by

Perdamaian Aktif  ala Romo Yohanes Hariyanto (Bagian 1)

-Kabar Tokoh-145 views

Kabar Damai | Rabu, 31 Maret 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Romo Yohanes Hariyanto, atau biasa disapa Romo Hari, adalah Sekertaris Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Beliau adalah alumni dari Innsbruck University dengan gelar Master of Theology.

Selama masa pandemi, Romo Hari bersyukur karena kegiatan di ICRP tetap berjalan. Ia mendukung seluruh kegiatan rutin ICRP dari jarak jauh. Meskipun ia tidak selalu berada di kantor ICRP, ia tetap membantu menjalankan kegiatan ICRP dengan caranya sendiri dan mengatur arahnya akan ke mana, termasuk apa yang harus diusahakan atau perlu diusahakan terkait dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.

Tahun lalu, Romo Hari melihat bahwa kegiatan yang dilakukan oleh ICRP berfokus pada pengelolaan bantuan kemanusiaan. Berbagai macam sumber dukungan yang diberikan untuk ICRP menunjukkan betapa luasnya tingkat kepercayaan yang diberikan kepada ICRP dari banyak pihak.

“Penyaluran bantuan tersebut menjadi suatu hal yang mampu menumbuhkan kesadaran diantara kita bahwa kita bisa melakukan sesuatu bersama-sama,” ujar Romo Hari saat diwawancari melalui Zoom.

 

Titik Temu

Bagi Romo Hari, masalah Covid-19 menjadi fokus yang paling mendominasi di tahun 2020, sebab berada di luar keinginan dan kontrol manusia. Dari situ, Romo Hari menyatakan bahwa ternyata ICRP dipercaya oleh begitu banyak lembaga.

Kepercayaan banyak lembaga pada ICRP berasal dari komunitas agama dan juga lembaga-lembaga yang lain. ICRP dipercaya untuk menyalurkan bantuan yang sifatnya tidak hanya untuk kelompok tertentu, tapi terbuka bagi semua yang membutuhkan dengan jangkauan yang luas dan dukungan yang besar.

Pada mulanya, Romo Hari tidak membayangkan ada banyak hal positif yang terjadi saat ICRP memberikan bantuan berupa sembako. Ternyata, ada satu hal yang bisa menjadi titik temu bagi banyak orang muda untuk ikut serta dan terlibat dalam menyalurkan bantuan.

Bagi Romo Hari, keterlibatan tersebut adalah sesuatu yang harus disyukuri sebab membuktikan bahwa orang muda ternyata bukan generasi yang tidak peduli terhadap situasi yang ada di dalam masyarakat.

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa orang muda bisa menjadi penggerak yang luar biasa dan bisa dipercaya. Selain itu, keterlibatan orang muda juga menunjukkan kesadaran kebersamaan dalam konteks kebinekaan tidak memerlukan teori.

Romo Hari menceritakan bahwa ia ikut serta dalam kegiatan tersebut dan merasakan adanya kebersamaan dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan. Ia berterima kasih sebab hal tersebut bisa terjadi dan menunjukkan bahwa anak muda ingin mengusahakan perdamaian dan kebinekaan di mana keduanya bukan hal yang mustahil, tetapi malah sudah ada.

Persoalan yang ada bukan tentang membangkitkan kebinekaan, tapi lebih mencari cara agar kebinekaan menjadi kekuatan, tidak menjadi ancaman, dan tidak disepelekan begitu saja, tetapi sungguh-sungguh menjadi kekuatan. Sebab, ada banyak faktor lain yang juga menjadi unsur pemecah.

Mengelola usaha-usaha dan membantu orang-orang yang terdampak dalam konteks Covid-19 justru menjadi kekayaan. Keterlibatan orang muda muncul dan menjadi kekuatan.

 

Kekayaan Orang Muda

Saat membahas tentang kebinekaan, Romo Hari menyinggung tentang ciri khas orang muda. Baginya, orang muda bukan generasi atau angkatan atau kelompok orang yang mau menancapkan kukunya di suatu wilayah tertentu saja.

Pada prinsipnya, orang muda adalah explorer yang selalu merasa harus menjaga diri dan keluar dari dirinya sendiri. Dengan keluar dari dirinya sendiri, orang muda terpaksa bertemu dengan orang lain.

Pertemuan dengan orang lain inilah yang menyadarkan orang muda bahwa ternyata perbedaan bukanlah masalah. Selalu ada unsur pembeda. Selalu ada unsur yang menyatukan. Selalu ada titik temu.

Selain mengorganisir bantuan pada tahun 2019 sampai dengan 2021, ICRP juga menjalankan program Peace Train. Ternyata, Peace Train mempunyai multiplayer effect.

Romo Hari menjelaskan bahwa biasanya suatu kegiatan yang dilakukan hasilnya hanya dinikmati oleh yang ikut. Padahal, kesadaran akan kebinekaan dan perdamaian bukan menjadi suatu yang menakutkan, tapi menjadi suatu kekuatan bersama ketika dimiliki oleh para peserta Peace Train Indonesia.

Akhirnya, sedikit banyak orang mulai berani mengeksplor teritorial di daerah lain, padahal sebelumnya tidak terlalu tertarik dan masih takut mencoba. Tidak ada lagi kegamangan untuk keluar dari batas-batas yang sebelumnya ada.

Semua orang muda harus keluar dari daerahnya sendiri sehingga akan menemukan hal-hal baru yang memperluas cakrawala. Tentu saja hal tersebut menjadi sesuatu yang menarik terutama untuk orang muda.

Ada proses secara psikologis yang berkembang saat orang muda keluar dari diri sendiri, keluarga, dan lain sebagainya. Proses yang terjadi mendobrak batas-batas. Sejak bayi, pertumbuhan manusia berkutat pada prose mendobrak batas fisik.

Mulai dari melakukan kegiatan fisik mengeksplor dirinya ketika kecil, lalu pada saat remaja mulai mendobrak batas-batasan lingkaran aman dalam keluarga, pertemanan di luar, dan lain-lain.

“Ada proses yang diulang yakni keluar dari zona nyaman masing-masing. Kita selalu hidup dalam zona nyaman. Kalau kita ingin berkembang, kita harus mendobrak zona nyaman kita lalu masuk ke wilayah  lainnya dan seterusnya.” Pesan Romo Hari orang muda.

Baca juga: Justina Rostiawati: Keberagaman Adalah Keniscayaan

Perdamaian Aktif

Perdamaian bisa dipahami secara pasif dan secara aktif. Demikian cara Romo Hari memaknai perdamaian. Orang bisa damai secara pasif dan terbenam dalam gawainya di kamar masing-masing.

Jika demikian, maka masalah yang timbul adalah perdamaian seolah-olah diterjemahkan dengan hanya tidak adanya konflik karena menganggap bahwa cara paling baik untuk mencapai perdamaian adalah mengisolasi diri.

Menurut Romo Hari, anggapan tersebut bukan ciri orang muda sebab pemikiran tersebut sejatinya tengah mengerdilkan diri orang muda. Perdamaian seharusnya diwujudkan secara aktif sebagai suatu perlindungan bersama.

Ketika orang keluar dari zona nyaman, ada risiko, “saya menemukan sesuatu yang baru” yang kemudian menjadi inspirasi dan kekuatan baru seorang manusia. Tapi, perlu diingat bahwa ada juga risiko “saya belajar dari orang lain dan orang lain belajar dari saya”.

Ada simbiosis mutualisme yang menjadikan sesama manusia harus saling belajar satu sama lain untuk memperkaya diri masing-masing. Keluar dari zona nyaman bisa menciptakan mindest yang berbeda dengan daerah-daerah asal seseorang.

Saat seserorang yang mengambil kebaikan dan membagikannya ke orang lain, bisa jadi orang lain malah merasa dirugikan. Hal ini bisa terjadi dan menyebabkan konflik.

Dalam cara komunikasi orang muda, bisa berarti bahwa ada semangat membuka diri tetapi di dalam hati justru tidak menyerap apa yang dia dapatkan. Di sana orang muda bergaul satu sama lain tetapi menganggap orang lain lebih rendah dari dia. Hal tersebut jelas menimbulkan konflik.

Maka, berani keluar dari zona nyaman berarti harus ada satu semangat yang penting yaitu respect; menghormati dan menghargai pihak lain. Artinya, saat agama dikaitkan dengan perdamaian, agama seperti pisau bermata dua.

Agama bisa menjadi pembawa perdamaian dan sebaliknya, agama bisa menghasilkan konflik. “Jadi jangan sampai dengan sangat naif kita mengatakan, ‘Pokoknya kalau udah dengan agama, semuanya beres.’ Enggak,” tegas salah seorang pendiri ICRP ini.

Sejarah membuktikan bahwa agamalah yang justru membawa pertumpahan darah meskipun maksud kehadiran agama tidak seperti itu. Sebagai orang yang menyadari kalau di satu pihak memiliki kekayaan agama tapi di lain pihak juga mau membangun perdamaian, orang muda harus bisa melihat apa saja yang perlu diperhatikan terutama ketika agama yang satu berhadapan dengan agama yang lain.

Problem yang disebut dalam banyak dialog tersebut adalah Truth Claim yakni setiap agama mempunyai klaim kebenaran di mana masing-masing agama merasa bahwa hal tersebut adalah mutlak.

Agama mengatakan We Are The One and The Only sebagai pembawa kebenaran. Dalam konteks pemahaman filsafat, orang muda bisa melihat bahwa ada yang tidak beres. Letak ketidakberesannya adalah karena instrumen dalam agama dimutlakkan dengan ide dan gagasan agama.

Seolah-olah, instrumen tersebut sama dengan gagasan agama yang mutlak. Tuhan itu mutlak. Agama adalah instrumen. Ada banyak istilah yang dipakai untuk menjelaskan bahwa agama adalah instrumen.

Sebagai misal, konsep Shirathal Mustaqim, jalan yang lurus, dalam Islam. Jalan bukan tujuan. Konflik yang sering terjadi antaragama juga terjadi dalam konflik dalam tafsir agama itu sendiri.

Masing-masing kelompok mengklaim “kami yang paling benar” sehingga kelompok yang lain masuk neraka. Pada prinsipnya, ide dasar agama sebenarnya sudah baik. Saat diterjemahkan di dalam cara, cara yang dipakai justru diidentikkan dengan ide tentang agama.

 

Agama Food Court

Merawat agama adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan perdamaian. Pertama, cara dari internal agama sendiri yakni harus belajar untuk rendah hati. Ibarat menyewa rumah, pemeluk agama bukanlah pemilik rumah.

Artinya, manusia juga banyak menciptakan rumusan-rumusan, baik dalam bentuk kalimat dan dalam bentuk apapun yang merupakan bentuk lahiriyah tentang agama.

“Saya bisa mengucapkan kalimat syahadat dari semua agama tapi tidak mengubah keyakinan saya tentang agama saya. Apa susahnya sih mengucapkan kalimat?” tanya Romo Hari.

Saat ini, kabar tentang seseorang yang pindah agama dari satu agama ke agama yang lain selalu menjadi berita yang super besar. Hal tersebut (pindah agama) sebetulnya biasa-biasa aja.

Setiap manusia memiliki hak untuk memilih memeluk agama apa saja. Pilihan tersebut mesti dilakukan dengan baik dan dengan penuh kesadaran agar menjadi rahmat.

Kesadaran tersebut berguna untuk mengikis pilihan agama seseroang yang hanya berdasarkan apa yang sedang “in” saat ini, mana yang proyeknya lebih banyak, kerjaan terjamin, atau demi pasangan hidup. Betapa mudahnya seorang manusia loncat sana-loncat sini.

Dalam perspektif keagamaan masing-masing, orang muda harus mulai melihat dan mendalami kayaannya sendiri. Jangan sampai orang muda beragama hanya sekadar seperti berkunjung di food court saja.

Mencoba ini dan itu. Semuanya enak, semuanya baik. Pada akhirnya, banyak orang tidak mendapatkan sesuatu yang sungguh-sungguh. Agama hanya dijadikan sebatas apa yang bisa dinikmati dengan enak ala makanan di food court.

“Kita tahu kalau yang namanya makanan di food court, jangan mengharapkan yang kompleks, yang sulit dibuat, yang sungguh-sungguh mewakili suatu seller. Rasa rata-rata harganya juga yang murah-murah. Nggak mungkin mahal banget,” tutur Romo Hari memberikan perumpamaan.

 

Merawat Agama

Dalam hal merawat perdamaian dan kebinekaan, Romo Hari mengimbau orang-orang muda agara perjumpaan dengan berbagai macam agama membuat masing-masing dari orang muda mulai menggali kekayaannya sendiri, apa pun itu.

Sebab, jika seseorang memiliki sesuatu yang berharga, maka orang tersebut akan bisa berkomunikasi dengan orang lain. Begitu juga sebaliknya. Seseorang bisa menemukan hal berharga dari orang lain. Jika seseorang tidak punya apa-apa, maka ia juga tidak akan mendapatkan apa-apa.

Selain menggali dengan dengan sungguh-sungguh kekayaan masing-masing, orang muda juga harus melihat–karena agama sebagai jalan–bahwa agama seharusnya menjadi cara untuk mencapai tujuan.

Setiap agama merumuskan tujuannya dengan berbagai macam cara dan undangan. Prinsipnya adalah bahwa sebagai seorang manusia, satu orang melalui jalan tersebut dan mau mencapai tujuan hidup. Secara sederhana, tujuan hidup tersebut harus menjadi tujuan bersama.

Romo Hari mengajukan pertanyaan: “Emangnya kamu mau masuk ke surga sendirian aja? Betapa kesepiannya berada di surga sendirian dan itu kesepian abadi. Sekarang, nggak ada wi-fi aja sudah bingung apalagi membayangkan kesepian abadi.”

Jika ingin mencapai tujuan, maka seseorang mesti menggandeng tangan yang lainnya dan berjalan bersama dengan yang lain sehingga kesadaran untuk menghormati yang lain bisa terlaksana.

Kebinekaan menunjukkan bahwa orang lain mempunyai makna bagi seseorang meskipun berbeda. Apabila setiap orang sama, hidup manusia hanya diibaratkan bertemu dengan fotokopian saja.

Orang muda harus menyadari kekayaan sendiri. Tapi, agar kekayaan berkembang, orang muda harus membuka diri dan menerima berka-berkah dari orang lain dan membagikan sesuatu kepada orang lain. Di sinilah kesadaran kemanusiaan dapat dimiliki bersama.[ ]

 

Penulis: Ayu Alfiah Jonas

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed