by

Peran Sentral NU dalam Pencegahan Potensi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Kabar Damai I Rabu, 15 September 2021

Jakarta I kabardamai.id I Sebagaimana kita maklum, keberhasilan milisi dari organisasi Taliban dalam merebut dan menguasai pemerintahan Afghanistan turut mewarnai isu politik dunia. Hal ini terkait dengan rekam jejak Taliban dalam persebaran potensi tindak terorisme di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Tindak aksi terorisme di Indonesia pada peristiwa Bom Bali pun tak lepas dari pengaruh heroisme pejuang Afghanistan.

Kini pengaruhnya kembali muncul ke permukaan seiring dengan terebutnya Kabul sebagai ibukota Afghanistan oleh Taliban. Tak sedikit yang kemudian bersimpatik terhadap Taliban. Beragam diskusi atas kemenangan Taliban pun digelar dengan berbagai pro dan kontra serta  dampaknya bagi Indonesia.

Berangkat dari latar itulah Institut Hasyim Muzadi menggelar Webinar Nasional dengan tema “Taliban Afghanistan, Ancaman atau Harapan” pada Sabtu (11/9/2021) malam. Acara dipandu Wakil Direktur Eksekutif Internasional Conference of Islamic Scholar (ICIS) KH. Khariri Makmun, Lc, Dpl., MA sebagai moderator dan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Brigjen. Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM sebagai salah satu narasumber.

Melansir laman Piusat Media Damai BNPT, dalam acara tersebut Direktur Penceghan BNPT mengatakan bahwa organisasi Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran sentral di dalam pencegahan potensi radikalisme dan terorisme di Indonesia melalui praktik sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Hal tersebut seiring dengan bagaimana semangat revitalisasi NU menuju pengabdian Abad ke-2.

“Upaya revitalisasi NU ini tentunya akan berhasil apabila NU ini kembali ke khittah sebagaimana berdirinya NU pada tahun 1926. NU akan bangkit, akan terrevitalisasi, kembali ke khittah sebagaimana 1926 yang dulu sudah di amanahkan oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari,” ujar Ahmad Nurwakhid, dikutip dari damailahindonesiaku.com (13/9).

Nurwakhid memaparkan bagaimana peran NU di dalam membendung potensi radikalisme merupakan khittah yang sebagaimana pada masanya. Pendirian NU merupakan upaya dalam membendung paham Wahabisme yang tersebar keseluruh dunia tak terkecuali Indonesia.

“Filosofi NU didirikan itu sejatinya untuk membendung atau membentengi pengaruh wahabisasi internasional yang ada di Indonesia” ujar alumni Akpol tahun 1989 ini.

Baca Juga: Kiai NU dan Keharmonisan Antarwarga di Singkawang

Ia pun meyakini bagaimana semua konflik di dunia Islam selalu didahului oleh masifnya paham radikalisme dan aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam. Yang mana hal tersebut masuk dalam dalam konteks ideologi takfiri wahabi dan kemudian berkolaborasi dengan kekuatan oposisi yang destruktif termasuk juga adalah pengaruh intervensi asing.

 

Transformasi Ideolgi Taliban ke Arah Radikal

Namun demikian Nurwakhid juga menggaris bawahi bagaimana Taliban yang ada saat ini tidak sesuai dengan bagaimana ideologi murni yang pada mulanya dianut oleh Taliban. Bahwa jika memang benar Taliban ini murni maka mazhab yang dianut adalah fiqih Hanafi dan tauhidnya maturidiyah.

“Jika memang mazhab tersebut yang dianut, maka tidak mungkin tindakannya mengarah pada radikalisme dan terorisme. Justru jika benar mazhab tersebut, Taliban bisa jadi memiliki paham yang moderat,” kata mantan Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus)88/Anti Teror Polri ini.

Nurwakhid juga menegaskan bagaimana Taliban ini juga memiliki transformasi ideologi yang kemudian berkembang menjadi lebih kontributif terhadap ideologi radikal yang ada di dunia. Dirinya mencontohkan bagaimana jika tidak mungkin apabila Taliban moderat yang bermazhab fiqih Hanafi dan bertoriqoh Naqsabandiyah justru menghancurkan patung terbesar di dunia yang ada di lembah Bamiyan, Afghanistan.

“Kemudian secara ideologis dan politisnya pun kemudian Taliban justru bergeser dan mendekati perjuangan politik yang seperti Al Qaeda. Sehingga tidak mungkin kalau dia itu moderat, tidak mungkin kalau dia itu bermazhab Hanafi atau mungkin thoriqoh naqsabandiyah kok sampai mau menghancurkan patung terbesar di dunia yang ada di Afghanistan,” kata mantan Wakil Komandan Resimen Taruna (Wadanmentar) Akpol ini.

Nurwakhid mengingatkan kembali bagaimana upaya Taliban tersebut juga menyerupai konteks pergerakan ormas yang sudah dilarang di Indonesia, yaitu Front Pembela Islam (FPI) yang mana juga termotivasi oleh Taliban dan sekarang ini justru membuat kamuflase dengan kembali mendirikan FPI dengan nama Front Persaudaraan Islam. Adanya Taliban di Afghanistan ini turut menstimulasi terhadap gerakan jaringan teroris dalam konteks yag terafiliasi dengan AL Qaeda di Indonesia yaitu Jama’ah Islamiyah (JI).

“Jadi Taliban di Afghanistan itu otomatis menurut pendapat kami jelas, waktu itu saya menyatakan bahwa ini akan meresonansi, lalu akan memotivasi atau memberikan stimulan terhadap gerakan atau jaringan teroris, yang dalam konteks ini terafiliasi dengan Al-Qaeda di Indonesia yaitu Jamaah Islamiyah dan juga memotivasi atau meresonansi kelompok radikal yang ada di Indonesia” ucap mantan Kapolres Gianyar ini .

Meski demikian menurutya, hal ini juga menggaris bawahi bagaimana situasi tersebut yang mana terebutnya ibukota Kabul oleh Taliban ini turut mewarnai politik dunia. Seiring dengan hal tersebut dirinya juga menaruh harapan bagaimana NU yang memiliki cabang di Afghanistan ini juga turut menyumbang pada perdamaian yang ada. Karena dengan menciptakan suasana aman dan damai, NU diharapkan mampu memiliki peran baik di Afghanistan.

“Apalagi saya dengar NU punya cabang di sana juga. Nah ini akan memberi nuansa atau memberi semacam keterlibatan Indonesia dalam konteks ormas NU untuk ikut berperan dalam menciptakan suasana aman dan damai di Afghanistan,” ucap perwira tinggi yang juga pernah menjabat sebagai Kapolres Jembrana ini.

 

Kontribusi NU pada Perdamaian

Karena apapun yang terjadi di Afganistan sekarang ini menurutnya secara de facto negara tersebut sudah dipimpin atau dikuasai oleh Taliban. Dan tentu saja Indonesia atau pemerintahan Indonesia yang sesuai amanah undang-undang harus konsisten dengan sikap non-blok ataupun bebas aktif nya itu. Dimana bangsa Indonesia tidak boleh ikut campur atau intervensi dalam urusan di Afghanistan.

“Dalam hal ini kita juga harus ikut terlibat di dalam membangun perdamaian sebagaimana tujuan nasional yakni turut serta di dalam perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial,” ujar mantan Kadensus 88/Anti Teror Ditreskrim Polda DIY ini.

Oleh sebab itu seiring dengan harapan tersebut, Nurwakhid berharap pada NU dalam perkembangannya juga turut berkontribusi pada perdamaian.

Terkait dengan peran BNPTdalam penanggulangan terorisme di Indonesia, Nurwakhid menegaskan sebagai fungsi koordinatif, BNPT berupaya untuk mengkoordinasikan diantaranya dengan TNI, Polri dalam hal ini Densus 88/Anti Teror untuk selalu siaga dalam menghadapi perkembangan terorisme yang ada di Indonesia.

“Yang mana perlu kami garis bawahi bahwa tindakan aksi terorisme bukanlah merupakan usaha untuk memonopoli agama tertentu. Tetapi radikalisme dan terorisme ini potensinya ada pada setiap individu manusia, sehingga semua tindakan teroris tidak terkait dengan agama apapun. Karena tidak ada satupun agama yang membenarkan aksi terorisme,” ujar pria yang mengawali karir Kepolisannya sebagai Danton Candradimuka Akabri ini mengakhiri. [damailahindonesiaku.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed