by

Perusakan Mobil Ketua AJI Jayapura, Jurnalis Harus Dilindungi oleh Negara

Kabar Damai I Rabu, 11 Agustus 2021

Jayapura I kabardamai.id I Komnas HAM Perwakilan Papua menyampaikan sejumpah pernyataan atas kasus perusakan mobil milik Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jayapura yang juga Pemimpin Redaksi SKH Cenderawasih Pos, Lucky Ireuw, di kawasan Dermaga Pantai Hamadi, Kota Jayapura.

Pertama. bahwa jurnalis merupakan salah satu profesi yang mulia yang harus dilindungi oleh negara, dikarenakan menjadi tempat penyaluran aspirasi rakyat untuk menyuarakan ketidakadilan perilaku penguasa.

Atas hal ini, Komnas HAM RI dan Komnas HAM Perwakilan Papua mengutuk keras intimidasi-intimidasi yang dilakukan kepada Lucky Ireuw, jurnalis senior dan berpengalaman dalam berbagai liputan konflik di Papua.

Kedua, Komnas HAM menolak dengan tegas perilaku intimidasi yang dilakukan oknum/ kelompok dan atau aktor intelektual kepada wartawan senior Lucky Ireuw, yang juga Ketua AJI Jayapura.

Ketiga, dari hasil investigasi dan olah tempa kejadian perusakan mobil, tim Komnas HAM berkesimpulan bahwa pelaku tindakan perusakan dan intimidasi tersebut melakukan secara berencana dengan tindakan berulang sebanyak kurang lebih tiga kali untuk perusakan kaca mobil.

Keempat, meminta Kapolresta Jayapura untuk menindaklanjuti laporan polisi korban wartawan senior Lucky Ireuw, untuk mengungkap dan menangkap pelaku perusakan mobil tersebut.

Baca Juga: AJI Jakarta Desak Media Massa Hentikan Praktik Seksisme dan Subordinasi Terhadap Atlet Perempuan dalam Pemberitaan Olahraga

Kelima, meminta Kapolda Papua untuk memberikan dukungan personel dan alat dalam mengungkap kasus perusakan mobil Lucky Ireuw.

Keenam, atas kasus tersebut tim Komnas HAM mengalami kesulitan untuk mencari CCTV di sekitar lokasi Pantai Hamadi dan jalan ringroad, maka diminta kepada Wali Kota Jayapura untuk memasang CCTV guna memantau berbagai potensi kejahatan yang dilakukan oleh para pelaku kriminal, demi rasa aman warga masyarakat yang berwisata di sekitar Pantai Hamadi.

Olah TKP

Melansir Antara, atas peristiwa tersebut  Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua menyelidiki dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Kepala Komnas HAM Perwakilan Papua Frits Bernard Ramandey, Selasa, 10 Agustus 2021, mengatakan dari hasil olah TKP di lapangan dilakukan Komnas HAM menemukan berbagai fakta. Korban pada 7 Agustus 2021 sekitar pukul 17.00 WIT bersama istri dan anak datang ke dermaga penyeberangan ke Kampung Tobati/Enggros di Jalan Hamadi/Holtekam.

Saat itu korban bersama keluarga hendak pergi ke Kampung Engros, dengan tujuan mengantar bahan makanan untuk orang tua. Korban memarkir mobil di pinggir jalan. Sekitar pukul 17.30 WIT korban berangkat bersama keluarga menyeberang ke Kampung Enggross dan menginap di rumah orang tua.

Kemudian, pada Minggu, 8 Agustus 2021 jam 07.30 WIT, lanjutnya, korban kembali ke dermaga dan melihat mobil sudah dalam keadaan rusak, kaca depan bagian kanan hancur.

“Atas kejadian itu, korban Lucky Ireuw memperbaiki kerusakan, menelepon anggota polisi yang bertugas di Kampung Enggross serta telah membuat laporan polisi No LP: STBL/500/VIII/Papua/Resta Jayapura Kota/Sek Japsel,” ujarnya.

Selain melapor, menurut Frits, korban juga memperlihatkan barang bukti mobil jenis Suzuki R3 DS 1324 AG,serpihan kaca di jok mobil bagian depan, serpihan kaca yang berhamburan di lokasi kejadian serta serpihan kaca yang masih melekat dengan riben hitam

Frits menyebut, Komnas HAM Perwakilan Papua telah melakukan olah TKP pada Senin, 9 Agustus 2021 di lokasi kejadian, yakni tempat parkiran Dermaga Penyeberangan Kampung Tobati/Enggros Hamadi.

Dari hasil olah TKP Komnas HAM Papua, menurut Frits, telah mendapati adanya kerusakan pada bagian jendela mobil bagian kiri dan kanan, diameter 13 cm, 9 cm,17 cm, 13 cm, dan lingkar mobil 49 cm serta panjang mobil 4,3 meter

“Mobil terparkir di bahu jalan dengan jarak satu meter dan jarak mobil ke jalan utama tujuh meter, jarak mobil korban ke jalan poros tiga meter dan terdapat serpihan kaca. Dan, jarak mobil korban dengan mobil lainnya 30 meter tidak dirusak,” ujarnya.

AJI: Ada 114 Kasus Kekerasan Jurnalis di Papua

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat ada 114 kasus kekerasan yang dialami jurnalis di Papua sepanjang 20 tahun terakhir sejak 2000 hingga 2021.

“Data yang kami kumpulkan melalui Subbidang Papua AJI Indonesia, jumlah kekerasan terhadap jurnalis dan media di Papua dalam 20 tahun terakhir mulai 2000 sampai 2021 ada 141 kasus kekerasan,” ujar Ketua Divisi Advokasi AJI, Erick Tanjung dalam acara ‘Peluncuran Catatan AJI atas Situasi Kebebasan Pers di Indonesia 2021’, Senin, 3 Mei 2021 lalu.

Secara lebih rinci, kekerasan jurnalis di Papua cukup beragam. Dari 141 kasus, 36 kasus kekerasan di antaranya dialami jurnalis asli Papua. Selanjutnya, terdapat 40 kasus kekerasan yang dialami jurnalis bukan asli Papua. Terakhir, terdapat 38 kasus intimidasi ke perusahaan dan media secara umum.

Sebelum serangan ini diterimanya, Victor lebih dulu mengalami doxing dan fitnah di media sosial. Erick menegaskan, kasus yang dialami Victor menjadi perhatian AJI Indonesia.

“Itu menjadi catatan kita agar kasus kekerasan jurnalis di Papua jangan lagi terulang ke depannya,” tegas dia, dikutip dari Kompas.com.

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed