by

Perempuan Palestina Hadapi Dua Kepungan: Blokade Gaza dan Corona

Kabar Damai | Minggu, 18 April 2021

 

Jakarta I Kabardamai.id I Penderitaan masyarakat Palestina menjadi duka masyarakat di seluruh dunia. Simpati, doa dan bantuan senantiasa mengalir kepada mereka, saudara-saudara kita yang hidup dalam kesulitan dan ketidakpastian karena kejamnya zionis. Hal ini membuat lembaga kemanusiaan fokus membantu Palestina melalui berbagai hal yang dapat dilakukan.

Mereka ialah Adara Relief International, lembaga bantuan untuk membantu anak dan perempuan Palestina di Indonesia. Mereka juga turut didukung oleh komunitas peduli Palestina dari seluruh Indonesia. Komitmennya adalah untuk menjadi lembaga kelembagaan yang terdepan dan terpercaya serta independen dalam membantu perempuan  dan anak di Palestina.

Adara Relief International menyelenggarakan virtual meeting zoom dengan pembicara Dr. I’timad Abdul Aziz ath-Tharsyawi. Ia adalah aktivis perempuan dan pemerhati kemanusiaan yang menjabat sebagai Dirjen di Departemen Ketenagakerjaan Palestina. Dipandu dan diterjemahkan oleh Hasanah Ubaidullah ketua jaringan strategis Adara Relief International, berikut adalah pemaparannya dalam menjelaskan tantangan perempuan Palestina dalam menghadapi kepungan di Gaza dan juga Corona. Kamis, (15/4/2021).

Perempuan Palestina dan Perjuangannya

Berbicara tentang penderitaan masyarakat Palestina, tentu semua tahu jika ini sudah terjadi sangat lama. Hal ini dibenarkan oleh I’timad. Menurutnya, penderitaan sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu.

“Derita perempuan Gaza dan Palestina bukan dimulai hari ini, 10 tahun atau 20 tahun saja, tapi sejak 70 tahun lalu. Dulu perempuan aman, tentram, dan nyaman. Namun setelah datang zionis yang mengusir membuat mereka yang awalnya sejahtera hancur karena datangnya zionis tersebut,” ujarnya.

“Perempuan Palestina terusir dari Palestina, mereka hijrah dan melepaskan diri. Ada yang meninggal dalam perjalanan, ada yang meninggal keluarganya, juga anak-anaknya. Ini menjadi perjalanan yang memprihatinkan tidak hanya jasad namun juga batin. Bagaimana mereka terusir dari wilayah aslinya, diambil harta benda dan dengan segala kenangannya mereka rindukan. Mereka mengungsi dan berharap mereka bisa kembali, namun sekian lama tidak kunjung mendapatkannya. Tapi ia yakin akan mendapatkannya kembali suatu hari nanti,” ungkap I’timad.

Ia menambahkan, walaupun hidup dalam kesulitan perempuan Palestina tetap kuat. Hal ini karena mereka selalu yakin kemerdekaan akan diperolehnya suatu saat nanti.

“Perempuan-perempuan Palestina yang mengungsi itu tinggal di tenda-tenda pengungsian puluhan tahun. Perempuan di Palestina yang ada di Gaza diberi dua permasalahan yakni kepungan dari zionis dan peperangan-peperangan. Walaupun dari banyaknya peperangan, perempuan Palestina tetap kuat sehingga mereka akan tetap teguh berjuang untuk memperoleh kemerdekaan,” terangnya.

Tidak hanya sampai di situ, beban berat perempuan Palestina juga semakin bertambah tatkala mereka masih harus bekerja agar dapat membiayai keluarga.

 

Baca Juga :  Cara Shakilla Zareen Perjuangkan Suara Ketidakadilan Terhadap Perempuan

“Perempuan Palestina juga harus bekerja dan membiayai kebutuhan kaluarga, hal ini karena tingginya angka pengangguran disana. Para mahasiswa tidak bisa mendapatkan ijazahnya, tidak dapat melanjutkan beasiswa ke luar negeri dan tidak boleh bekerja di luar negeri pula,” bebernya.

Ungkapan bahwa Tuhan Mahaadil sejatinya benar-benar dapat diterima. Hal ini dibuktikan dengan rahmat kecerdasan kepada perempuan-perempuan Palestina. Lewat kecerdasan yang dimilikinya, perempuan-perempuan juga kemudian dapat berpartisipasi dalam menentukan kebijakan dalam kehidupan bernegara.

“Perempuan-perempuan di Palestina khususnya yang ada di Gaza termasuk perempuan yang berprestasi dan terpelajar. Di Gaza, perempuan punya peran besar dalam kehidupan politik dan sosial kemasyarakatan. Ada yang menjadi Menteri dan lain sebagainya, kemudian itu yang digunakan sebagai penentu dalam kebijakan kenegaraan,” jelasnya.

 

Blokade dan Corona: Sangat Memilukan

Pandemi Covid-19 merupakan wabah virus yang sedang menjangkau seluruh lapisan masyarakat dunia. Wabah ini menyebabkan pola kehidupan masyarakat yang membuat situsi semakin sulit. Terlebih bagi mereka yang hidup di tengah lokasi konflik seperti yang ada di Gaza, Palestina.

Kesengsaraan masyarakat Palestina kini tidak sebatas pada kejamnya zionis melalui kiriman bom dan kesengsaraan khususnya bagi perempuan dan anak, namun juga karena dampak corona yang kini membuat kehidupan semakin sulit.

“Berkenaan bagaimana mereka beradaptasi dengan peperangan, zionis bahkan corona tentu sangat sulit. Namun melalui usahanya perempuan juga tetap harus dapat menyalakan api kompor, namun lebih dari itu api kompor yang mereka nyalakan bukan sebatas kompor dapur namun mereka juga menyalakan api semangat. Mereka mampu membentuk tantara yang melawan kezaliman,” tandasnya.

Semua yang dilakukan masyarakat Palestina termasuk mereka para perempuan didasari pada satu keyakinan, yaitu kemerdekaan.

“Saat ini mereka memang belum merdeka, namun mereka yakin bahwa suatu saat Palestina akan Merdeka,” harapnya.

Perjuangan = Kematian

Perempuan di Gaza, Palestina adalah perempuan yang kuat. Mereka senantiasa berjuang untuk dapat membebaskan Masjidil Aqsa.

“Dibalik Moto dibalik laki-laki yang hebat, ada perempuan yang baik pula di belakangnya. Ini benar-benar terjadi di Gaza. Mereka mengantar suami dan anak untuk berjuang, namun mereka juga tidak jarang untuk turun berjuang. Ini untuk membebaskan Masjidil Aqsa dari Zionis Yahudi,”katanya lagi.

“Suami dan anak pergi untuk berjuang lalu kembali, suatu saat mereka tidak kembali. Pada fase inu mereka para perempuan sadar dan berserah bahwa mereka yang berjuang telah syahid (gugur-red). Apabila syahid, mereka selalu husnuzon balasannya adalah pahala dari Allah.”

“Bahkan jika saat ada kelurga yang meninggal, perempuan Gaza tidak bersedih. Mereka tetap semangat dan menghibur diri. Ini karena perempuan sudah menentukan tujuan dalam hidup ini yaitu hidup mulia atau mati syahid,” terangnya.

Perempuan, Bukan Beban

Kuantitas perempuan di Gaza ialah separuh dari total penduduk Gaza itu sendiri, termasuk anak-anak yang kemudian dididik juga dilakukan oleh perempuan. Hal ini berarti, jika berbicara tentang perempuan Gaza adalah representasi dari sebagian besar penduduk keseluruhan yang ada disana.

“Perempuan Gaza juga berjuang untuk mendapatkah hak-hak, maka disana ada undang-undang perempuan. Perempuan menjadi setengah penduduk gaza, dan setengahnya lagi adalah didikannya sehingga bisa dikatakan bahwa perempuan adalah representasi dari penduuduk Gaza itu sendiri,” ungkapnya.

Walaupun hidup dalam keadaan sulit, perempuan Gaza tak mudah menyerah. Mereka senantisa mengembangkan diri agar dapat berdaya dan tidak membebankan orang lain.

“Perempuan-perempuan Gaza mendirikan gerakan untuk meningkatkan kemampuan tdk hanya secara ilmiah namun juga untuk dirinya sendiri. Ini agar mereka tetap dapat berkarya dan tidak menjadi beban untuk orang lain,” tambahnya lagi.

Terakhir, ia mengharapkan hak Palestina dan umat Islam diseluruh dunia dapat diperoleh, karena ia yakin semua akan didapatkan pada waktunya.

“Nenek, ibu dan seluruh keluarga saya selalu berpesan untuk mencintai Palestina. Karena itulah saya tidak akan tenang dan puas sebelum saya bisa shalat di Masjidil Aqsa dalam keadaan merdeka. Insya Allah masa depan akan gemilang bagi Palestina dan umat Islam. Hak Palestina dan hak umat Islam akan kita dapatkan,” pungkasnya penuh harap.

 

Penulis: Rio Pratama

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed