by

Perilaku Bakti di Tengah Pandemi

Oleh: Budi Setyawan (Rohaniwan Khonghucu)

Sudah hampir dua tahun Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Apakah pandemi Covid-19 ini merupakan ujian dari Tuhan? Atau ini akibat dari perbuatan/ulah manusia?

Mari kita ulas ayat berikut: Bingcu berkata, “Tiada sesuatu yang bukan karena Firman, maka terimalah itu dengan taat di dalam kelurusan.” Dalam ayat lain, “Maka orang yang mengenal firman, tidak berdiri dibawah tembok yang sudah miring retak. (Bingcu VII A : 2)

Merujuk ayat di atas, bisa dikatakan bahwa Covid-19 terjadi karena Firman. Tentu ada hikmah atau pembelajaran yang bisa diambil dari pandemi ini. Misalnya, sekarang kita jadi lebih peduli akan kesehatan, jika keluar rumah selalu memakai masker, lebih sering mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan selalu menjaga jarak. Selain itu, mobilitas dan transportasi juga dibatasi sehingga polusi udara berkurang signifikan. Pegunungan yang selama ini tidak tampak dari kejauhan, sekarang dapat telihat jelas.

Apakah kita harus takut dengan virus ini? Rasa takut tetap perlu, dalam kerangka menjaga keselamatan, tetapi jangan berlebihan. Sebab, ketakutan yang berlebihan akan menurunkan imunitas/kekebalan tubuh.

Pemerintah telah membuat sejumlah aturan dalam rangka mencegah penuliran Covid-19. MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu) juga meniadakan kebaktian di Litang, Kongmiau, dan Kelenteng- Kelenteng selama Pandemi Covid-19.

Baca Juga: Memaknai Saraswati

Didalam kitab sanjak tertulis, “Tekun hidup sesuai firman, memberkati diri banyak bahagia.”  Di dalam Kitab Thay Kak tertulis, “Bahaya yang datang oleh ujian Tuhan dapat dihindari, tetapi bahaya yang dibuat sendiri tidak dapat dihindari. Ini kiranya memaksudkan hal itu” (Bingcu IIA: 6).

Maksud dari ayat, “bahaya yang datang oleh ujian Tuhan dapat dihindari” adalah bahwa Virus Covid-19 dapat kita hindari dengan melakukan; menjaga jarak dengan menghindari tempat keramaian, memakai masker jika bepergian atau keluar rumah, mencuci tangan sesering mungkin sehabis memegang sesuatu.

Adapun maksud dari ayat “bahaya yang dibuat sendiri tidak dapat dihindari”, contohnya adalah orang yang tidak mengindahkan atau menyepelekan peraturan dan anjuran pemerintah. Mereka tetap berkumpul dan berkerumun. Akibatnya terjadi klaster penularan Covid-19.

Di antara kita, pasti banyak yang bertanya kapan pandemi ini akan berakhir? Di dalam Kitab “Iching/Yaking”, disebutkan “Bahwa ada awal ada akhir”. Jadi sudah cukup jelas pandemi ini akan segera berakhir jika kita dengan disiplin mengindahkan peraturan dan anjuran yang dibuat oleh pemerintah

Apakah kaitannnya antara laku bakti dengan Covid-19?

Di dalam agama Khonghucu, ada yang namanya awal laku bakti. Yaitu, dengan kita menjaga tubuh, anggota badan, kulit kita dengan sebaik-baiknya dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tidak sampai rusak. Caranya, jangan sampai kita terkena virus Covid-19, itu salah satunya.

Kita juga mengenal yang dikatakan akhir dari laku bakti. Yaitu, dengan memuliakan orang tua, meninggalkan nama baik di kemudian hari. Maksudnya, kita selama hidup harus melakukan  perbuatan baik sehingga memuliakan orang tua. Dengan kita mematuhi peraturan dan anjuran pemerintah otomatis kita sudah melakukan dari akhir laku bakti itu.

Seorang murid Nabi Khongcu yang bernama Cingcu/Zengzi pernah berkata “Seseorang karena kecintaannya terhadap harta berhemat -hemat terhadap orang tuanya.” Ayat ini mengingatkan kita jangan sampai tidak dapat membahagiakan orang tua kita semasa hidup. Sebab, kelak akan menimbulkan penyesalan. Ketika orang tua kita telah tiada, kita tidak pernah membahagiakannnya.

Di dalam agama Khonghucu, ada tiga tingkatan dalam bakti, yaitu: memuliakan orang tua, tidak memalukan orang tua, hanya melakukan perawatan saja. Jika kita hanya memenuhi kesehatan dan pangan dan pemeliharaan orang tua, itu baru tingkat terendah dari bakti. Jika kita berusaha melakukan perbuatan dan tindakan yang tidak memalukan orang tua dan menjaga nama baiknya, itu hanya baru tingkatan yang kedua dalam bakti. Laku bakti yang terbesar yaitu memuliakan orang tua, dengan cara banyak melakukan perbuatan baik dan bermanfaat bagi orang banyak yang dapat kita lakukan setiap waktu dan di mana pun .

Apakah maksud dari ayat “Hati-hati saat orang tua meninggal, janganlah lupa memperingatinya sekalipun telah jauh.” Maksud dari ayat ini adalah mengingatkan kita untuk selalu mendoakan orang tua kita yang telah tiada. Misalnya saat chengbeng/zhengming, kita jika tidak bisa berdoa di makam , kita bisa mendoakan orang tua kita dari meja altar leluhur di rumah.

Sedangkan maksud dari ayat “Pada saat hidup, periksalah cita-citanya, dan pada saat meninggal periksalah perbuatannya”, adalah ketika beliau hidup kita berusaha memenuhi keinginannya yang belum terlaksana. Misalnya, jika orang tua kita berpesan jika lulus SMA, agar melanjutkan kuliah, atau jika kita sudah lulus kuliah agar bekerja dahulu untuk mendapatkan penghasilan yang cukup baru menikah.

Adapun maksud ayat selanjutnya adalah agar kita meneruskan sikap, prinsip, tindakan dan perbuatan baik orang tua kita agar kita bisa meneladaninya dan meneruskannya di dalam sikap dan perilaku kita. Misalnya, jika orang tua kita semasa hidupnya terkenal kedermawanan dan kebaikannya dengan tetangga sekitar, kita harus dapat menjaga reputasi atau nama baik orang tua kita dengan berusaha dapat meniru perbuatannya, bukan malah membuat malu orang tua kita karena sikap dan perbuatan yang kita lakukan atau perbuat.

Budi Setyawan (Rohaniwan Khonghucu)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed