by

Peranan Perempuan dalam Menggerakkan Kebhinekaan di Sumba dan Medan

Kabar Damai | Kamis, 15 April 2021

 

Sumba dan Sumatera Utara I Kabardamai.id I Stigma bahwa perempuan adalah manusia nomor dua yang tidak punya daya dan upaya dalam berbagai hal seiring dengan perkembangan zaman kian hari kian dapat ditangkis keberadaannya.

Hal ini dibuktikan dengan hadirnya SOPAN di Sumba dan HAPSARI di Medan Sumatera Utara. Lewat kesadaran dan pemikiran yang dimiliki oleh anggotanya mengantarkan dua organisasi ini tidak hanya bermanfaat bagi perempuan lain melainkan juga dalam aspek kebinekaan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Organisasi SOPAN dan Kesadaran dari Hati

Martha Hebi dari Relawan Solidaritas Perempuan dan Anak (SOPAN) memaparkan kondisi perempuan di Sumba saat ini yang kondisinya lebih baik.

“Kalau saat ini bisa dibilang cukup banyak perempuan pemimpin di sektor public, misalnya kepala dinas, kepala sekolah dan pemimpin-pemimpin di komunitas serta organisasi masyarakat. Jadi ada perubahan cukup banyak perihal fakta pemimpin, tapi belum dapat kita lihat perihal nilai,” ungkapnya pada Radio Kamis, (25/3/2021) yang diunggah ulang pada youtube Katolikana.

Sehubungan dengan kondisi perempuan ini, Martha mengaitkan kondisi yang ada saat ini dengan keadaan perempuan sejak tahun 1965 lalu.

“Berbicara tantangan bagi perempuan di Sumba sebelum reformasi dan setelah reformasi, saya melihat perempuan-perempuan sejak 1965 sampai 1998 mereka bekerja cukup bagus, meskipun ada banyak tekanan negara tapi tetap melaksanakan untuk bekerja dalam diam. Hanya saja dalam pendokumentasiannya sangat kurang. Baru saja kita menggali perempuan yang bekerja pada masa itu mereka bekerja pada sistem yang sangat sistematis,” tututnya.

Baca Juga : Kiat Menumbuhkan Empati terhadap Perempuan Korban Kekerasan

“Walaupun tidak ada telefon tetapi tetap punya cara berjejaring memanfaatkan semua lapisan sosial yang ada dalam struktur masyarakat Sumba untuk bergerak. Bahkan mereka bisa memanfaatkan kendaraan pengangkut BBM untuk menitipkan surat-surat dan majalah pada tahun 1980-an,” ujarnya

Martha menambahkan bahwa sistem menjadi penghalang bagi perempuan untuk dapat berperan dalam ranah publik. Hal ini menyebabkan suara perempuan kurang terdengar walaupun sebenarnya mereka memiliki pengaruh dalam masyarakat.

“Memang saya belum melihat secara detil perbedaannya sebelum reformasi dan setelah reformasi. Tapi  ada fakta saat ini perempuan dilihat secara kemampuan dan sudah ada alat ukur, serta publik lebih terbuka untuk melihat dan menilai kapasitas perempuan. Berbeda dengan dulu yang mana ada relasi yang sangat panjang hingga perempuan bisa berada di depan dalam sistem. Namun faktanya ada perempuan yang punya karya luar biasa tapi mengalami penyesatan oleh sistem. Kemudian mereka tidak muncul karena sistem tidak mengijinkan mereka muncul sebagai perempuan yang apresiatif dan punya prestasi atau dapat disebut juga perempuan pendobrak,” jelasnya.

Menurutnya pula, sistem yang telah terbangun sejak dahulu membuat perempuan sulit untuk berkembang dan aktif dalam berbagai aktifitas.

“Saya pernah berbincang dengan perempuan pendobrak patriarki di Gereja, menurutnya apabila sudah ada perempuan yangaktif sedikit langsung disebut sebagai Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia-red). Ada kalimat-kalimat seperti itu langsung membuat orang takut karena stigma-stigma Gerwani. Perempuan aktif sedikit di cap Gerwani,” tuturnya.

Martha juga mengungkapkan bahwa pola patriarki dan feodalistik membuat hanya sebagian perempuan saja yang kemudian dilihat publik, padahal lebih dari itu ada yang lebih memiliki kemampuan dan berkarya.

“Kalau ada dokumentasi perihal perempuan adalah istri-istri pejabat atau perempuan yang berada pada struktur sosial yang bukan karena kapasitas diri atau apa yang ia buat tapi karena keturunan orang tua yang bangsawan, kemudian karena suaminya. Sehingga dia ada di depan karena bawaan dari nilai-nilai patriarki dan feodalisme. Padahal ada cukup banyak perempuan yang berkarya dengan caranya sendiri yang mereka jauh berada di pedesaan yang tidak berada dalam puncak piramida sosial yang ada dalam strukur masyarakat Sumba,” beber Martha.

Berbicara perihal kebhinekaan di Sumba, Martha menjelaskan bahwa perempuan punya cara sendiri dalam mengelola keberagaman yang ada.

“Kalau kebinekaan di Sumba sendiri sejak saya kecil itu terawat dengan baik. Jika kita berbicara kebinekaan dalam konteks agama itu sama sekali tidak menjadi hal utama yang diperdebatkan. Bahkan jika ada gesekan karena kebijakan-kebijakan dari negara, perempuan-perempuannya itu harmonis,”ungkapnya.

Perempuan di Sumba, terang Martha,  punya cara sendiri untuk menyelesaikan persoalan. Contoh, di dapur umum atau dapur pesta itu bagaimana ada saling menghargai antar perempuan.

“Ada dapur komunitas Islam, ada dapur Kristen, Khatolik yang ada babi kemudian disediakan menu sapi (untuk yang Islam-red), jadi kesadaran itu tidak hanya sekedar dibedaki tapi benar-benar lahir dari hati. Itu yang saya lihat dalam relasi-relasi yang ada,” pungkasnya.

Perjuangan Perempuan dari Akar Rumput, HAPSARI di Sumut

Selain gerakan perempuan yang ada di Sumba, turut hadir Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (HAPSARI) di Medan, Sumatera Utara. HAPSARI terbentuk atas dasar keresahan atas stigma buruk yang kerap disematkan pada perempuan di sana.

“Ada satu fase di Sumatera Utara dimana kami mengalami situasi yang cukup kuat terhadap perempuan. Kalau keluar rumah maka perempuan dinilai tidak baik, perempuan tempatnya di rumah saja. Kalau mau kumpul ikutlah PKK, selain itu jangan macam-macam. Saat itu, saat HAPSARI digagas untuk dibentuk menjadi sebuah organisasi waktu itu kita tidak faham bahwa ini organisasi perempuan, yang kita ngerti satu penggagasnya ialah korban kekerasan,” kata Lely Zaelani/

Lely  menceritakan selain stigma yang kerap disematkan pada perempuan, faktor lain yang membuat organisasi ini semakin mantap dibentuk ialah karena adanya berbagai diskriminasi yang turut terjadi pada anak-anak.

“Waktu itu belum kenal KDRT. Jadi jangan harap ada perlindungan hukum. Selain itu, banyak anak-anak perempuan yang disuruh untuk menikah di usia dini daripada sekolah, kemudian ada aturan kalau anak perempuan jangan main sama laki-laki. Intinya, ada diskriminasi, kekerasan yang kami hadapi waktu itu. Sehingga ada tuntutan untuk melawan, kumpul-kumpul untuk melawan sesama perempuan.

Mulai dari situ, imbuhnya, muncul diskusi untuk membahas masalah yang dialami sesama perempuan, ibu rumah tangga, gadis remaja dan gadis yang disebut gadis tua yang kelamaan terbentuk suatu komunitas.

Tidak melulu dianggotai oleh perempuan dari latar belakang sosial dan ekonomi yang mapan, HAPSARI terbentuk dari akar rumput yang terus mengusahakan kepentingan perempuan.

“HAPSARI adalah perkumpulan akar rumput yang diwarnai oleh semangat untuk kemerdekaan diri perempuan dari akar rumput, jadi bukan dari kelas menengah terdidik seperti LSM zaman sekarang,” tandasnya.

Dalam konteks Sumatera Utara, HAPSARI kini tidak hanya berfokus pada permasalahan perempuan semata. Melihat pluralnya Sumatera Utara, maka isu keberagaman turut menjadi sorotan dan menjadi prinsip organisasi ini.

“Jika kita berbicara dalam konteks Sumatera Utara adalah wilayah yang sangat beragam, kalau kita menyebut suku Batak saja itu tidak hanya satu saja. Belum lagi jika kita berbicara suku-suku yang lain yang beragam agama, kebudayaan dan seterusnya yang bisa memicu perpecahan walaupun sebenarnya keberagaman itu satu kekuatan. Tapi ada potensi ancaman dimana kita tidak toleran terhadap saudara kita yang dapat meledak tiba-tiba,”terangnya.

Atas dasar pemahaman itu, kaya dia, walaupun tidak secara khusus mengangkat isu keberagaman, tapi menghargai keberagaman menjadi salah satu prinsip dan nilai-nilai yang kami sadari dan junjung tingg.

 

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed