by

Pesan Perdamaian dari Film Pendek ‘Keluarga Tak Sedarah’

Kabar Damai | Selasa, 21 Juni 2022

Pontianak I Kabardamai.id I Pemahaman dan kesadaran akan pentingnya toleransi, saling menerima satu sama lain dan jauh dari perilaku intoleransi yang dapat mengakibatkan kerugian bagi sesama makhluk menjadi aspek penting dalam kehidupan saat ini. Hal ini dianggap penting mengingat potensi dan kerawanan terjadinya konflik dalam berbagai sektor dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.

Di Kalimantan Barat, konflik dengan latar belakang suku dan etnis menjadi sejarah kelam yang sudah sejak lama terjadi. Walaupun durasi tahun terbilang lama, namun jejak dan dampak konflik tersebut masih ada dan terus berkembang hingga saat ini dan berpotensi melahirkan konflik baru dikemudian hari.

Seperti halnya terjadinya konflik yang awalnya berada pada aspek suku dan etnis kemudian menjalar ke isu agama, puncaknya terjadinya penyerangan dan penyerbuan masjid Ahmadiyah di Sintang yang menjadi luka bersama bagi para pegiat isu kemanusiaan dimanapun berada.

Mengingat potensi konflik yang begitu besar, berbagai cara dalam rangka menciptakan ruang-ruang pemahaman tentang pentingnya toleransi dan kesetaraan tanpa persekusi dan diskriminasi haruslah dilakukan dengan berbagai cara, satu diantaranya melalui pemanfaatan media digital yang masif berkembang saat ini. Kampanye tersebut satu diantaranya dilakukan oleh Komunitas Satu dalam Perbedaan (Sadap) Indonesia bersama dengan Komunitas Bela Indonesia (KBI) yang menciptakan sebuah film pendek dengan judul Keluarga Tak Sedarah.

Film Pendek Keluarga Tak Sedarah

Film Pendek dengan judul Keluarga Tak Sedarah bercerita tentang kehidupan seorang mahasiswa dan dua mahasiswi dari daerah di Kalimantan Barat yang merantau ke Kota Pontianak untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Mengingat biaya rumah sewa atau kontakan yang terbilang mahal, mereka kemudian memutuskan untuk menyewa satu rumah dengan sistem pembagian yang adil. Mereka tinggal dalam satu rumah sewa tersebut dengan penuh perbedaan dari berbagai aspek yang tidak pernah mereka temui dan fikirkan sebelumnya.

Satu orang adalah laki-laki muslim dan bersuku Jawa, seorang lagi adalah perempuan Tionghoa dengan keturunan agama Budha serta seorang lagi adalah perempuan Dayak dengan agama kepercayaan Katolik.

Baca Juga: Keadilan Kunci Perdamaian Kasus HAM di Papua

Walaupun penuh perbedaan, mereka hidup dalam satu rumah sewa dengan penuh damai. Segala hal diselesaikan dengan musyawarah dan kebersamaan, termasuk dengan tidak saling mengusik satu sama lain perihal agama atau kepercayaan satu sama lain.

Sikap dan nilai toleransi juga sangat kentara terjadi, ketiganya saling mengingatkan satu sama lain saat waktu beribadah tiba, tidak segan saling mengantar ke rumah ibadah dan tindakan-tindakan lainnya yang saling mendukung satu sama lain.

Bertahun-tahun hidup bersama dan saling mengenal membuat mereka saling memiliki satu sama lain, tidak ada sekat dan pembatas walaupun satu sama lain berbeda. Hal inillah yang membuat ketiganya bak keluarga, walaupun tidak sedarah.

Terbaik Kedua Konten Video Toleransi FKUB Kalbar

Cerita tentang ketiga tokoh yang real dan apa adanya ini diabadikan hingga tercipta sebuah film pendek yang kemudian mendapat predikat terbaik kedua dalam lomba video dengan tema moderasi yang diselenggarakan oleh FKUB Kalimantan Barat.

Dilansir dari media sosial Sadap Indonesia menuliskan, dengan adanya film pendek tersebut diharapkan dapat menjadi sarana edukasi dan renungan bersama bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk dapat saling berbuat baik dan percaya satu sama lain. Hal ini perlu ada demi terciptanya toleransi dan saling menerima agar dapat hidup damai hari ini dan esok hari.

Penulis: Rio Pratama

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed