by

Perempuan Karir dalam Islam

Kabar Damai I Selasa, 06 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Perempuan kerap dianggap nomor dua dalam kehidupan manusia. Segala hal yang berkaitan dengannya kemudian diatur oleh pihak pertama, suami jika ia sudah menikah. Hal ini menyebabkan perempuan sulit untuk berkembang dan tidak banyak yang kemudian terkekang dalam sebuah ikatan pernikahan.

Pada dasarnya, apapun gendernya asalkan merasa mampu dan kuat serta punya keinginan serta tekat yang kuat tentu boleh saja diperbolehkan. Hal ini dibuktikan dengan perempuan juga dapat berkarir dan punya kehidupan yang layak.

Ustadzah Zahrotun Nafisah, Direktur Bincang Muslimah.Com dalam kanal youtube Nu Online memaparkan tentang perempuan karir dalam Islam. Menurutnya, hal ini masih banyak menjadi dilema bagi perempuan, padahal kebutuhan perempuan itu sendiri sangat beragam dalam finansial dan atau sejenisnya.

“Perempuan seringkali mengalami dilema dalam hidupnya terlebih dalam bekerja, di abad 21 kita kerap menemukan perempuan turut bekerja, kebutuhan mereka bekerja pun beragam. Ada yang untuk membantu kebutuhan keluarga, atau hanya untuk kebutuhannya sebagai perempuan yang merasa hidup dengan bekerja atau bahkan menjadi tulang pungung keluarga yang utama,”.

Baca Juga: Apresiai Islam terhadap Anak Perempuan

“Perempuan masih dilema mengenai doktrin yang ada, bahkan Islam menjadi legitimasi dari doktrin ini bahwa perempuan tak perlu bahkan tak boleh bekerja terlebih setelah menikah. Seolah keputusannya bekerja atau di rumah saja ada pada suaminya,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, menurutnya hal serupa tentu sangatlah lemah dan mudah untuk dipatahkan. Hal ini karena sejak zaman Rasul pun sudah ada perempuan yang bekerja. Bahkan, dua diantaranya adalah istri Rasul itu sendiri.

“Dogma ini tentu dengan mudah dibantah, perempuan-perempuan pekerja pada zaman Rasulullah sudah banyak yang dapat kita lihat. Salah satunya Khodijah, salah seorang saudarar kaya yang barang dagangannya sampai diperjualbelikan sampai ke luar kota bahkan luar negara. Ia bekerjasama dengan laki-laki dan perempuan. Bahkan, Rasulullah dan Abu Thalib pernah bekerjasama dengannya pula,”.

“Selain itu, Aisyah istri Rasulullah yang menjadi periwayat hadist dan guru juga bekerja di ruang publik. Dua contoh perempuan tadi adalah perempuan yang menyandang status sebagai istri Rasulullah,” jelasnya.

Hal tersebut kemudian terus ada dan berkembang karena perempuan juga harus memenuhi kehidupannya.

“Selain itu, perempuan di zaman Rasul setelah beliau menerima kenabian juga banyak yang bekerja, terutama untuk memenuhi hidupnya,” tambahnya.

Perempuan bekerja tentu dikarenakan adanya alasan yang kuat, misalnya selain untuk dirinya sendiri juga guna membiayai kebutuhan keluarganya.

“Kehidupan manusia yang begitu kompleks dan perempuan yang punya kehidupan yang berbeda tentu punya pilihan untuk bekerja. Bahkan kadang bekerja menjadi satu-satunya pilihan agar ia cukup membiayai keluarganya,”.

“Jikapun perempuan memilih untuk tidak bekerja, maka itu menjadi pilihannya,” ujarnya.

Pola patriarki yang ada kerap menempatkan perempuan ditempatkan pada ranah domenstik. Menurut Zahrotun Nafisah, pekerjaan domestik semestinya dapat disepakati pembagiannya.

“Soal pekerjaan domestik, tentu itu adalah kewajiban bersama yang bisa didiskusikan pembagian tugasnya. Bukan dibebankan pada perempuan semata. Kepada anak perempuan, istri atau ibu,” terangnya.

Terakhir, menurutnya perempuan adalah manusia. Oleh karenanya perannya sebagai subjek harus diperlakukan dengan baik.

“Marilah kita melihat perempuan sebagai manusia, sebagai subjek yang punya peran dalam kehidupan baik diranah privat maupun publik,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed