by

Peringatan 76 Tahun Pancasila dan Wujud Dasar Kecintaan terhadap Pancasila

Kabar Damai I Rabu, 02 Juni 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Pancasila lahir pada 1 Juni 1945 melalui pidato Soekarno tentang landasan dasar negara dalam sidang BPUPKI. Kini, ditahun 2021 Pancasila telah berusia 76 tahun dan menjadi ideologi bangsa yang sesuai diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dasar Kecintaan Kepada Pancasila

Bondan Wicaksono mewakili Forum Pancasila Rumah Kita dalam kata sambutannya meyatakan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, terselenggaranya webinar merupakan bentuk kecintaan bersama atas pancasila sehingga harus dimanfaatkan untuk mengokohkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Pancasila menghadapi tantangan yang tidak semakin ringan. Globalisasi perlu diwaspadai karena berpotensi timbulnya rivalitas antar anak bangsa hingga ideologi,” ujar Bondan dalam webinar memperingati hari lahir pancasila melalui sebuah webinar. Melalui media zoom meeting, Selasa, (1/6/2021).

Ideologi transnasional masuk kepada dengan berbagai cara, maka perlu adanya pengetahuan yang luas bagi kita agar dapat berdialog lintas negara dan sesama anak bangsa.

Baca Juga: Haedar Nashir: Pancasila Tak Cukup Jadi Doktrin, Harus Kita Praktikkan

Bondan juga menyoroti ideologi transnasional yang radikal dan mampu melampaui ruang, sangat mungkin masuk secara masif. Oleh karena itu perlu diatasi dengan cara yang luar biasa.

“Perlu adanya terobosan, pancasila menjadi penyatu dalam penyekat bangsa yang kini kita hadapi. Kolaborasi berbagai kalangan masyarakat untuk bergerak aktif mewujudkan Indonesia seperti yang dicita-citakan bersama harus dilakukan sejak saat ini juga.”

Musdah Mulia: Pancasila Ideologi Terbuka

Musdah Mulia, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), memulai pemaparan tentang peranan pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Indonesia.

“Menjadi warga negara Indonesia berarti otomatis harus bangga dengan Indonesia itu sendiri. Pancasila merupakan ideologi terbuka, oleh karena itu tidak dapat diseragamkan karena berada dalam konteks masyarakat yang dinamis. Menafsirkan pancasila sesuai dengan tuntutan zaman secara demokratis adalah hal yang penting untuk dilakukan kini,” papar Musdah.

Ia juga menjelaskan lima nilai luhur pancasila meliputi Nilai Spiritual, Nilai Kemanusiaan, Nilai Persatuan, Nilai Demokrasi serta Nilai Keadilan. Lima nilai ini menurutnya tidak ada kontradiksi yang berseberangan dengan nilai pancasila dan nilai-nilai agama. Namun, walaupun demikian tantangan-tantangan terhadap pancasila juga dapat ditemui.

Musadah lebih lanjut menerangkan, Pancasila harus menjadi karakter bangsa Indonesia, sebagai warga Indonesia harus menerapkan nilai pancasila.

“Hal ini diimplementasikan dalam berbagai cara seperti memiliki sikap spiritual yang terlibat dalam bentuk budi pekerti luhur dan akhlak mulia, memiliki empati kemanusiaan yang berpihak pada penegakan HAM.”

Memiliki kecintaan terhadap NKRI dan solidaritas terhadap sesama bangsa, memiliki sifat demokratis dan berpartisipasi aktif dan konstruksif serta yang terakhir memiliki empati dan kepedulian untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, perlu dilakukan aksi konkret dalam rangka menciptakan kecintaan terhadap pancasila misalnya dengan memperluas kajian pancasila terhadap isu kontemporer, kemudian membangun basis rasionalisme  dan memasyarakatkan pancasila.

Agustinus: Tantangan dan Solusi dalam Permasalahan Pancasila

Agustinus, Rektor Universitas Tarumanegara mengungkapkan bahwa pancasila dalam kehidupan pendidikan dan bermasyarakat haruslah dipelajari, perlu ada dialog untuk menggali pancasila dan mengimplikasikannya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dalam proses pendidikan, kontribusi  pendidikan berdasarkan pancasila sangat diperlukan dalam kepentingan bernegara dan komunikasi internasional.

“Namun terdapat tantangan besar dalam penerapan pancasila dan penerapan perbedaan  bermasyarakat dengan maraknya isu sara, selain itu tantangan akan cinta tanah air, nasionalisme,” bebernya.

Cinta produk dalam negeri dan cinta budaya nasional semakin kentara hingga saat ini. Lebih jauh, permasalahan tentang intoleransi, merasa lebih baik dari yang lain dan radikalisme menjadi permasalahan utama selanjutnnya.

Tidak cukup sampai disitu Agustinus melanjutkan, “tantangan dalam penerapan pancasila layaknya permasalahan etos kerja, budaya kerja, hoax, berita bohong provokasi dan korupsi adalah permasalahan dalam masyarakat yang dapat terjadi dalam semua lini.”

Karena banyaknya permasalahan yang ada, Agustinus menyampaikan solusi dari permasalahan tersebut. Caranya dengan takut akan Tuhan, cinta kasih dan tepo seliro, tenggang rasa, empati, saling menghargai dan mengasihi serta gotong royong agar kehidupan dimasyarakat dapat berjalan lebih baik dan menyenangkan.

Anak Muda dan Pancasila

Olivia Zaliyanti, seniman dan inspiratoor muda juga mengulas tentang pancasila dalam pandangan generasi muda. Menurutnya, pancasila saat ini dan masa yang akan datang sangatlah masih relevan dan masih sangat dibutuhkan.

“Hal ini dilatarbelakangi dari masih banyaknya permasalahan-permasalahan yang ada dalam lingkup masyarakat dan juga bernegara dalam lingkup yang lebih luas. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut, pancasila haruslah menjadi sebuah karakter bangsa Indonesia,” ungkap peremuan yang akarab disapa dengan Oliv ini.

Ia juga menambahkan, relevansi ini dapat menjadi jiwa teknologi dimasa yang akan datang. Namun permasalahannya adalah teknologi tersebut tidak memiliki jiwa kemanusiaan. Oleh karena itu, perlu adanya penyaring akan permasalahan tersebut dengan adanya pancasila tersebut.

Terakhir, Olivia menyimpulkan bahwa pancasila adalah satu-satunya penyelamat keberadaan manusia itu sendiri dari kepunahan yang disebabkan oleh kecerdasan manusia itu sendiri, yang mana oleh mana kecerdasasn buatan itu tidaj memiliki sifat manusiawi, sifat kemanusiaan serta naluri.

“Tidak hanya pemaparan yang menarik dari para narasumber yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab secara aktif. Kegiatan ini juga turut disematkan doa bersama bagi bangsa untuk kemanusiaan dan juga perdamaian dunia,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Editor: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed