Perempuan Adat Sebagai Pewaris Pengetahuan Adat

Kabar Puan, Opini691 Views

Oleh : Efrial Ruliandi Silalahi (peneliti sekaligus relawan di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)

Perempuan adat merupakan tulang punggung komunitas Masyarakat Adat serta berperan penting dalam pelestarian sumber daya alam dan pengetahuan tradisional leluhur.

Perempuan adat juga turut memimpin dalam membela tanah dan wilayah adatnya, serta mengadvokasi hak-hak Masyarakat Adat.

Meskipun perempuan adat berperan sebagai pencari nafkah, pengasuh, pengampu pengetahuan, pemimpin dan pembela hak asasi manusia, mereka sering mengalami diskriminasi berbasis gender, kelas, etnis, dan status sosial ekonomi.

Peran Perempuan Adat

Karya dan peran perempuan adat sebagai produsen pangan utama, menjaga pengetahuan adat, meramu obat tradisional, menenun hingga mengayam kerajinan tangan. Perempuan adat adalah perempuan yang memiliki peran serta fungsi menjaga ketahanan hidup komunitasnya.

Hal tersebut berdasarkan asal-usul leluhur secara turun-temurun di atas wilayah adat yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alamnya, kehidupan sosial budaya yang diatur oleh hukum adatnya juga lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan Masyarakat Adat.

Peran untuk menjaga dan meneruskan pengetahuan tradisional tersebut sangatlah melekat terhadap perempuan adat. Salah satu aktivitas pewarisan pengetahuan di antaranya keahlian berladang dimiliki oleh perempuan adat. Dari aktivitas berladang, perempuan adat dapat menjaga ketahanan hidup keluarga maupun komunitasnya.

Meski memiliki banyak rintangan, perempuan adat menunjukkan peran strategis dalam proses pengambilan keputusan di beberapa komunitas. Misalnya saja dalam menduduki kepemimpinan dalam peran komunal maupun nasional, dan berdiri di garis depan untuk mempertahankan tanah mereka dari kepunahan keanekaragaman hayati di wilayah adatnya.

Masyarakat Adat itu sangatlah dinamis karena budaya dan kehidupan mereka berkembang seiring waktu dan perubahan yang terjadi di wilayah adatnya. Kehidupan mereka dipengaruhi oleh hubungan yang dijalin harmonis dengan alam.

Wilayah adat merupakan hidup dan kehidupan bagi Masyarakat Adat. Tempat dimana perempuan adat mendapatkan makanan, obat-obatan, bahan anyaman, tenunan dan lainnya. Tempat dimana hubungan spiritualitas menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, perempuan adat melawan perlakuan perusakan alam dan perampasan wilayah adat atas nama pembangunan yang tidak berkeadilan.

Pembicaraan mengenai hak-hak kolektif perempuan adat seringkali tenggelam dalam pembicaraan utama mengenai hak Masyarakat Adat itu sendiri. Tidak adanya pengakuan pada Masyarakat Adat menjadikan perempuan adat sering mengalami diskriminasi/pembatasan yang berlapis dan semakin kompleks.

Kerentanan mereka sebagai perempuan maupun perempuan adat dan sebagai bagian dari Masyarakat Adat tidak hadir di dalam komunitasnya apalagi dalam kehidupan bernegara.

Keterampilan perempuan adat sebagai penenun hanya dihargai dalam bentuk kain tenun yang diproduksi tetapi tidak mengetahui perjalanan panjang untuk menghasilkan motif yang digunakan dan dikembangkan.

Pengetahuan mengenai bahan-bahan pewarna alami serta bagaimana cara pengaplikasian pada tenunan merupakan pengetahuan yang dikembangkan dan dipraktekkan secara berkelompok sehingga tidak dapat dipatenkan oleh individu.

Praktik menenun selain sebagai ruang budaya dan penciptaan perempuan adat, belum ditempatkan sebagai bentuk pekerjaan tradisional perempuan adat dalam pemenuhan sandang.

Juga selain memproduksi barang-barang yang dibutuhkan dalam ritual dan pelaksanaan beragam upacara adat lainnya serta merupakan karya seni yang bernilai tinggi. Ini masih salah satu contoh dari sekian hak kolektif perempuan adat yang belum mendapatkan perlindungan diberagam kebijakan di Indonesia.

Pewaris Pengetahuan Adat

Sejak jaman nenek moyang, Masyarakat Adat sudah berusaha untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri dengan menggunakan pengetahuan adat sebagaimana yang telah diturunkan oleh para leluhur.

Menjaga wilayah adat sama artinya dengan menjaga bumi untuk keberlangsungan dan ketersediaan kedaulatan atas pangan. Dengan cara ini perempuan adat terus-menerus mempraktekkan dan mengembangkan pengetahuan yang dimiliki untuk generasi mendatang.

Penghancuran wilayah kelola perempuan adat terus-menerus terjadi. Wilayah adat juga digerus oleh pembangunan infrastruktur, kawasan industri, sektor pariwisata, transmigrasi, maupun kawasan konservasi.

Akibatnya, perempuan adat kehilangan wilayah kelola, pengetahuan, dan juga otoritasnya. Jika keadaan ini terus berlanjut, perempuan adat akan kehilangan jati diri, martabat, serta menjadi  budak di negerinya sendiri.

Bagi perempuan adat, hutan memiliki filosofi yang mendalam bagi seluruh aspek kehidupan, terutama bagi Masyarakat Adat di Nusantara yang hidup berdampingan dengan hutan. Perempuan adat menggantungkan hidupnya dari beragam hasil hutan.

Hutan memiliki banyak makna bagi perempuan adat dimana hutan dimanifestasikan sebagai perpustakaan, apotek hidup, hingga dianalogikan sebagai supermarket. Hutan memberikan kekayaan melimpah, mulai dari sumber pengetahuan, obat-obatan, hingga bahan pangan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga maupun komunitasnya.

Bagi Masyarakat Adat, hutan menjadi sangat penting terutama bagi perempuan adat sebagai ruang hidup. Perempuan adat mampu bertahan di tengah krisis pandemi yang melanda saat ini. Ruang domestik perempuan adat adalah ruang seluas wilayah adat, bukan sepetak dapur.

Pengetahuan perempuan adat bisa bekerja untuk membuat kampung-kampung bertahan menghadapi pandemi, menjalankan nilai-nilai dan praktek luhur nenek moyang, serta tradisi gotong-royong.

Perempuan adat juga memiliki rasa senasib sepenanggungan dan memanfaatkan kekayaan titipan leluhur secara arif dan bijaksana.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *