by

Peran Pendidikan Perdamaian Dibahas dalam Konferensi  Antarbenua

Lebih dari 2.400 peserta dari 70 negara termasuk Filipina Jerman, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Cina, dan Korea turut serta dalam konferensi perdamaian secara daring untuk membahas peran pendidikan perdamaian, pada 24 Januari 2021.

Konferensi tersebut dihelat oleh sebuah CSO (Civil Society Organization) perdamaian internasional yang bermarkas  di Korea, Budaya Surgawi, Perdamaian Dunia, Pemulihan Terang (HWPL – Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light) yang berafiliasi di bawah naungan DGC PBB dan ECOSOC PBB dalam rangka merayakan HUT ke-7 Hari Perdamaian HWPL pada tangal yang sama.

Hari Perdamaian HWPL 24 Januari yang dideklarasikan oleh Provinsi Maguindanao di Filipina, telah diperingati setiap tahun sejak Perjanjian Damai Mindanao dibuat oleh pemerintah daerah dan para pemimpin masyarakat sipil pada 24 Januari 2014 silam.

Sebagaimana diberitakan borneonews.co.id (28/12/21),  Hari Perdamaian ini ditetapkan oleh HWPL karena perjanjian tersebut diusulkan oleh Ketua HWPL, Man Hee Lee yang dikenal sebagai veteran perang Korea, untuk mengatasi konflik 50 tahun yang mengakibatkan sekitar 120.000 korban di wilayah tersebut.

“The Role of Peace Education in Building a Peaceful World” ada;ah tema yang diusung perayaan tahun ini. Penyelenggaraan konferensi bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pendidikan perdamaian di seluruh dunia dan membentuk global platform bagi para pendidik perdamaian untuk mengimplementasikan pendidikan perdamaian dalam sistem pendidikan di masing-masing negara.

“Pendidikan perdamaian memungkinkan generasi muda kita untuk tumbuh sebagai pembawa pesan perdamaian dengan nilai-nilai yang diperlukan untuk membuat perubahan positif di dunia sebagai pemimpin masa depan,” kata Dr Ronald Adamat, ketua Komisi Pendidikan Tinggi Filipina (CHED), sebagaimana dikutip Kompas.Com (29/1/21).

Ronald selama ini berjuang untuk mewujudkan pendidikan perdamaian HWPL dengan mengintegrasikan pendidikan perdamaian ke dalam kurikulum pendidikan tinggi terkait di FIlipina.

Filipina dinilai menjadi lokasi strategis bagi program perdamaian. Pasalnya konflik berkepanjangan di Mindanao telah membuat masyarakat menderita selama 40 tahun.

Dalam konferensi ini mantan Penasihat Kementerian Pendidikan Guatemala, Uskup Agung Emeritus dari Keuskupan Agung Davao Filipina, Ketua HWPL Man Hee Lee menyampaikan pesan peringatannya, sebagaimana dikutip borneonews.co.id.

“Sekarang, Mindanao bukan lagi tempat konflik melainkan model perdamaian yang bakal diikuti dunia. Dulu, orang-orang di daerah ini menodongkan senjata ke satu sama lain. Sekarang, mereka membagikan makanan sambil duduk di satu meja meskipun agama dan ideologi mereka berbeda-beda. Siswa yang terlatih membunuh kini belajar tentang nilai hidup dan perdamaian yang berharga melalui Pendidikan Perdamaian HWPL, ” ujarnya.

Terdiri dari 12 pelajaran , Pendidikan Perdamaian HWPL bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang urgensinya mewujudkan budaya perdamaian sehingga melatih para pengajar dan pelajar memahami nilai perdamaian. Sejak 2016, lebih dari 200 lembaga pendidikan di 34 negara, termasuk India, Israel, dan Filipina, telah ditetapkan sebagai Akademi Perdamaian HWPL, dan Kementerian Pendidikan dari 9 negara telah menandatangani MOA untuk kerja sama pendidikan perdamaian. [AN]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed