by

Petuah dan Fatwa Tokoh Agama Efektif Imbau Masyarakat Patuhi Prokes

Kabar Damai I Senin, 05 Juli 2021

Jakarta I kabardamai.id I Pemuka atau tokoh agama adalah seorang yang secara emosional sangat dekat dengan masyarakat. Petuah dan fatwa tokoh agama sangat efektif dan mudah membuat masyarakat mematuhi protokol kesehatan (Prokes), terutama dalam menyikapi pandemi Covid-19 yang tengah mengganas akhir-akhir ini.

Dilansir dari Pusat Media Damai BNPT, pendakwah dan Penulis Muda Indonesia, Habib Husein Ja’far Al Hadar, S.Fil.I, M.Ag, mengatakan bahwa tokoh agama bisa memberikan nasihat melalui majelis-majelis yang mereka bina, atau bahkan sampai dalam bentuk fatwa.

”Dalam Islam hifdzul nafs menjaga nyawa, menjaga kesehatan itu menjadi salah satu dari tujuan agama Islam itu sendiri. Alquran juga menegaskan kita untuk menjaga nyawa kita dan nyawa orang lain,” ujar Habib Husein Ja’far di Jakarta, Jumat, 2 Juli 2021.

Ia menuturkan bahwa tokoh agama dapat berperan dalam melakukan imbauan, khususnya yang berbasis kepada nilai-nilai agama. Jadi imbauan menggunakan kutipan Alquran maupun hadis bahwa menjaga diri adalah pesan utama dalam agama khususnya agama Islam.

”Sehingga orang yang cenderung patuh pada imbauan-imbauan yang berbasis kepada spiritualitas seperti itu akan patuh kepada mereka (pemuka agama). Karena ada segmen masyarakat yang patuhnya kepada himbauan-himbauan yang bersifat religiusitas ini,” jelasnya, dikutip dari damailahindonesiaku.com.

Lebih lanjut menurutnya, ulama juga bisa mendorong masyarakat untuk saling bersolidaritas bersama melawan covid-19 ini. Solidaritas yang dimaksud adalah khususnya dalam segi saling tolong menolong satu sama lain. Ia mengungkapkan bahwa ini juga telah dilakukan oleh berbagai organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

Baca Juga: Fatwa MUI Berfungsi Jaga Kerukunan Bukan sebagai Dasar Kebijakan

”Mungkin memang sekarang waktunya untuk kembali digalakkan lagi imbauan itu, karena kita kan sedang menghadapi arus besar pandemi ke-2. Dan kecenderungan masyarakat sudah makin rendah kesadarannya dalam perang melawan Covid ini,” terangnya.

Habib Ja’far menambahkan bahwa, imbuan bisa juga dengan menggunakan fatwa sifatnya lebih mengikat. Menurutnya, bisa dibuat fatwa-fatwa yang mendukung Prokes, misalnya wajib memakai masker dan haram membuka masker di tempat umum. Wajib tidak berkerumun dan haram membuat kegiatan-kegiatan yang berkerumun.

”Paling penting adalah keteladanan, tokoh agama harus memberikan keteladanan, misalnya dengan mereka tidak menyelenggarakan acara-acara yang sifatnya kerumunan. Kemudian mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan acara-acara yang sifatnya kerumunan, seperti haul atau perayaan Idul Adha dan lain sebagainya,” terangnya.

Rukhsah/Keringanan Meninggalkan Syariat

Ia menyebut ada rukhsah atau keringanan dalam salat yaitu boleh meninggalkan syariat seperti salat Jumat, mengganti dengan salat zuhur kalau dengan salat Jumat itu membahayakan nyawa manusia. Dalam Alquran juga disebutkan ‘siapa bahwa yang menjaga satu nyawa, ia seperti menjaga seluruh umat manusia’.

”Sejauh ini saya melihat kontribusi edukasi itu sudah cukup besar dilakukan oleh tokoh-tokoh agama, misalnya mengenai salat jumat, baik Majelis Ulama Indonesia (MUI) maupun NU dan Muhammadiyah telah memustukan bahwa kalau di zona merah memang diperbolehkan untuk tidak salat Jumat dan bahkan dianjurkan untuk tidak salat Jumat,” tandasnya.

Selain itu, pria kelahiran Bondowoso, 21 Juni 1988 ini juga menyampaikan bahwa memang saat ini ada ketidakpercayaan di masyarakat. Hal itu disebabkan oleh banyaknya hoaks yang mengganggu kepercayaan masyarakat khusunya terhadap vaksin. Selain itu juga ketidakpercayaan kepada oknum-oknum pemerintah karena masyarakat melihat tampak tidak ada keseriusan dari pemerintah. Kemudian ada ketimpangan juga, ketidakadilan dalam penerapan Prokes tersebut.

”Banyak hoaks yang mengatakan jika di vaksin katanya akan sakit, kalau di vaksin katanya akan bisa dilacak dan lain sebagainya. Kemudian ada juga anggapan bahwa vaksin ini menyebabkan orang kemudian akan imun sehingga tidak akan kena (virus). Padahal vaksin kan fungsinya menambah kekebalan tubuh ketika kena virus. Maka cara mengatasinya adalah dengan edukasi,” jelasnya.

Menurutnya, harus ada edukasi hingga ke akar rumput, kemudian juga harus berbasis kepada komunikasi yang sifatnya kultral. Ia mencontohkan seperti ke orang madura, itu pakai bahasa Madura, ke orang Jawa pakai bahasa Jawa. Agar lebih mudah dipahami dan lebih mudah dipercaya.

”Komunikasi kultural itu tidak hanya secara bahasa, tetapi juga secara kebudayaan sesuai dengan kecenderungan kebudayaan masing-masing. Tidak bisa menggunakan edukasi yang masih umum seperti yang selama ini dilakukan,” pungkasnya.

Adnan Anwar: Perlunya teladan dari tokoh agama perangi COVID-19

Sebelumnya, tokoh Pemuda Nahdlatul Ulama (NU) Dr. Adnan Anwar mengatakan untuk melawan penyebaran (COVID-19) lebih meluas lagi, perlu adanya gerakan bersama dengan melibatkan para tokoh agama dan masyarakat untuk memberikan teladan kepada masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan (prokes).

“Saya melihat merebaknya pandemik COVID-19 di Indonesia ini berbarengan dengan menguat-nya pengaruh era post truth, pasca-kebenaran. Di mana kebohongan, prasangka, emosi, ini justru menyaru sebagai kebenaran,” kata Adnan Anwar dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis, 1 Juli 2021.

Dia mengatakan bahwa yang terjadi hingga saat ini, berita hoaks malah lebih dipercaya oleh orang-orang itu daripada data dan fakta yang ada sebenarnya.

Menurut dia, masyarakat harus terus diberikan pengertian bahwa wabah COVID-19 adalah musibah yang mengglobal. Di mana virus ini akan menyerang siapa saja, tidak melihat umur, jabatan, gender, agama ataupun aliran.

Indonesia ini adalah negara yang berbasis agama terbesar di dunia, maka perlu peran tokoh agama untuk masuk memberikan edukasi bagi umatnya.

“Peranan tokoh agama baik itu para kiai, pendeta, bedande dan tokoh agama lainnya ini sangatlah penting dalam mensosialisasikan mengenai bahayanya COVID-19. Tokoh agama secara struktural harus masuk dalam tim gugus tugas, agar mampu memberikan penerangan dan pengertian hingga level lakar rumput,” ujar Adnan, dikutip dari Antara.

Oleh sebab itu, pria yang juga Instruktur Pendidikan Kader Penggerak Nahdatul Ulama (PKPNU) Nasional ini menyebut perlunya Sinergi Integratif antara yang ahli kesehatan, dokter spesialis, ahli virus, ahli sosiologi masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, TNI-Polri yang bekerja secara sistematis di bawah kendali Gugus Tugas yang selalu hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat di saat pandemik ini.

“Saya melihat seperti di BNPT ada Gugus Tugas Pemuka Agama yang bertugas memberikan pencegahan paham radikal terorisme di lingkungan umat atau ormas-nya masing-masing. Nah paling tidak menurut saya Guguis Tugas Pemuka Agama BNPT ini bisa diberikan peran yang lebih, bukan hanya pencegahan paham radikal terorisme saja, tetapi juga berperan memberikan pemahaman kepada umatnya dalam, melawan pandemik ini,” jelasnya.

Adnan berpendapat bahwa mereka (para tokoh agama) harus turun di daerah yang tingkat resistensinya terhadap upaya pencegahan COVID-19 masih tinggi. Misalnya, di Madura Raya, lalu sebagian Jawa Barat dan Banten serta beberapa daerah di luar Jawa yang kritikal seperti Sumut, Riau dan Aceh.

“Para tokoh agama harus menjelaskan dengan baik dan benar kepada umatnya agar yakin. Caranya mungkin bisa memanfaatkan teknologi, misalnya, mengkampanyekan melalui media sosial, karena kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk mengumpulkan para umatnya karena dapat menimbulkan kerumunan,” ucap-nya.

Menurut dia, edukasi ini harus terus dilakukan agar tidak terjadi salah tafsir di masyarakat dalam pilihan jenis vaksin, yang mana vaksin yang sudah ditentukan oleh pemerintah ini sudah sangat terjamin kebersihan dan kehalalan-nya. [damailahindonesiaku.com/antara]

 

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed