by

Perempuan: Bambu Runcing Aksi Teror

-Opini-21 views

oleh: Ali Mursyid Azisi

Aksi teror yang identik dengan kekerasan sebagaimana yang acap kali menghantui masyarakat Indonesia banyak meninggalkan trauma tersendiri, baik individu maupun negara sekalipun. Rekam jejak aksi teror selama ini bisa kita ketahui seperti aksi bom Thamrin (2016), bom Molotov di Kalimantan Timur dan Barat (2016), di Jawa Tengah yaitu bom Solo (2016), bom di Surabaya (2018), tragedi pembunuhan Mako Brimob, Depok, Jawa Barat (2018), kasus bom Katedral di Makassar dan aksi-aksi lainnya.

Dari aksi-aksi tersebut didominasi oleh kalangan laki-laki. Dengan berbagai latar belakang seperti ekonomi, keadaan sosial, bahkan yang lebih besar lagi yaitu pengaruh doktrin agama (jihad fi sabilillah) menjadi kobar api semangat untuk melancarkan aksi kekerasan tersebut. Hadirnya pemahaman agama eksklusif dan tekstualis yang ditanamkan gerakan terorisme/ekstrimis Islam merupakan hal yang menjanjikan bahwa syurga adalah jaminanya. Maka tidak heran aksi kekerasan/peperangan yang mengatasnamakan agama begitu gencar dibumikan.

Dalam hasil riset Yuangga Kurnia Y bertajuk Fenomena Kekerasan Bermotif Agama di Indonesia, dikatakan bahwa dalam mencapai tujuan mereka, para oknum-oknum fundamentalis dan ekstrimis menggunakan jalan violence and destruction and even fighting against those who disagree. Bahkan kasus kekerasan lainnya dalam track record di Indonesia beberapa tahun silam tepatnya 2011 secara terang-terangan aksi terorisme mengenakan kaos bertuliskan jargon Jihad, The Wa of life.

Baca Juga: Komnas Perempuan Berikan Tips Mengentaskan Beban Ganda Perempuan saat PPKM

Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, fenomena di atas tidak sedikit melibatkan perempuan dalam melancarkan aksi kebencian dan kekerasan tersebut. Seperti bambu runcing yang siap menusuk lawannya tanpa suara, dan bahkan perempuan yang dianggap lemah seolah menjadi senjata ampuh dalam mengelabuhi target. Begitulah kiranya yang tengah terjadi beberapa waktu silam di Indonesia, yaitu ketika aksi penodongan senjata api jenis air gun oleh gadis Bernama Zakiah Aini kepada Mabes Polri 31 Maret, 2021. Kemudian aksi bom di Fillipina 2020 silam oleh WNI dan melibatkan beberapa perempuan di situ yaitu Rezky Fantasya Rully, Inda Nay dan Nanah. Kemudian aksi terorisme bom bunuh diri di Makassar, tepatnya di Gereja Katedral pada 28 Maret 2021 juga melibatkan tiga orang perempuan.

Beberapa kasus di atas bisa kita lihat betapa besar pula kontribusi perempuan dalam menggencatkan aksi teror yang begitu membahayakan. Sebagian besar mengapa keterlibatan perempuan dalam aksi ektrim/teror ini begitu kuat, (Mulia, 2018) dalam hasil risetnya mengatakan yaitu karena adanya motivasi yang bersifat teologis. Amar ma’ruf nahi mungkar, jihad fii sabilillah, perintah memerangi orang kafir (pemahaman Al-Qur’sn tekstualis)/thagut, dan jargon lainnya merupakan sasaran doktrin kelompok radikal karena dianggap memiliki legitimasi dalam mengontrol kaum hawa.

Bahkan dalam wacana feminisme, faktor mengapa perempuan acap kali dilibatkan dalam aksi teror dikarenakan mereka adalah individu yang mudah diandalkan dalam segi kesetiaan, loyalitas dan kepatuhannya. Apalagi yang dihadapkan dan dijanjikan erat berkaitan dengan agama dan termasuk the vulnerable groups, yaitu secara sosiologis dikatakan “rentan”, seperti halnya ketika mengakses media sosial tetapi literasinya lemah sehingga mudah menerima dan menyimpulkan. Hal ini juga berlaku pada doktrin kelompok radikalis, ekstrimis, teroris yang kini tersebar di media sosial.

Faktor lain lainnya yaitu karena keluarga dan lingkungan. Hal ini dianggap efektif yaitu dengan menikahi perempuan untuk mendukung aksi radikal dan teror salah satunya di Indonesia. Bahkan yang sebelumnya hanya sebagai penunjang/pendukung para suaminya yang dianggap berjuang/jihad terhadap agama lalu mati syahid dan akan mendapat syurga, dalam beberapa tahun terakhir perempuan juga terlibat langsung dalam aksi penyerangan sebagaimana beberapa kasus di atas.

Hasil riset Udji Asiyah, dkk, yang bertajuk Jihad Perempuan dan Terorisme, perempuan dikatakan rentan terpapar paham radikal. Lebih mencengangkan lagi yaitu terdapat seorang perempuan bernama Diah Novi Yulia yang salah dalam merepresentasikan makna “Jihad”. Ia bergabung dengan kelompok ekstrim yaitu JAD (Jamaah Ansharut Daulah) yang berada di bawah naungan ISIS karena terdoktrin secara daring. Dari sini tentu aksi-aksi menjamurkan paham ekstrim terhadap kaum perempuan begitu mudah untuk digencarkan.

Memanfaatkan kesempatan untuk menjadikan perempuan sebagai kelinci percobaan, bambu runcing dalam penyerangan, atau bahkan mengoptimalkannya sebagai korban paham radikalis, menjadikan perempuan target empuk dalam ikut andil membumikan kekerasan. Padahal, dalam agama-agama tidak dibenarkan suatu tindakan atau ajaran yang mengarah pada kekerasan, termasuk Islam.

Seorang ulama NU (Nahdlatul Ulama) sekaligus mantan Rektor UIN Sunan Ampel, Surabaya, Abdul A’la mengatakan bahwasanya aksi ektrim/kekerasan dan sejenisnya yang dilakukan oknum teroris tidak ada kaitannya dengan ajaran tiap agama (Asiyah, 2020). Jikalau tindakan yang dilakukan mengatasnamakan agama, maka sebenarnya hal itu ditunggangi berbagai kepentingan. Hal ini juga berlaku kepada kaum perempuan yang acap kali dijadikan salah satu senjata yang mudah mengelabuhi aparat keamanan maupun masyarakat secara umum.

Sebagai rujukan primer umat Islam, Al-Qur’an sendiri tidak membenarkan bahwa manusia harus membumikan kekerasan dan saling membunuh sesama atas nama agama. Justru menekankan untuk memahami perbedaan, membumikan toleransi, menjalin hubungan sosial yang baik (saleh sosial, tidak hanya saleh ritual dan spiritual), menebar cinta kasih terhadap siapapun. Sebagaimana yang terkandung dalam QS. Al-Hujarat: 9 dan 13, QS. An-Nisa’: 90 dan 114, QS. Al-Anfal: 61, QS. Al-Baqarah: 256, QS. Yunus: 40 dan 99, QS. Hud: 118, QS. Al-Anbiya: 107.

Ali Mursyid Azisi, Mahasiswa Studi Agama-agama UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed