by

Perdamaian dan Inovasi Pendidikan Berkemajuan

-Opini-7 views

Oleh: Yosephine Dian Indraswari

“Peace-santren yang berlandaskan nilai welas asih, empati, dan perdamaian ini menjadi model pendidikan Islam rahmatan lil alamin, welas asih bagi semesta alam” (Irfan Amalee)

Jumat 28 Februari 2020. Langit tampak cerah tersaput sedikit awan di atas Samarang, Garut, Jawa Barat. Udara sejuk mengalir di tengah rombongan tamu dari Jakarta sehingga rasa gerah tak lagi singgah. Mereka duduk rapi berjajar sebelum acara dimulai.

Hari itu, pemimpin dan staf PPIM UIN Jakarta, UNDP Indonesia beserta beberapa pejabat dari Kemenko PMK, Kemenag, Kemendikbud, Bappenas, BNPT dan berbagai instansi lainnya, berkunjung ke pesantren yang didirikan Abah Irfan Amalee. Pesantren ini baru berdiri satu tahun, sebagai wujud mimpi dan cita-cita Peace Generation Indonesia (PeaceGen), untuk menumbuhkan nilai-nilai perdamaian dari program Convey.

Berdirinya lembaga pendidikan dan pengasuhan berbasis pesantren ini membawa harapan munculnya generasi baru yang berkembang dengan berlandaskan nilai-nilai welas asih, empati, dan perdamaian sesuai konsep Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

Tetamu disambut santri-santri beregrang dan disematkan gelang kulit tanda persahabatan. Mereka selanjutnya dijamu teh hangat khas Garut sembari mendengarkan musik mengalun lembut dan puisi dibacakan santriwati Tsuraya. Isi puisi mengajak merenungi dan menghargai pengorbanan para petani dari mulai mengolah tanah, menyemai benih teh, berdamai dengan angin, hingga saat menyajikan dan sampai ke tangan tetamu.

Team leader Convey Indonesia, Profesor Jamhari Makruf terharu dan hampir meneteskan airmata mendengarkan renungan dalam puisi itu. Acara kemudian ditutup dengan permainan angklung bersama serta menikmati jajanan tradisional, sebelum akhirnya para santri mendampingi para tamu untuk tour ke asrama dan lingkungan pesantren.

Baca Juga: Ketua DPP WKRI: Mulai dari Rumah Perempuan sebagai Agen Perdamaian

Profesor Jamhari juga mendapatkan kesan positif lain dari pesantren ini. Ia mengatakan, para santri di sini berbeda dengan pesantren pada umumnya. Mereka berinteraksi  dengan berani, percaya diri dan seolah tanpa jarak dengan guru, sesama santri bahkan dengan para tamu yang tidak mereka kenal sebelumnya.

Dengan cara sederhana itu, menurutnya, Peace-santren Welas Asih berhasil menanamkan nilai-nilai keterbukaan, keberanian bertanya, kepandaian menyampaikan pendapat, sekaligus kerendahhatian dan mengagungkan kesetaraaan. Jamhari juga terkesan dengan ajaran pentingnya para santri untuk mencintai alam, disertai kedisiplinan untuk menuliskan pengalaman ke dalam buku-buku kecil yang mereka bawakan. Ia berharap Peace-santren Welas Asih ini dapat membesarkan pola pendidikan pesantren yang merdeka dan damai.

Melkianus Kebos, mewakili Kemenko PMK mengatakan hal senada, bahwa dari semua pesantren yang pernah dikunjunginya, Peace-santren Welas Asih Garut adalah pesantren yang paling berkesan di hatinya. Ia sengaja mengatakan pesantren ini satu-satunya pesantren yang didirikan dengan landasan nilai perdamaian, tidak semata dengan sesama manusia, namun juga akrab bersahabat dengan alam. Ia mengatakan ini adalah sebuah pesantren yang sederhana dari luar namun indah dan membuat betah saat berada di dalam. Sebuah pesan dititipkannya:

”Terima kasih Abah Irfan, para Ambu dan semua santri/santriwati. Teruslah berbunga dan berbuah karena dalam dirimu terdapat tiga kekuatan bangsa untuk maju: berakhlak mulia, berjiwa penolong dan bersahabat dengan alam. Matur nuhun dan sampai jumpa lagi … bunga indah di taman, taman hati taman impian. Welas asih indah tak kulupakan, tak pernah berakhir aku rasakan. Salam the power of tea. The power of bracelet “.

Disiplin Positif, Menumbuhkan Kedisiplinan dengan Cara Welas Asih Tanpa Hukuman

“Kemampuan untuk disiplin dan menunda kesenangan jangka pendek demi tujuan jangka panjang, adalah resep kesuksesan yang tak tergantikan” (Brian Tracy)

Walter Mischel, psikolog dari Stanford University pada tahun 1960-an membuat eksperimen. Anak-anak dimintanya duduk di kelas sendirian selama 15 menit ditemani satu

marshmellow. Jika berhasil tidak memakannya, maka diakhir akan diberikan dua marshmellow.

Cuma sepertiga dari 600 anak yang diuji yang berhasil tidak memakan permen tersebut, sebagian besar sudah gagal di menit pertama. Tiga puluh tahun kemudian, anak-anak yang sama diteliti kembali. Ternyata ada korelasi antara kemampuan menahan diri saat tes pertama, dengan kesuksesan mereka di masa dewasa. Anak-anak yang berhasil menahan godaan marshmellow, ternyata memiliki kehidupan yang lebih baik.

Mereka yang gagal dalam marshmellow test, kehidupannya relatif kacau karena memiliki kecenderungan gampang tergoda berbagai hal negatif seperti narkoba dan kriminalitas lainnya. Riset ini menunjukkan kemampuan untuk menunda kesenangan (delay ratification) atau dalam istilah Irfan, disiplin positif, adalah salah satu kunci menuju kesuksesan.

Kisah itu dapat dibaca pada blog laman Peace-santren Welas Asih. Pesantren ini memang dirancang untuk melahirkan santri yang memiliki tauhid khalish, akhlak mulia, dan berjiwa social entrepreneur. Welas asih adalah kata yang menurut Irfan mewakili sifat Allah (al-Rahman dan al-Rahim). Gagasan mendirikannya telah dituliskan sejak 5-6 tahun lalu.

Saat itu, Irfan menjalankan pendidikan perdamaian bersama tim PeaceGen, sebuah organisasi perdamaian yang ia dirikan tahun 2007.

Program Pendidikan perdamaian PeaceGen diterapkan di berbagai sekolah, komunitas, pesantren. Namun, dalam pada satu titik, Irfan merasa perlu membuat model pesantren yang bisa mengakomodir gagasan pendidikan perdamaiannya lebih komperehensif. Sebagai rintisan, sejak 5 tahun lalu setiap Ramadhan PeaceGen mengadakan Pecesantren Ramadhan.

Dimulai hanya di Bandung, pada tahun-tahun berikutnya Peacesantren Ramadhan dilakukan di 20 kota di Indonesia. Setelah ujicoba dengan Peacesantren yang bersifat event, akhirnya tahun lalu Irfan mendirikan Peacesantren Welas Asih sebagai model pesantren permanen. Bagi lembaga pendidikan yang baru, biasanya menjaring santri adalah hal paling menantang. Tetapi berkat konsep yang berbeda dan kekuatan sosial media, kuota Pecesantren Welas Asih angkatan pertama dan angkatan kedua terpenuhi, bahkan untuk angkatan kedua hingga ada yang daftar tunggu.

Irfan, yang telah berproses panjang dalam gerakan dan pendidikan perdamaian, mengatakan bahwa untuk life century skills diperlukan disiplin positif secara spesifik.

Problem yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, dalam bahasa sekolah, adalah siswa-siswa pada umumnya tidak ada ownership terhadap persoalan sehingga dari luar tampak sebagai individu-individu yang tidak termotivasi serta sulit diatur.

Disiplin positif yang imaksudkannya adalah kesadaran yang dibangun secara internal untuk melakukan segala sesuatunya dengan benar. Pesantren ini tidak mengenal hukuman untuk tujuan mempermalukan, tidak membenarkan bullying dan kekerasan dalam bentuk apapun, baik fisik maupun psikis. Sistem pendidikan yang dikembangkan adalah hubungan yang reflektif dan anti kekerasan.

Orangtua merupakan stakeholder yang selalu dilibatkan oleh pesantren terkait pendidikan anak-anaknya. Sebelum masuk, anak-anak mengikuti camp tiga hari dan diidentifikasikan potensi, disiplin positif dan pola refektifnya serta pemahaman tentang konsep anti bullying sehingga tidak kaget mengikuti sistem pendidikan pesantren.

Hasil identifikasi daya belajar siswa dimapping dan dikomunikasikan sehingga tiap orangtua memahami kondisi anak-anaknya. Orangtua juga diwajibkan ikut sosialisasi melalui online. Kini para santri yang belajar di sini sepertiga berasal dari Garut. Sisanya dua orang dari Pontianak dan sebagian lainnya berasal dari Bandung serta Jabodetabek.

Keterampilan 6C

Peace-santren Welas Asih menggunakan konsep yang dikatakan Nadiem Makarim. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini berpendapat bahwa pada abad 21, SDM handal dituntut memiliki keterampilan 6C yaitu creativity (kreativitas), colaboration (kerja sama), communication (komunikasi), compassion (kasih sayang), critical thinking (berpikir kritis) dan computational logic (logika komputasi).

Pesantren ini mengembangkan kurikulum dan basis pengajaran. Metode pengajaran yang partisipatif dan efektif juga dikembangkan disini melalui Problem Based Learning (PBL), Collaborative Learning (CL) serta pembelajaran berbasis games yang tidak membosankan bagi para siswa.

Di sini pelajaran sekolah dan kehidupan sesungguhnya diintegrasikan dalam konteks dan budaya pesantren. Kehidupan sesungguhnya yang dimaksud diwujudkan misalnya dengan penerimaan siswa-siswi mixed gender. Pada umumnya pesantren terpisah antara perempuan dan laki-laki, namun hal tersebut tidak berlaku di sini. Asrama memang terpisah, namun dalam pelajaran dan kehidupan sehari-hari ada pertemuan antara santriwan dan santriwati.

Dengan demikian pemahaman terhadap nilai-nilai dan perbedaan gender, menurut Irfan dapat diwujudkan. Model mixed gender claassroom juga terbukti melahirkan siswasiswa yang lebih berprestasi, memiliki empati dan penerimaan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Di sini pengajar laki-laki dan perempuan juga seimbang dalam segi jumlah dan ada kesetaraan baik antar guru maupun santri.

Pesantren ini juga memikirkan kesejahteraan mental bagi para pengajarnya. Jika pada umumnya pesantren, guru harus tinggal serta bekerja 24 jam sehari dan 7 hari dalam sepekan, maka di pesantren ini para guru memiliki hak untuk libur dua kali dalam sepekan. Namun demikian khusus untuk pengajar, irfan dan tim mengutamakan mereka yang berasal dan tinggal di sekitar. Dengan demikian para putra-putri Garut juga belajar dan mengenal perbedaan.

Selain libur, juga diselenggarakan pelatihan setiap bulan bagi para guru yang dikenal dengan nama “Abah ambu welas asih academy”. Pelatihan ini mengajarkan konsepkonsep terbaru tentang pengasuhan, hubungan reflektif, pola pembelajaran serta teknik-teknik mengajar yang menyenangkan.

Berbekal sistem pembelajaran yang kreatif serta budaya anti kekerasan, pesantren ini nantinya melahirkan anak-anak yang lepas dari inferiority complex dan memiliki kepercayaan diri tinggi. Sebagaimana testimoni Fuad Jabali, peneliti senior di PPIM UIN Jakarta berikut ini:

“Pesantren Welas Asih adalah anak masa depan CONVEY yang lahir di luar rencana. Irfan Amalee telah berhasil mewujudkan ajaran Islam terbuka, yang menjadi semangat dasar CONVEY, bukan hanya dalam bentuk program dan kebijakan yang digariskan

projek tetapi juga dalam bentuk yang lebih dalam dan luas lagi: Pesantren. Sesuatu yang sesungguhnya baru kita bayangkan hanya akan terjadi 15-20 tahun setelah projek berakhir. Hebat Euy si Abah”.

 

Branding dan Mimpi tanpa Banding

Abah Irfan Amalee, M.A atau biasa dipanggil Irfan adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Berayah seorang guru, mengajar SD hingga empat puluh tahun lamanya

sebelum akhirnya memimpin sekolah. Irfan adalah doa dan cita-cita ayahnya, yang memimpikan salah satu anaknya melanjutkan perjuangan di dunia pendidikan dan menjadi

ustad. Kakak-kakaknya melanjutkan pendidikan ke ITB dan Unpad, sedangkan Irfan sendiri sempat sekolah di pesantren dan masuk Jurusan Tafsir Hadist IAIN Bandung. Menurut

Irfan, terwujudnya Peace-santren Welas Asih, salah satunya karena doa ayahnya.

Pria yang kini menjabat sebagai Direktur Peace-santren Welas Asih, mengatakan dulu pesantren ini bernama MBS Baitur Rohmah. Ketika berganti nama, kecaman sempat

datang, mengapa pesantren ini tidak menggunakan bahasa Arab. Ia adalah orang industri kreatif yang memahami betul pentingnya branding. Menurutnya pesantren dengan

menggunakan bahasa Arab sudah terlalu banyak, terlebih dari segi makna, penggunaan bahasa Arab menyulitkan sebagian orang Indonesia memahami makna dalam dibaliknya.

Peace-santren Welas Asih adalah nama yang kemudian digunakan. Hal ini sejalan dengan Gerakan Welas Asih Indonesia yang diinisiasinya termasuk membantu pemerintah Jawa Barat dalam menjalankan dan integrasi program-program Jabar Welas Asih. Kota Garut menjadi pilihan karena kualitas air dan udara yang bagus sehingga membantu penyelenggaraan pendidikan yang kondusif. Di sisi lain Garut juga sedang dikembangkan menjadi wilayah wisata yang menerapkan social entreprise dan eco wisata.

Ada dua hal besar yang ingin dicapainya sejak dulu, yaitu mendirikan social enterprise dan sekolah percobaan atau aboratorium berbasis pesantren. Cita-cita pertamanya telah

terwujud melalui PeaceGen dan kedua melalui Peace-santren Welas Asih. Satu harapannya adalah dapat menduplikasi model Peace-santren Welas Asih ke seluruh penjuru Indonesia.

Secara personal, ia masih menyimpan mimpi untuk menulis dan memainstreamkan gagasan disiplin positif. Ia telah mempelajari berbagai teknik dan strategi tentang disiplin positif melalui berbagai buku yang dipesannya melalui Amazon. Ia juga rajin mengobservasi berbagai cerita disiplin positif yang ada di Amerika Serikat, tempatnya menyelesaikan studi magisternya di Peace Studies di Heller School Social and Policy Management, Brandeis University Boston USA serta negara lainya seperti Jepang dan Finlandia.

Disiplin positif yang ingin dikembangkannya nanti akan menjadi formula, yang telah diujicobakannya melalui training pada delapan puluh orangtua dan guru. Ia berharap memiliki waktu untuk menyelesaikan content dan platform bisnis tentang disiplin positif sehingga jadi legacy. [ ]

Penulis: Yosephine Dian Indraswari

Sumber: Buku Jalan Tengah Jalan Damai: Sembilan Kisah Inspiratif Praktik Moderasi Beragama, Jakarta: Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, 2020.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed