by

Perwapon: Melawan Stigma Melalui Aksi Sosial

Kabar Damai I Jumat, 19 November 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Tantangan-tantangan dalam menjalankan peran dalam kehidupan sosial utamanya bagi masyarakat dengan ketentuan gender non biner tentu sangatlah rumit. Untuk dapat berdiri tegak dan tampil dalam masyarakat luas, orang dengan gender non biner harus berdamai dengan diri sendiri dan kemudian berdamai dengan lingkungan. Walaupun demikian, apapun situasi dan kondisinya, non bineri tetaplah bagian dari masyarakat yang harus senantiasa dihormati dan dilindungi serta tak boleh untuk didiskriminasi.

Berhubungan dengan diskriminasi, tentu bukan menjadi hal baru bagi orang dengan non biner di Indonesia. Terlebih dogma tentang budaya timur yang tidak sesuai dan hal lain yang membuat bentuk diskriminasi terus terjadi.

Hal serupa pernah dialami oleh Persatuan Waria Pontianak (Perwapon). Perwapon merupakan komunitas waria yang ada di Pontianak, Kalimantan Barat. Komunitas ini telah ada sejak masa orde baru dan masih ada hingga saat ini menaungi para waria dalam berbagai kegiatan.

Tiara adalah ketua dari Perwapon saat ini, dibawah kepemimpinannya membuat komunitas ini senantiasa melakukan berbagai hal baik yang ditujukan kepada masyarakat. Hal ini tentu sekaligus menjadi upaya melawan stigma buruk tentang waria khususnya yang ada di Pontianak.

Dihadapan para jurnalis yang tengah mengikuti story grant yang diselenggarakan oleh Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SEJUK) di Singkawang pada 12-14 November 2021 lalu, Tiara menceritakan cerita dan aksi inspiratif yang telah Perwapon lakukan dalam melawan stigma dan juga diskriminasi.

Berbagai aksi baik yang dilakukan oleh Perwapon antara lain dengan membantu panti asuhan dan panti jompo, pembangunan pesantren, memberikan donasi saat terjadi musibah dalam masyarakat dan lain sebagainya. Aksi-aksi baik tersebut menjadikan Perwapon kemudian dapat berinteraksi dengan baik dan serta diterima keberadaannya dalam masyarakat.

Baca Juga: Maulid Nabi: Meneladani Sikap Kemanusiaan dan Hidup Moderat Nabi

Tia mengungkapkan, donasi yang Perwapon kumpulkan didapatkan dari sumbangan anggota yang kemudian disalurkan kepada yang membutuhkan. Sebelum melakukan donasi, Perwapon juga melakukan survey dan juga pendataan terlebih dahulu agar bantuan tepat sasaran.

“Setiap bulan anggota (Perwapon-red) memberi sumbangan, tidak banyak hanya dua puluh ribu saja. Sumbangan itu yang kemudian kita berikan kepada yang membutuhkan,” ungkapnya.

“Sebelum memberi bantuan, benar-benar kami lihat keadaannya. Kami masuk hingga ke kamar dan dapur yang layak mendapat bantuan, yang kami sumbangkan mulai dari sembako, kasur, tikar, dan juga saat ini lagi dibangun masjid di salah satu pesantren yang tidak berbayar dan kami sumbang pasir, batu bata, semen, dan lainnya tergantung kebutuhan mereka,” tambahnya.

Lebih jauh, Tiara juga menuturkan bahwa kini tidak ada lagi waria di Pontianak yang melakukan aktifitas di jalanan sehingga keberadaannya benar-benar diterima dengan baik oleh masyarakat.

Menurut Tiara pula, waria di Pontianak saat ini selain secara rutin melakukan aksi berbagi juga senantiasa mendukung program pemerintah. Melalui aksi-aksi yang dilakukan, diharapkan stigma dan diskriminasi terhadap waria terus menurun dan penghormatan terhadap waria sebagai bagian dari masyarakat yang juga harus senantiasa dihargai dapat terus lestari.

 

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed