PGI Usulkan Materi Nilai Universal Agama dalam Buku Pelajaran Agama

Kabar Utama115 Views

Jakarta | kabardamai.id | Dalam situs resminya, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menerbitkan pernyataan Ketua Umum PGI Pendeta Gomar Gultom yang menyayangkan tentang beredarnya buku pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti bagi siswa kelas VIII SMP dan XI SMA terbitan Kemendikbud.

Buku tersebut terbit pertama kali pada 2014. Kini, buku tersebut masih menjadi perbincangan masyarakat sebab dinilai menyinggung agama lain. Meski demikian, Gomar Goltum mengimbau agar masyarakat tidak menanggapi hal itu secara berlebihan.

“Buku itu adalah mata pelajaran agama Islam. Isinya tentu mengenai pemahaman dan ajaran Islam, termasuk agama lain, seperti Kristen dan Injil. Tidak perlu ditanggapi. Tugas kita adalah memberikan informasi yang otentik tentang ajaran Kristen kepada murid-murid beragama Kristen, bukan menggugat isi pengajaran agama yang lain,” kata dia.

Gomar Goltum berharap, isi pelajaran agama di sekolah lebih mengutamakan pelajaran budi pekerti dan nilai-nilai universal dari agama. Pelajaran agama yang dogmatis di ruang publik hanya akan menciptakan segregasi dan permusuhan.

Pendidikan agama sangat berperan penting dalam menumbuhkan nilai-nilai toleransi antarumat beragama. Oleh karena itu, materi pelajaran agama mesti mengedepankan nilai-nilai universal agama dan budi pekerti.

Pendidikan agama semestinya perlu mendukung kerukunan antarumat beragama. Maka dari itu, perlu ada nilai-nilai universal dari agama dan budi pekerti yang harus dimasukkan dalam pelajaran agama dan disampaikan kepada peserta didik di sekolah.

Terkait usulan tersebut, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Maman Fathurrohman pada hari Minggu (28/2) menegaskan bahwa Kemendikbud selalu menjunjung tinggi semangat persatuan dan kesatuan antarumat beragama.

Kemendikbud menyambut baik tanggapan dan ajakan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) untuk mengutamakan persatuan insan beragama dengan cara pelajaran agama mesti diisi dengan substansi budi pekerti dan nilai-nilai universal dari agama.

Dilansir Kompas.id, Maman mengaku akan terus mengevaluasi penyusunan dan pembaruan buku teks peserta didik di satuan pendidikan. Dia juga akan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Agama jika memang butuh kajian ulang untuk materi pelajaran agama yang mendesak dilakukan.

Dalam menyusun kurikulum pendidikan agama, negara semestinya cukup mengacu kepada konstitusi dan tafsir hukum. Negara tidak perlu masuk ke ranah teologi yang memiliki ragam mazhab atau denominasi.

PGI memiliki harapan agar pemerintah segera menindaklanjuti isu tersebut agar pelajaran agama di sekolah tidak menjadi ganjalan serius di tengah upaya menjaga kerukunan antarumat beragama.

Selain Kemendikbud, Kepala Bidang Kajian Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Agus Setiawan juga turut merespons dengan mengatakan bahwa pemahaman setiap pemeluk agama berbeda, tergantung dari sudut pandang agamanya.

Hal tersebut harus dipahami dari pemeluk atau tokoh agama sehingga bisa menghormati ajaran agama lain. Misalnya, ajaran Kristen yang menyebutkan bahwa Nabi yang paling dicintai adalah Isa bin Maryam, bukan Nabi Muhammad. Maka, pemeluk agama Islam tidak perlu kecewa dan marah.

Buku pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti bagi siswa kelas VIII SMP dan XI SMA terbitan Kemendikbud mestinya memuat pembahasan tentang umat beragama yang harus pandai memosisikan diri.

Perdamaian dan toleransi mesti menjadi nilai-nilai yang ditonjolkan dalam setiap buku pelajaran agama, agama apa pun itu. Sebab kita tahu bersama, saat ini, banyak konflik yang mengatasnamakan agama tertentu.

Buku pelajaran agama mestinya membuat pelajar menjadi semakin toleran dan berwawasan luas, bukan malah membuat pemeluk agama tertentu menjadi semakin eksklusif. Mengawasi buku pelajaran agama adalah tugas kita bersama.[AJJ/Kompas]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *