Pesan Islam untuk Menghormati dan Memuliakan Masyarakat Adat

Opini163 Views

Kabar Damai I Kamis, 03 Februari 2022

Jakarta I kabardamai.id I Profesor Jared Diamond, pakar Geografi Lingkungan dari Universitas California los Angeles, di dalam bukunya “The World until Yesterday” atau dalam  versi  bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “Dunia Hingga Kemarin” menyebutkan bahwa dunia modern yang kita alami sekarang baru berlangsung  sebentar  saja  dalam sejarah manusia.

Sebelumnya,  selama jutaan tahun, manusia hidup dalam “dunia kemarin” yang kini masih dijalankan oleh masyarakat-masyarakat adat, atau dalam bahasanya Jared Diamond sebagai masyarakat tradisional. Masyarakat Adat  dan  cara  hidupnya, menurut Jared Diamond, merupakan ribuan  percobaan  alami  yang   dilakukan untuk menjawab berbagai permasalahan manusia.

Meski masyarakat modern punya keunggulan seperti harapan hidup lebih panjang dan berkurangnya kekerasan, hasil kehidupan alami itu bisa menawarkan cara lebih baik  untuk  membesarkan  anak, berpikir jernih tentang bahaya, menghindari penyakit modern, dan lain sebagainya.

Profesor Jared Diamond juga mencatat bahwa di antara hal penting yang harus kita pelajari dari kehidupan masyarakat adat adalah kearifan  tradisional  dalam mengelola sumber daya alam. Sebagai contoh, masyarakat adat memiliki pandangan kosmologi bahwa alam semesta adalah ibu yang melahirkan dan membesarkan mereka.  Pandangan  ini  kemudian menjadi dasar mereka dalam mengelola alam secara adil dan lestari.

Pandangan semacam  ini  nyaris hilang dalam kesadaran masyarakat modern dan digantikan oleh pandangan antroposentris dan kapitalistik, yang menempatkan manusia sebagai  pusat,  sekaligus menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai panglima.  Bahkan  di  berbagai lembaga Pendidikan kita, alam lebih banyak diajarkan sebagai  objek  yang  boleh dieksploitasi untuk kepentingan manusia.

Dampaknya,  berbagai kebijakan pembangunan kita, memperlakukan alam sebagai komoditas  untuk  kepentingan  jangka pendek, bahkan diperjualbelikan di berbagai momentum  pemilihan  kepala daerah di Indonesia.

Dalam kehidupannya nyata di masyarakat adat yang telah berjalan selama ribuan tahun di Indonesia, misalnya, tak pernah ada cerita mengenai krisis pangan atau krisis air yang sampai kepada kita. Dengan demikian, kehidupan masyarakat modern, di mana kita hidup di dalamnya, memiliki utang kultural sekaligus utang ekologis kepada masyarakat adat karena di tangan merekalah, kelestarian alam sampai saat ini masih terjaga.

Masyarakat adat didefinisikan oleh AMAN (Aliansi Masyarakat  Adat  Nusantara) sebagai kelompok masyarakat yang memiliki sejarah asal-usul dan menempati wilayah adat secara turun-temurun. Masyarakat adat memiliki kedaulatan atas tanah dan  kekayaan alam,  kehidupan sosial-budaya yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mempertahankan keberlanjutan kehidupan masyarakat adat sebagai komunitas adat.

Baca Juga: Memastikan Tiada Kriminalisasi Pembela Hak Masyarakat Adat

Di dalam kehidupan masyarakat adat kita akan menemukan tiga wujud kebudayaan sebagaimana dijelaskan oleh pakar antropologi Koentjaraningrat,  yaitu: pertama, wujud kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai atau norma. Kedua, wujud kebudayaan sebagai aktivitas atau pola tindakan manusia dalam masyarakat. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Sebagaimana dicatat oleh AMAN, terdapat empat warisan leluhur atau asal-usul sebagai pembeda antara Masyarakat Adat dan kelompok masyarakat lainnya. Unsur-unsur tersebut, antara lain identitas budaya yang sama, mencakup bahasa, spiritualitas, nilai-nilai, serta sikap dan perilaku yang membedakan kelompok sosial yang satu dengan yang lain; sistem nilai dan pengetahuan, mencakup pengetahuan tradisional yang dapat berupa pengobatan tradisional, perladangan tradisional, permainan tradisional, sekolah adat, dan pengetahuan tradisional maupun inovasi lainnya; wilayah adat (ruang hidup), meliputi tanah, hutan, laut, dan sumber daya alam (SDA) lainnya yang bukan semata-mata dilihat sebagai barang produksi (ekonomi), tetapi juga menyangkut sistem religi dan sosial-budaya; serta hukum adat dan kelembagaan adat aturan-aturan dan tata kepengurusan hidup bersama untuk mengatur dan mengurus diri sendiri sebagai suatu kelompok sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Khatib mencatat dua tantangan besar yang dihadapi masyarakat adat. Pertama, paham atau tafsir keagamaan yang masih melihat masyarakat adat dengan berbagai kekayaan pengetahuan dan kebudayaannya, terutama sejumlah ritual  yang  diselenggarakan, sebagai sesuatu yang heretik, menyimpang, atau bahkan bertentangan dengan ajaran agama. Ada banyak tafsir agama yang melihat kekayaan pengetahuan dan kebudayaannya, terutama sejumlah ritual yang diselenggarakan, sebagai sesuatu yang harus dihilangkan  karena  mengancam kemurnian ajaran agama.

Kedua, masyarakat adat juga telah, tengah, dan akan terancam oleh kebijakan politik pembangunan pemerintah sejak lama yang menempatkan pertumbuhan ekonomi di atas segalanya. Tak sedikit ruang kelola masyarakat tradisional ditetapkan sebagai kawasan konsesi perkebunan kelapa sawit atau pertambangan batu bara. Di Kawasan pesisir dan  pulau  kecil,  ruang  hidup masyarakat adat terancam oleh proyek reklamasi, pertambangan pasir, atau proyek pariwisata skala besar.

Kenapa kita  mesti  menghormati  dan memuliakan masyarakat adat? Jawabannya paling tidak ada dua, yaitu: pertama, sebagaimana disebutkan oleh khatib di awal, kita memiliki utang kebudayaan dan utang ekologis kepada masyarakat adat. Masyarakat adat telah berjasa menjaga kelestarian sumber daya alam, baik yang berada di wilayah darat, berupa hutan, maupun di wilayah pesisir dan pulau kecil. Masyarakat adat dengan berbagai kekayaan pengetahuan dan kebudayaannya merupakan benteng terakhir penjaga sumber daya alam, khususnya di Indonesia, umumnya dunia.

Masyarakat adat juga mengajarkan kita bagaimana cara mengelola alam secara lestari tanpa merusak atau menyebabkan krisis. Pada titik inilah, masyarakat adat telah menegakkan keadilan antar generasi yang tidak banyak disadari oleh masyarakat modern.

Kedua, masyarakat adat dengan berbagai berbagai kekayaan pengetahuan dan kebudayaannya telah mengajarkan  kita bagaimana menjalankan praktik musyawarah mufakat yang hilang dalam kehidupan politik kita. Ketika praktik kehidupan politik kita telah diwarnai oleh politik yang bersifat transaksional, masyarakat adat sampai saat ini masih menjaga prinsip musyawarah mufakat yang merupakan konsep  penting dalam Pancasila.

Lalu bagaimana seharusnya kita memahami masyarakat adat dengan benar? Di dalam ajaran Islam kita mengenal konsep al-maʼrûf. Secara kebahasaan, al-maʼrûf berarti “yang telah diketahui”, yakni “yang telah diketahui sebagai baik” dalam pengalaman manusia menurut ruang dan waktu tertentu. Karena itu, menurut Cak Nur, secara etimologis pula perkataan itu berkaitan dengan perkataan al-ʻurf yang berarti “adat”, dalam hal ini adalah yang baik. Dalam pengertiannya sebagai adat yang baik itulah al-ʻurf diakui eksistensi dan fungsinya dalam Islam,  sehingga  dalam teori ushul fikih disebutkan, “Al-ʻâdatu muhakkamah,” (Adat dapat dijadikan hukum).

Pada titik ini, sangat relevan satu kaidah ushul fikih yang menyatakan, “Al-taʼyîn bi al-ʻurf ka al-taʼyîn bi al-nashsh,” (Ketentuan berdasarkan ʻal-urf seperti ketentuan berdasarkan teks). Kaidah ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa berbagai ketentuan yang didasarkan pada kearifan masyarakat adat, memiliki posisi yang segaris dengan ketentuan berdasarkan teks.

Di dalam al-Qurʼan disebutkan,

“Kalian adalah ummat terbaik untuk ummat manusia karena menyeru kepada yang al-maʼruf dan mencegah al-munkar serta beriman kepada Allah,” [QS. Ali Imran: 110].

Ayat ini adalah  salah  satu  ayat  yang menyebut kata al-maʼrûf, yang salah satu maknanya adalah menyuruh kita untuk mengajak manusia  lainnya  untuk menghormati dan memuliakan masyarakat adat karena di dalam kehidupan masyarakat terdapat banyak hal  baik  yang sejalan dengan ajaran Islam.

Ayat tersebut juga menyebut kata al-munkar sebagai lawan dari kata al-maʼrûf. Al-munkar bermakna berarti apa saja yang “diingkari”, yakni diingkari oleh fitrah, atau ditolak oleh hati nurani. Salah satu manifestasi al-munkar adalah berbagai praktik yang merusak lingkungan dan melanggengkan serta melipatgandakan krisis sosial-ekologis.

Pada titik ini, kehidupan masyarakat adat yang kaya dengan berbagai pengetahuan dan tentu juga tradisinya adalah bagian penting dari ajaran Islam yang tidak banyak disadari oleh  masyarakat  muslim kebanyakan. Kita lebih banyak melihat dan terjebak pada kemasan daripada isi. Kata Maulana Jalaluddin Rumi, sambil menyindir kita,  “Karena  terpaku  pada bentuk engkau tidak menyadari makna. Apabila engkau bijak, ambillah Mutiara dari cangkangnya.”

Terkait dengan konsep al-maʼrûf, Ali Ibn Muhammad al-Jurjani di dalam kitab “al-Taʼrîfât” mendefinisikan al-ʻurf atau al-maʼrûf sebagai berikut,

“Al-ʻurf ialah suatu perkara dimana jiwa merasakan ketenangan dalam mengerjakannya karena sudah sejalan dengan logika dan dapat diterima oleh watak kemanusiannya. Maka dari itu ia dapat dijadikan sebagai hujjah, tetapi hal ini lebih cepat dimengerti.”

Dengan demikian, berbagai kearifan yang dijalankan oleh masyarakat adat sangat penting karena sejalan dengan sisi kemanusiaan kita. Dalam kaitannya dengan ajaran agama, sebuah hadits Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, menyebutkan,

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang islam, maka baik pula di sisi Allah,” [HR. Imam Ahmad].

 

Ust. Parid Ridwanuddin, S.Fil., M.A., M.Ud., disampaikan dalam Salat Jumat Virtual (Jumat, 28 Januari 2022)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *