by

Peranan Ahmadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia

Kabar Damai I Kamis, 08 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I 96 tahun keberadannya di Indonesia, Jemaah Ahmadiyah masih menjadi kelompok yang rentan tersasar fitnah. Tidak hanya soal aqidah, bahkan loyalitasnya pada NKRI yang belum banyak orang ketahui tak jarang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang membenci.

Mln. Harpan Ahmad dalam kanal youtube Ahmadi Talk memberikan klarifikasi bagi fitnah dan persepsi negative terhadap Ahmadiyah tentang kesetiaannya pada NKRI dan peranannya dalam kemerdekaan Indonesia.

Ia menyatakan bahwa Ahmadiyah sudah sejak lama berada di Indonesia sehingga memiliki kedekatan dengan sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia itu sendiri.

“Jemaah Ahmadiyah ada di Indonesia sejak tahun 1925, saat dimana ketika itu bangsa yang besar itu masih berada dibawah kekuasaan kolonial Belanda. Sebagai organisasi yang lebih dahulu ada, Jemaah Ahmadiyah tentu memiliki ikatan yang kuat dengan sejarah Indonesia dan perjuangannya dalam meraih kemerdekaan,” ungkapnya.

Baca Juga: 5 Keyakinan Pokok Muslim Ahmadiyah

Perihal dengan masih banyaknya yang menyangsikan nasionalisme Jemaah Ahmadiyah. Ia menjelaskan beberapa hal yang menjadi bukti keterlibatan Ahmadiyah dalam perjuangan kemerdekaan itu sendiri.

“Pertama, semenjak keberadaannya di nusantara, Jemaah Ahmadiyah atas bimbingan khalifahnya senantiasa berupaya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat Indonesia baik secara perorangan baik sebagai bangsa Indonesia yang memiliki cita-cita yang agung yakni merdeka dari penjajahan,” jelasnya.

Hal itu dibuktikan dengan perintah dari sang Khalifah saat itu yang memberikan ajakan kepada banyak negara untuk menyerukan kemerdekaan Indonesia.

“Hazrat Mirza Bassyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifah Ahmadiyah pada saat itu menyatakan bahwa jika bangsa Indonesia mendapatkan kemerdekaan seratus persen tentu hal ini akan berfaedah besar bagi dunia Islam,”.

“Oleh karena itu, negara-negara Islam ada baiknya memperdengarkan dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia dan juga meminta kepada negara-negara lain untuk mengakuinya,” tambahnya.

Selain itu, menurutnya pula sang Khilafah juga menyerukan kepada para Ahmadi diseluruh dunia untuk lebih bersimpati dan melakukan hal baik guna mencapai kemerdekaan tersebut.

“Pernyataan dari beliau ini merupakan bentuk solidaritas yang tinggi yang kemudian beliau tunjukkan melalui satu tindakan nyata. Menyerukan kepada seluruh mubaligh Ahmadiyah yang tersebar diseluruh belahan dunia mulai dari Timur Tengah, Afrika, Eropa dan juga Amerika untuk memperdengarkan dan juga menulis dalam artikel di surat kabar dan juga majalah di negara-negaranya tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia,” jelasnya lagi.

Lebih jauh, bentuk kontribusi ini juga terdokumentasikan dengan baik sekaligus menjadi bukti keterlibatan dari Ahmadiyah tersebut serta ajakan kepada Ahmadi untuk senantiasa berdoa untuk Indonesia.

“Al-fadhl edisi sepuluh, Desember 1946 mendokumentasikan seruan dari Khalifah Ahmadiyah ini secara jelas dan bahkan untuk mensukseskan misi ini beliau juga menghimbau kepada seluruh warga Ahmadiyah untuk melaksanakan puasa nafal selama bulan September sampai bulan Oktober 1946,”.

“Dan beliau juga menghimbau untuk senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar menolong perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan,” terangnya.

Selain melalui ajakan dan himbauan langsung dari sang Khilafah. Peran dan atau kontribusi dalam kemerdekaan juga dilakukan oleh seorang tokoh ahmadi di Indonesia yang aktif terus terlibat dalam upaya-upaya mencapai kemerdekaan.

“Kedua, Sayyid Shah Muhammad Al-Jailani salah seorang tokoh Ahmadiyah yang punya banyak sekali peran dalam perjuangan kemerdekaan. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya piagam penghargaan yang beliau terima dari pemerintahan RI,”. Bebernya.

Karena keaktifannya itu pula membuatnya dipercaya dalam peran-peran strategis yang semakin menjadi bukti baik Ahmadi kala itu.

“Beliau merupakan salah seorang panitia pemulihan pemerintahan RI pusat yaitu lembaga yang dibentuk pasca resolusi dewan keamanan mengenai perundingan RI dan Belanda yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara,”.

“Bahkan ketika Belanda menyerahkan kedaulatannya kepada pemerintahan RI yang kemudian mengharuskan Bung Karno pindah dari Yogyakarta ke Jakarta. Sayyid Shah Muhammad mendapatkan kehormatan terpilih dalam 12 rombongan pengantar presiden,” jelasnya lagi.

Selain Sayyid Shah Muhammad Al-Jailani, adapula tokoh lain yang tak kalah dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia pula. Ia adalah R. Moehammad Moehyidin.

“Ketiga, dalam perjuangan meraih kemerdekaan itu tidak sedikit dari anggota Jemaah Ahmadiyah yang bahkan rela mengorbankan nyawanya seperti ketua pengurus besar Jemah Ahmadiyah Indonesia kala itu, R. Moehammad Moehyidin seorang pegawai tinggi RI yang demikian aktif mempertahankan kedaulatan RI di Jakarta,” ujar Mln. Harpan Ahmad.

Sayangnya, R. Moehammad Moehyidin harus diculik dan menghilang serta diyakini syahid setelah diculik oleh Belanda.

“Pada saat akan diadakan HUT RI pertama, beliau diangkat sebagai sekretaris panitia dan bahkan beliau ditunjuk sebagai pimpinan barisan yang akan membawa bendera sang saka merah putih. Namun naas, delapan hari sebelum HUT RI pertama diselenggarkan beliau diculik oleh Belanda dan hingga saat ini tidak diketahui keberadannya,”.

“Menurut Suwiryo dan juga Yusuf Yahya, wali kota dan wakil wali kota Jakarta kala itu mengatakan bahwa R. Moehammad Moehyidin diculik oleh serdadu-serdadu Belanda dan dibawa kesuatu daerah di Depok kemudian disyahidkan disana,” tambah Harpan lagi.

Keterlibatan para Ahmadi dalam kemerdekaan juga dibuktikan dengan keaktifannya tergabung dalam organisasi-organisasi pergerkan kala itu.

“Banyak anggota Jemaah Ahmadiyah yang juga tidak kalah patriotiknya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan menyertakan diri bersama rekan-rekan sebangsanya kedalam pergerakan-pergerakan rakyat ketika itu. Mulai dari BKR, TKR, tergabung dalam KOWANI ataupun KNI,”.

“Singkatnya, banyak sekali peran dari Jemaah Ahmadiyah dan juga anggotanya dalam perjuangan bangsa ini meraih kemerdekaannya,” katanya menambahkan lagi.

Segala hal yang dilakukan para Ahmadi dalam tercapainya kemerdekaan merupakan bentuk pengamalan bela negara sehingga salah apabila dikatakan Ahmadiyah tidak nasionalis dan tidak cinta tanah air.

“Dari fakta-fakta sejarah tadi menunjukkan bahwa peran Jemaah Ahmadiyah demikian signifikan dalam perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia, dan jika kita amati peran yang diambil oleh para Ahmadi itu bukanlah suatu tindakan yang spontan,”.

“Itu merupakan pengamalan bela negara yang diinstruksikan demikian jelas oleh Khalifah Ahmadiyah pada saat itu. Memang merupakan suatu jalan Tuhan yang menyertakan Ahmadiyah dalam perjuagan Indonesia,” terangnya.

Didalam Ahmadiyah sendiri menurut Harpan, terdapat sebuah ilham yang dapat dikorelasikan dalam peranan Ahmadiyah dan juga kemerdekaan Indonesia.

“Salah satu ilham yang diterima oleh pendiri Ahmadiyah yang artinya “Dan diberikan berkat-berkat kepadamu sehingga para raja akan mengambil berkat dari pakaian-pakaian engkau,”.

“Jika kita gunakan ilham ini sebagai sudut pandang untuk melihat korelasi antara instruksi dari Khalifah Ahmadiyah dan juga peran besar yang sudah diambil oleh para Ahmadi di Indonesia maka dapat pula kita simpulkan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hadiah ataupun berkah dari Ahmadiyah,” jelasnya lagi.

Lebih jelas, bentuk dari nilai dan juga kontribusi Ahmadi terhadap negara adalah melalui terciptanya lagu kebangsaan yang dibanggakan hingga kini.

“Terlebih jika kemudian kita menyadari bahwa lagu kebangsaan Indonesia Raya yang demikian dibanggakan itu merupakan buah karya dari seorang Ahmadi yaitu W.R Supratman,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed