by

Pesan Kemerdekaan: Jaga Keutuhan Bangsa!

Kabar Damai I Rabu, 18 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Pada perayaan HUT RI ke-76 sejumlah tokoh di Tanah Air menyampaikan harapan bagi kemajuan dan keutuhan bangsa.

Presiden Joko Widodo menyampaikan pesan penting dalam akun Instagram @jokowi seperti dikutip CNBC Indonesia. Jokowi mengajak mengajak seluruh elemen bangsa untuk bergotong royong dalam menghadapi berbagai cobaan.

“Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh, bisa kita capai dengan bahu-membahu, saling bergandeng tangan, dan bergotong-royong dalam satu tujuan. Tangguh dalam menghadapi pandemi, tangguh melalui berbagai ujian, dan terus tumbuh dalam menggapai cita-cita bangsa,” tulisnya.

Menag Yaqut Cholil Qoumas didaulat membacakan doa di upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di halaman Istana Merdeka.

“Anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami, kemampuan mensyukuri nikmat anugerahMu dalam sikap-sikap indah yang Engkau ridoi. Selamatkanlah jiwa-jiwa kami dari noda-noda yang mencoreng keindahan martabat kami,” ujar Yaqut dalam doanya yang diawali dengan basmalah, hamdalah, dan shalawat Nabi, seperti dikutip dari siaran daring, Selasa, 17 Agustus 2021.

Gus Yaqut kemudian bermunajat, menyampaikan harapan agar para pemimpin dan warga bangsa diberi anugerah kepekaan untuk menangkap dan mensyukuri keindahan kemerdekaan, kehidupan, kemanusiaan, kesederhaan, keindahan kasih sayang dan saling menyayang, serta keindahan kebijaksanaan dan keadilan.

“Kokohkanlah jiwa raga kami, untuk menjaga keindahan negeri kami,” harap dia.

Bangsa Majemuk dan Moderat

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan ucapan selamat. Menurutnya, dilansir dari republika.co.id (17/8), hari kemerdekaan adalah sebuah momentum bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Allah SWT telah menganugerahi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk dan moderat. Bangsa yang terdiri dari berbagai agama, suku bangsa, ras, latar belakang kedaerahan, serta kebudayaan yang sangat beragam,” kata Haidar pada Selasa (17/8).

Menurutnya, walau dalam keragaman, bangsa Indonesia tetap bisa hidup rukun dan bersatu membangun Indonesia. Meski mayoritas penduduknya Muslim, bangsa Indonesia selalu mengedepankan toleransi dan persatuan.

Baca Juga: Kado HUT RI, Pemkab Hentikan Aktivitas Jemaat Ahmadiyah di Sintang

“Negeri ini telah dianugrahi Allah dengan alam yang kaya dan indah, serta menjadi Tanah Air untuk semua. Keindahan alam dan kekayaannya mampu mengundang Multatuli dan mengatakan bahwa Indonesia bagaikan untaian zamrud khatulistiwa dengan iklim moderat, kaya dengan flora dan fauna, sumber daya alam melimpah, bahkan sebagai negeri kepulauan mampu bersatu dan berdaulat sebagai NKRI,” ujarnya.

Bahkan, katanya, di tengah suasana memperingati 76 tahun kemerdekaan Indonesia semua anak bangsa hendanya terus tumbuhkan semangat ukhuwah yang lahir dari kebersamaan dan kebhinekaan.

Sebagai penduduk mayoritas, lanjut Haidar kaum muslim pun telah memberikan warna dalam moderasi beragama, berbangsa, dan bernegara. Dan juga sudah banyak pengorbanan dan perjuangan yang telah ditorehkan.

“Maka, pada saat ini dan ke depan, umat Muslim dan seluruh umat beragama memiliki tanggungjawab Illahiyah dan Insaniyah untuk menjadikan negeri ini tetap utuh. Kaum Muslim sebagai mayoritas harus menjadi uswah khasanah. Hadir menumbuhkan sikap moderat untuk membawa Indonesia sebagai bangsa yang bersatu dan berkemajuan,” tegasnya.

Anugerah Terbesar Tuhan bagi Bangsa Indonesia

Prof Dr KH Said Aqil Siroj menyampaikan pidato kemerdekaan Republik Indonesia ke-76. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu mengatakan, jika kemerdekaan adalah anugerah dari Allah SWT terbesar bagi bangsa Indonesia yang wajib disyukuri, dijaga dan dijadikan momentum bagi tumbuh dan berkembangnya peradaban bangsa.

“Sekaligus didedikasikan untuk memakmurkan masyarakat, memajukan negara dan untuk berkontribusi pada perwujudan tatanan dunia yang lebih damai dan beradab,” ujar Kiai Said melalui kanal YouTube NU Channel, Selasa, 17 Agustus 2021).

Kiai Said menilai, dengan cara mensyukuri kemerdekaan berarti mensyukuri keberadaan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, dengan keragaman suku, budaya, agama, bahasa, tradisi, adat istiadat dan khazanah pengetahuan nusantara.

Hal tersebut dapat dijadikan sebagai kekuatan untuk mengembangkan ekonomi kreatif dan destinasi wisata yang berdaya saing. Sekaligus menjadi pembelajaran toleransi, keberagaman, dan perdamaian bagi bangsa-bangsa di dunia. Sehingga pada saatnya Indonesia menjadi pusat peradaban dunia.

Lebih lanjut lagi, Kiai Said menyebut jika mensyukuri kemerdekaan berarti mensyukuri keberadaan Indonesia sebagai negara demokrasi berpenduduk muslim terbesar di dunia. Indonesia memiliki corak kehidupan beragama yang ramah, damai, toleran, serta memiliki kekhasan Islam nusantara yang mampu berdampingan sekaligus berakulturasi dengan budaya lokal secara harmonis.

“Keberadaan Indonesia sebagai negara demokrasi berpenduduk muslim terbesar di dunia dapat dijadikan sebagai modal diplomasi Indonesia kepada dunia, untuk menjadikan Indonesia sebagai sumber rujukan utama bagi yang penuh cinta kasih damai yang menyenangkan. Untuk mengikis dan meminimalisir berkembangnya islamophobia,”. kata kiai kelahiran Cirebon itu.

Di momentum kemerdekaan ini, beliau juga berharap agar bangsa Indonesia mampu menjadi trend center muslim life style dengan ekosistem ekonomi, pendidikan, dan budaya dan kesehatan bagi dunia muslim. Di sisi lain keberadaan Indonesia sangat strategis dan penting sebagai penjaga keseimbangan dan keamanan kawasan Asia Tenggara, terutama dalam membendung dan melawan segala bentuk kejahatan terorisme global.

Menurut Kiai Said, letak geografis keberadaan geoekonomi dan geopolitik Indonesia yang berada pada titik silang dunia adalah bagian yang harus disyukuri.

“Sehingga kita sebagai bangsa bisa menjalankan diplomasi bebas aktif dan non blok, serta harus dibarengi dengan kewaspadaan akan keberadaan Indonesia pada posisi terbuka bagi dunia,” imbuh kiai lulusan Universitas Ummul Qurra itu.[ ]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed