by

Pesantren dan Pendidikan Kebinekaan Versi Yuniati Chuzaifah

Kabar Damai | Senin, 16 Mei 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Sebagian masyarakat terpecah dalam pemahaman dan kepercayaan sehingga menyangka bahwa pesantren kemudian lekat dengan hal yang eksklusif dan juga radikal bahkan menjadi sarang dari teroris. Namun, hal ini ditepis oleh Yuniati Chuzaifah.

Yuniyanti Chuzaifah adalah Mantan Ketua Komnas Perempuan dan juga pegiat HAM-Perempuan, ia sosok yang tumbuh dan belajar dari pesantren khususnya yang berada di Magelang, Jawa Tengah.

Menurutnya, selain pelajaran resmi yang membuatnya tertempa pada ilmu-ilmu di pesantren juga sangatlah banyak, satu diantaranya ialah makna kebinekaan. Makna kebinekaan itu ia serap darisana karena sejak masuk pesantren ia sudah harus satu kamar dan tidur dengan rekannya dari NTT dan Papua serta dari Sumatera yang semua asing baginya.

“Saya merasa bahasa mereka ajaib-ajaib, tapi kita dipaksa untuk menggunakan bahasa Indonesia. Itu menurut saya mengenal Indonesia mini dari pesantren,” ungkapnya.

Baca Juga: Mengulik Peran Gereja Dalam Mewujudkan Pendidikan Damai dan Literasi

Lebih jauh, ia menuturkan bahwa kiyainya di pesantren juga sangat pluralis yangmana para santrinya kerap dibangunkan pada malam hari untuk menyiapkan minuman untuk para tamu dari sang kiyai yaitu pastor dan pendeta yang kerap berdiskusi hingga pagi hari.

“Kiyai saya memberikan pesan bahwa kita harus hormat pada agama lain,” tambahnya.

Keakaran lain menurutnya yang turut ditanamkan di pesantren ialah soal menghormati hak asasi, contohnya saat itu kerap terjadi Petrus (Pembunuhan Misterius) kepada para begal dan sebagainya. Namun, kiyainya dahulu menampung dan menghormati para kriminal dan bahkan melindunginya.

Menurutnya pula, hal lain yang dianggapnya penting dan krusial dari pesantren tempat ia menempuh ilmu dahulu ialah perihal kualitas. Walaupun saat bersekolah para santri menggunakan kerudung manun saat diluar mereka diberi keleluasaan.

Ia bercerita, pernah pada suatu ketika datanglah orang baru yang menyebarkan radikalisasi dan ekstrimisme ke lingkungan pesantrennya yang mana mereka ialah kelompok yang dikejar oleh Orde Baru, namun ternyata sang kiyainya melindungi anak-anaknya untuk tetap dapat mendapatkan layanan sekolah walaupun tidak setuju dengan ideologinya.

“Buku-buku yang disebarkan ditarik dan kiyai mengajarkan pikiran progresif tetapi tidak menghalangi hak pendidikan walaupun tidak setuju dengan konsertisme,” jelasnya.

Hal lain, dilingkungan pesantrennya dahulu juga pernah mendapatkan penghargaan kalpataru. Darisana para santri dibuat agar seolah malu jikalau kemudian tidak hormat pada semesta. Kiyainya dahulu sangat marah jika sampai para santrinya merusak tanaman.

“Pesantren ini harus indah, tanaman harus ditata dan dihargai. Pesantren walaupun bersahaja tapi air berlimpah, tanaman bagus, ada buah-buah dan pohon langka juga ada disana,” katanya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed