by

Peran Perempuan untuk Kemerdekan Indonesia: Perempuan Setara, Perempuan Merdeka

Kabar Damai I Selasa, 17 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I “Sekarang kita harus benar-benar mengadakan pembagian pekerjaan. Kau bersama anak-anak harus tinggal di rumah saja. Kau cukup terdidik di dalam pergerakan nasional, sehingga kau pasti mengerti konsekuensi dari Proklamasi hari ini. Kalau sampai aku tidak pulang, kau tahu apa yang harus kau kerjakan. Semoga kita semua selamat.” Demikianlah pesan Sudiro, sekretaris pribadi Achmad Subardjo, kepada istrinya menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia seperti dicatat dalam Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian, Penyiaran dan Keterlibatan Jepang (2015: 73).

Pesan itu tentu tidak bermaksud mengerdilkan peran perempuan dalam persiapan proklamasi. Tak pula bertujuan mendomestikasi perempuan hanya karena memintanya untuk tetap tinggal di rumah bersama anak-anak.

Mengingat sang istri berpengalaman dalam kancah pergerakan nasional, sudah semestinya ia tahu bahwa keadaan yang tidak menentu karena kekosongan kekuasaan setelah Jepang menyerah bisa menimbulkan bahaya tersendiri. Dalam situasi macam itu, berbagi tugas antara suami dan istri adalah solusi terbaik.

Pada tanggal itu, 17 Agustus 1945, tepat hari ini 76 tahun lalu, tiap orang menjalankan peran masing-masing tanpa melihat apakah ia laki-laki atau perempuan. Waktu menuju proklamasi amat singkat dan dilakukan secara tergesa-gesa. Tak ada lagi waktu untuk memikirkan kedudukan atau pembagian peran berdasarkan gender.

Baca Juga: Ni Loh Gusti Madewanti, Founder DROUPADI yang Care Isu Perempuan

Tapi, bagaimanapun juga, Proklamasi bukan cuma milik kaum lelaki. Di balik peristiwa yang berlangsung dengan tergopoh-gopoh itu, para perempuan juga berperan penting baik dari belakang layar maupun di atas panggung. Beberapa di antara mereka juga hadir langsung dalam pembacaan Proklamasi Kemerdekaan. Pada hari itu semua orang berdebar-debar menantikan lahirnya sebuah bangsa.

Selain pria, banyak juga tokoh perempuan yang turut andil dalam kemerdekaan Indonesia. Pejuang wanita dalam kemerdekaan Indonesia bukan hanya Kartini dan Cut Nyak Dhien. Ada banyak pejuang wanita lainnya yang perlu diketahui.

Wujud peran mereka memang berbeda-beda. Ada yang bergerak di bidang pendidikan hingga turun untuk ikut mengangkat senjata melawan penjajah.

Berikut daftar 5 pejuang wanita yang punya andil dalam kemerdekaan Indonesia.

  1. Fatmawati Soekarno
Fatmawati Soekarno – Sumber Foto: Biografiku

Istri dari Soekarno ini juga tokoh pejuang wanita di balik kemerdekaan Indonesia. Sejak lama, perempuan kelahiran 5 Februari 1923 ini optimis bahwa Indonesia akan merdeka. Karenanya, ia menyiapkan bendera merah putih yang ia jahit sendiri.

Fatmawati merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan nasional. Ia turut mendampingi Soekarno saat masa-masa sulit. Bahkan, ia juga memberikan bantuan kepada istri dari para prajurit yang sedang pergi ke medan perang.

  1. Laksamana Malahayati
Laksamana Malahayati – Sumber Foto: Detik

Laksamana Malahayati adalah tokoh pejuang perempuan yang berasal dari Aceh. Ia memimpin 2000 pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah gugur) untuk melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda, sekaligus membunuh Cornelis de Houtman.

Pada Hari Pahlawan 10 November 2017, perempuan bernama Keumalahayati yang lahir pada 1550 mendapatkan gelar pahlawan.

  1. Martha Christina Tiahahu
Martha Christina Tiahahu

 

Martha Christina Tiahahu yang lahir di Maluku, 4 Januari 1880 sudah mengangkat senjata melawan Belanda sejak usia 17 tahun. Di kalangan masyarakat, pejuang, hingga musuh pun ia dikenal sebagai sosok pemberani.

Dalam setiap pertempuran, ia selalu mengambil peran penting dan memiliki sikap pantang mundur. Martha selalu mendampingi ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapiten yang juga membantu Thomas Matulessy dalam perang Pattimura.

Selain ikut andil dalam perang, Martha juga kerap memberikan semangat kepada kaum perempuan untuk ikut berjuang. Hal ini yang membuat musuh semakin kewalahan menghadapi mereka.

  1. Nyi Ageng Serang
Nyi Ageng Serang

Perempuan bernama lengkap Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari Kerajaan Mataram. Saat ayahnya berperang melawan Belanda, ia turut andil menahan serbuan Belanda ke Serang.

Saat Perang Diponegoro, Nyi Ageng Serang juga ikut bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro. Ia berperang di daerah Serang, Purwodadi, Kudus, Demak, Juwana, Semarang, dan Rembang.

  1. Siti Manggapoh
Siti Manggapoh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Siti Manggopoh merupakan pejuang wanita asal Sumatera Barat. Perempuan kelahiran 1880 ini begitu ditakuti oleh Belanda karena berhasil menewaskan 53 tentara Belanda. Ia dikenal sebagai pemimpin Perang Belasting, yaitu perang bersenjata pada 15-16 Juni 1908.

Ia menolak kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (Belasting) yang kemudian membuat Belanda kewalahan menghadapi dirinya. Belanda pun meminta bantuan tentara Belanda yang berada di luar Manggopoh. Di momen ini Siti menggunakan taktik cerdiknya untuk menyerang Belanda bersama pasukannya.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed