by

Pesan Sunan Kalijaga dan Tantangan Dakwah Santri

Kabar Damai I Selasa, 10 Agustus 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Dunia terus berkembang disokong oleh kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak hal yang berubah dan mau tidak mau harus disesuaikan jika hendak bertahan diatas gempuran zaman yang ada.

Ning Imaz Fatimatuz Zahro menjelaskan menyesuaikan diri tentu boleh saja, namun jangan sampai terbawa arus, hal ini terlebih ditujukan kepada para perempuan.

“Perempuan itu sebetulnya senang sekali bahwa kita ini mengikuti arus tapi jangan terbawa arus dalam ranah apapun,”.

“Bagaimanapun juga kita kini hidup dengan tantangan zaman yang berbeda sehingga cara menyikapinya pun juga harus berbeda-beda, bahwa kita boleh mengikuti arus peradaban namun kita tetap harus berdiri di atas prinsip berdiri di atas ilmu-ilmu yang kita pelajari,” ungkapnya.

Baca Juga: Ini Dia Golongan Masyarakat yang Percaya Pemerintah Melakukan Kriminalisasi Ulama, Pembungkaman Umat Islam dan Pembatasan Dakwah

Dalam mengikuti perkembangan zaman ini, filter sangatlah penting dilakukan guna menjadi ciri khas dari masing-masing individu.

“Berdiri di atas kaki sendiri dan memahami mana yang baik mana yang buruk sehingga kita tidak tergerus oleh zaman tapi tidak terbawa arus yang entah kemana ujungnya,”.

“Kita juga tahu dan membolehkan perempuan jika memang ingin bermedia sosial, akan tetapi diketahui bahwa filter harus kuat digunakan untuk mencitrakan dirinya itu bagaimana,” tambahnya.

Menurutnya pula, terlebih jika perempuan memiliki latar belakang santri, maka seharusnya lebih berhati-hati lagi dalam mencerminkan dirinya karena ia mewakili identitas yang baik.

Hal serupa menjadi tantangan dakwah dalam aspek perkembangan zaman. Selain khawatir terbawa arus juga sekaligus banyaknya agamawan yang hanya berlatarbelakang ketenaran semata.

Berdasarkan hal tersebut, para perempuan yang berasal dari pesantren menurut Ning Imaz harus senantiasa mengimplementasikan ilmunya.

“Hal semacam itu tentu sangat disayangkan oleh karena itu perempuan pesantren yang memang dari kecil hidup di pesantren belajar agama mulailah untuk mengaktualisasikan diri bahwa kita ini dibutuhkan di luar sana,” bebernya.

Melalui keterlibatan yang baik, maka sumber dari pembelajaran akan lebih jelas dibandingkan masyarakat kemudian belajar dari yang kurang jelas latarbelakangnya.

“Kita ini dicari dan maka aktualisasikan diri kepada banyak orang, karena daripada mereka pergi ke orang-orang yang tidak jelas latar,” pungkasnya.

 

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed