by

Perbedaan sebagai Dasar Kekuatan Bangsa

Oleh: Dominggus Johan Sada

Indonesia adalah bangsa yang besar dan dikenal sebagai Negara dengan beragam agama, suku, dan budaya yang tersebar luas di seantero tanah air.

Semboyan “Bhineka Tunggal Ika,” berbeda-beda tetapi tetap satu menjadi sebuah pedoman bagi setiap bagian dari anak bangsa, bahwa perbedaan agama, suku, dan budaya adalah sebuah kekuatan yang menyatukan dan kekayaan yang tak terhingga. Dari kebinekaan ini Indonesia didorong dan dikumpulkan di bawah nilai Pancasila seperti yang terkutip dalam sila ke-tiga “Persatuan Indonesia.” 

Namun seiring berjalannya waktu, perbedaan ini dipakai untuk menimbulkan sekat-sekat pemisah yang menghalangi rasa cinta, kepedulian dalam kebhinekaan itu. Perbedaan tidak lagi memberikan kekuatan, tetapi menjadi ancaman.

Hal ini menyebabkan konflik dimana-mana karena oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab memprofokasi dengan alasan perbedaan, yang beranggapan bahwa agama tertentu yang benar, suku tertentu yang paling baik, atau hanya budaya tertentu yang lebih pantas.

Pemikiran seperti ini telah membuat setiap orang menyimpan rasa pahit dan menganggap perbedaan sebagai duri di dalam daging. Oleh karena itu, perlu diciptakan suatu perubahan yang di dalamnya mempraktekkan tindakan-tindakan positif yang nyata untuk merawat kebinekaan dan perdamaian antar umat beragama, suku, dan budaya yang berbeda. 

Dalam bagian ini, saya menyampaikan konteks dari wilayah Indonesia paling timur yaitu Papua, tempat asal saya. Papua tidak hanya terdiri dari dua ratus enam puluh enam suku asli, tetapi juga terdapat suku-suku lain dari daerah lain di Indonesia seperti suku Jawa, Batak, Toraja, Ambon, Makassar, dan lain-lain dengan agama dan budaya yang juga berbeda.

Baca Juga: Tantangan Penerimaan Perbedaan Terhadap Agama Baha’i

Semua perbedaan ini ada di Papua. lahir besar dan hidup dipapua, maka saya akan memaparkan sedikit cerita bagaimana  berdiri sebagai pemuda yang berpikir positif demi perdamaian yang harus tercipta di Papua dalam kebinekaan pada daerah kulit hitam dan rambut keriting sehungga genaplah syair lagu yang berkata “Dari sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia”. Indonesia yang sesungguhnya adalah Indonesia yang mengakui perbedaan sebagai dasar kekuatan bangsa. 

Ada beberapa hal yang dapat saya bagikan sebagai kaum muda dalam merawat kebhinekaan dan perdamain di Indonesia. Yang pertama adalah memfasilitasi dialog antar umat beragama. Saya dan beberapa rekan dari Jayapura Peace Journey melakukan sebuah kegiatan kunjungan ke rumah-rumah ibadah, gereja, masjid, paroki, pura, dan vihara yang ada di wilayah Jayapura.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa-mahasiswi yang terlibat sebagai peserta mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari tiap-tiap pemuka agama mengenai nilai-nilai keagamaan yang penting bagi mereka, mengapa nilai tersebut penting, dan pandangan mereka terhadap perdamaian, dan berdiskusi bersama.

Meskipun kegiatan ini sangat sederhana, tetapi berdampak bagi peserta yang terlibat, bahkan saya sendiri. Ada sebuah kesadaran atas pentingnya mengenal mereka yang berbeda dengan kita dari dekat. Ketika kita tidak lagi mengenal berdasarkan apa kata orang, kita dapat memberikan ruang untuk menerima dan belajar bersama-sama.

Hal yang kami lakukan ini adalah hasil dari kegiatan Toleransi perdamaian yang diselenggarakan beberapa tahun belakangan ini misalnya yang saya ikuti bersama teman-teman seluruh Indonesia dalam kegiatan Peace Train Indonesia.

Adapun kami selaku mahasiswa STFT GKI di Papua yang adalah Sekolah pendeta melaksanakan kegiatan “Seminar Agama-Agama” dengan tema “Merajut kebersamaan mepersatukan perbedaan menciptaka papua tanah damai” yang di sampaikan oleh narasumber Prof. sumanto Al Qurtuby dan juga kegiatan diskusi yang diikuti secara online dengan tema-tema perdamaian.

Semua ini adalah contoh bahwa pemuda tidak hanya perlu berpikir positif dengan mengikuti pelatihan-pelatihan mengenai perdamaian, tetapi juga terlibat untuk melakukan kegiatan-kegiatan perdamaian yang menjaga kebinekaan dan perdamaian Indonesia agar tidak timbul perpecahan dan rasa tidak saling percaya.

Selain itu, menjaga ketertiban pada rumah-rumah ibadah dalam hari-hari raya adalah bentuk menciptakan perdamaian antar umat beragama, dan kegiatan-kegiatan sosial yang juga melibatkan semua elemen baik dari pemuda gereja, masjid dan rumah ibadah lainnya sebagai upaya generasi muda merawat kebinekaan dan perdamaian. 

Saya papua, saya Indonesia, salam sehat

 

Dominggus Johan Sada, Pemuda Papua dan Peserta Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed