by

Pesan Paskah Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia 2021

Kabar Damai | Selasa, 9 Maret 2021

 

“Berpaling kepada Sang Hidup”
(Yohanes 20:14-16)

14 Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. 15 Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” 16 Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru.

Umat Kristiani terkasih di manapun Saudara berada, Selamat Paskah!

Kristus sudah bangkit! Dia sungguh bangkit!

Kita memasuki kali kedua Perayaan Paskah dalam masa Pandemi Covid-19. Jika perayaan Paskah tahun lalu dengan gereja kosong terasa begitu berbeda, saat ini kita mulai masuk ke dalam kebiasaan baru. Perubahan tataan kehidupan telah membuat mayoritas gereja di Indonesia melaksanakan ibadah secara daring atau kombinasi ibadah di ruang fisik dan digital. Karena situasi ini, pada 2021, kita mungkin telah mengalami sendiri, atau mengenal orang yang pernah, terinfeksi virus tersebut. Kita banyak meneteskan air mata duka.

Ketika menghadapi ketakutan dan kesedihan, Maria Magdalena, yang dalam Injil Yohanes dicatat sebagai orang pertama yang pergi ke kubur Yesus, bertambah sedih menemui kubur yang kosong. “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan,” (Yoh. 20:2) serunya ketika berlari dan mendapati Simon Petrus dan murid yang lain. Dalam dukanya, Maria menangis. Ketika Maria kembali lagi ke dalam kubur, dia tidak mengenali malaikat yang bertanya kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Karena fokusnya adalah mencari Yesus, Maria tidak merasa bahwa situasi berhadapan dengan kedua sosok yang ditemuinya dalam kubur Yesus setelah tubuh Yesus tidak ada lagi terasa aneh. Setelah menjawab mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan” (Yoh. 20:13), Maria menoleh ke belakang dan melihat seseorang (Yoh. 20:14). Kata “menoleh” (Yun. estraphē) melibatkan gerakan berputar dan melihat. Sama seperti ketika Maria melihat dua malaikat, Maria juga tidak merasa aneh akan kehadiran sosok ketiga, yang juga bertanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Hanya saja sosok yang baru ini sepertinya memahami bahwa Maria sedang mencari seseorang. Pertanyaan berikutnya malah mengingatkan Maria untuk melihat kembali dengan benar kepada sang penanya, “Siapakah yang engkau cari?” Kembali Maria belum memahami dan mengira yang bertanya kepadanya adalah penunggu taman. Karena kesedihannya, dia tidak mengenali yang bertanya kepadanya dan meminta agar sang penunggu taman mengembalikan jasad Yesus kepada mereka.

Ketika Yesus menyapanya dengan nama, “Maria!” Maria mengenali suara yang bertanya kepadanya. Kali ini dia berpaling (Yoh. 20:16). Kata “berpaling” (Yun. strapheisa) menandai gerakan merespons suara yang amat dikenalnya. Fokusnya beralih ke satu titik, Yesus yang menyapanya secara personal. Ketika mengenali Yesus, Maria memanggil-Nya dengan sebutan yang sangat personal: “Rabbouni” (“Guruku” atau “Tuanku”).

Baca juga: Setahun Penanganan Covid-19, Pusad Paramadina Adakan Webinar Nasional

Dalam tangis dan kekhawatiran karena Pandemi, kita berseru kepada Allah, namun kesedihan juga bisa membuat kita tidak mengenali Kristus yang bangkit. Ketika mendengar suara yang akrab baginya, Maria berpaling kepada Sang Hidup, yang telah ada di hadapannya. Kebangkitan Kristus mengingatkan kita bahwa kematian telah dikalahkan, bahwa Dia tidak meninggalkan kita. Kristus ada di depan kita, dan kita perlu berpaling, memfokuskan pandangan kita kepada-Nya, Sang Hidup. Namun demikian, oleh berbagai sebab dan kerapuhan, kita mungkin terhalang untuk berpaling kepada-Nya.

Tahun ini, kita pun masih menangis, namun bukan tanpa harapan. Sang Hidup meneguhkan kita melalui distribusi vaksin yang dilakukan oleh Pemerintah. Tahun ini kita menantikan giliran untuk vaksinasi, jika kita belum mendapatkannya. Vaksin ini menjadi satu dari banyak simbol pengharapan, yang harus kita pandang sebagai rahmat Allah. Harapan itu ada dan nyata, karenanya gereja-gereja terpanggil mewartakannya dalam langgam pewartaan dan pelayanan bersama di negeri ini. Berita Paskah mengingatkan kita kembali akan Kristus yang hadir dalam berita kebangkitan Kristus yang mengalahkan kematian.

Sebagai komunitas gereja dan pribadi, kita bisa berpaling kepada Sang Hidup dengan mengambil waktu teduh dan berdoa, mengurangi suara yang menghalangi kita mengenali suara Kristus yang sedang menyapa kita, dan saling mengingatkan untuk berpihak kepada kehidupan dengan terus memegang komitmen menjaga kehidupan melalui kepatuhan menjaga protokol kesehatan dalam tataan baru.

Marilah kita tetap menjadi umat yang berpaling kepada Sang Hidup,

SELAMAT PASKAH.

Jakarta, Maret 2021
Teriring salam dan doa
a.n. Majelis Pekerja Harian PGI

Pdt. Gomar Gultom
Ketua Umum

Pdt. Jacklevyn F. Manuputty
Sekretaris Umum

 

Sumber: pgi.or.id

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed