seperti dikutip Tribunnews.com (5/4).

Dedy menambahkan, mereka tetap menyimpan nomor mentor atau ulama organik kekerasan. Semua biaya operasional dan lain-lain ditanggung sendiri oleh lone wolf tersebut.

Bahkan para mentor juga mempersiapkan konsep surat wasiat yang akan ditinggalkan kepada keluarganya.

Dalam beraksi, jika lone wolf tersebut diantar oleh seseorang yang ada di jaringan sel kelompok teroris maka dia bukanlah lone wolf.

“Kalau dia berangkat sendiri dengan menggunakan ojek online atau menumpang pada orang lain maka itu adalah lone wolf,” urainya.

Dedy mencermati, anak-anak muda sekarang menggandrungi untuk menjadi lone wolf karena masuk ke dalam satu barisan teror secara daring atau online yang tidak disibukkan oleh jadwal pengajian atau indoktrinasi yang dipersiapkan oleh jaringan.

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Editor:

Sumber: CNN Indonesia | Detikcom | tribunnews.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed