by

Peran Pemuda dalam Melestarikan Pancasila

Kabar Damai  | Kamis, 21 Oktober 2021

Malang | kabardamai.id | Pembina Pusat Studi Kebangsaan (Pusdipwasbang) universitas Tribhuwana Tunggadewi malang (Unitri) Prof. Wani Hadi Utmo menyampaikan pesan kepada para pemuda penerus bangsa untuk terus melestarikan ideologi Negara (Pancasila).

Hal tersebut, seperti dilansir dari laman BPIP,  sebagai upaya dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kalian pemuda penerus bangsa harus mewariskan pancasila kepada anak-anak kalian, sehingga nanti anak-anak kalian akan mewariskan kepada cucu-cucu kalian dan seterusnya,” ucapnya saat acara penandatanganan nota kesepahaman dengan BPIP Senin, 18 Oktober 2021, dikutip dari bpip.go.id (19/10).

Di forum yang sama Kepala biro Kemahasiswaan sekaligus Ketua Gerakan Pendidik Pancasila Dr. Agung Suprojo, M.Ap mengatakan kegiatan kuliah tamu dan penandatangananan nota kesepahaman ini dapat mewujudkan visi misi Unitri.

“Saya berharap dengan kerjasama ini dapat mewujudkan cita-cita kampus, menjadi kampus kerakyatan serta memperkuat Pusdipwasbang dalam implementasi yang selama ini sudah dilakukan kampus seperti menyebarkan ideologi Pancasila pada generasi penerus bangsa,” ujarnya.

Sementara,  Wakil Kepala BPIP Prof. Dr. Hariyono, M.Pd mengapresiasi Unitri karena dalam menjelang peringatan sumpah pemuda ini Unitri sudah mau melakukan MoU dan diskusi dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila.

Baca Juga: Menjadi Pemuda Cerdas dan Tolak Ideologi Transnasional

Hariyono juga mengapresiasi kepada mahasiswa dalam rangka sumpah pemuda sudah mengantisipasinya setiap tahun ke tahunnya. Meskipun demikian ia berharap kegiatan tersebut tidak dijadikan gerakan seremonial melainkan kejadi proses penjiwaan.

“Karena ini berkaitannya sumpah pemuda, banyak potenis di unitiri yang cukup bagus salah satunya budaya tari yang dipertunjukan,” uajranya.

Ia menjelaskan seni tari merupakan peninggalan nenek moyang kita yang harus dan terus dilestarikan, seperti halnya nilai-nilai Pancasila yang digali oleh pendiri bangsa dari berbagai hal. Sehingga perlu ada penguasaan dan kekeuasaan terhadap nilai-nilai tersebut.

 

Perkuat Sampai Akar-akarnya

Ia bahkan menganalogikan pohon yang ditebang mudah  dipidahkan bahkan diangkut ke truk, namun sebaliknya pohon yang kuat dapat menghentikan apapun yang menerjangnya.

“Begitu halnya seperti Pancasila, kita harus perkuat sampai akar-akarnya, sehingga tidak ada yang bisa merobohkannya”, tandasnya.

“Kita tidak hidup di ruang kosong, sehinga alfin toffer, itu meilihat kekuasaan sejak era arkaik hingga sekarang itu bisa dipetakan menjadi tiga yakni mengadalkan pada militer, finansial dan infromasi”, terangnya.

Negara-negara maju tidak mengandalakan kekuatan militer tetapi juga kekuatan finansial dan bahkan dunia infromasi apalagi saat apad ke  20.

“Sehingga untuk menyerang suatu bangsa, mereka justru menyerang finansial bangsa dan informasi sebagai pangkal otak suatu bangsa”, ujarnya.

Maka dari itu ia berharap kepada anak-anak muda untuk berhati-hati kepada dunia digitalisasi. Karena tidak sedikit idelogi-ideologi asing yang mengoyak ideologi Pancasila.

Setelah acara kuliah tamu selesai, acara kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke desa pancasila yang digagas oleh UNITRI yang berlokasi di Desa Dalisodo, Wagir, Malang. Kunjungan bersama BPIP dilakukan untuk mengetahui progress dari desa binaan UNITRI tersebut.

Optimalkan Melalui Media Sosial

Terpisah, Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) melaksanakan Diskusi Kelompok Terpumpun dengan tema Optimalisasi Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila Melalui Media Sosial di Jakarta, Selasa, 19 Oktober 2021.

Melansir warta laman BPIP, dalam sambutannya Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP Ir. Prakoso, M.M mengatakan seluruh masyarakat yang berkewarga negaraannya Indonesia sudah terikat oleh konstitusional baik Undang-undang maupun Pancasila. Maka dari itu masyarakat yang berada di dalam maupun luar negeri harus taat dengan Undang-undang mapun Pancasila.

Meskipun demikian masyarakat di dalam maupun luar negeri harus paham dan mengetahui secara merata tentang konstitusi negara apalgi ideologi Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia.

Sebagai upaya optimalisasi dalam mensosialisasikan maupun pembinaan ideologi pancasila perlu media komunikasi yang intensif dan menarik salah satunya media sosial. Sasaran media sosial adalah untuk generasi muda (milenial).

“Saya berhadap melalui diskusi ini mendapatkan kesimpulan yang detail, sehingga pada akhirnya kita segera eksekusi, tidak sekedar wacana”, ujarnya.

Direktur Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan M. Akbar Hadiprabowo, S.H., M.H mengakui sebaik-baiknya pelaksanaan sosialisasi adalah melalui sosial media karena generasi milenial didominasi telah menggunakan sosial media dalam mengakses informasi yakni mencapai 129 juta pengguna.

“Direktorat Sosialisasi dan Komunikasi sendiri telah melaksanakan sosialisasi melalui media sosial dan tentunya hal ini harus dioptimalkan, agar menjangkau khalayak yang lebih luas”, terangnya.

Akbar  juga mengakui saat ini BPIP telah memiliki sejumlah akun sosial media baik secara kelembagaan BPIP maupun secara unit. Ia berharap dengan dialog ini mendapatkan output dari narasumber tentang Pembinaan Ideologi Pancasila melalui media sosial.

 

Melibatkan Anak Muda Millenial

Pihaknya bahkan sudah melakukan berbagai upaya dengan kegiatan bekerjasama dengan berbagai pihak dan melibatkan anak-anak muda (milenial) seperti diantaranya melaksanakan perlombaan di media sosial.

“Itulah metode yang efektif untuk Pembinaan ideologi Pancasila di masa sekarang,” tegasnya.

Sementara itu Direktur Politeknik STIA LAN sebagai narasumber Prof. Dr. Nurliah nurdin. M.A   mengungkapkan keberadaan BPIP merupakan harapan masyarakat untuk melakukan pemembinaan ideologi negara tersebut dari berbagai metode.

Meskipun demikian ia menyarankan kepada BPIP jangan melakukan kesalahan alias bluner dalam melaksanakan PIP terutama melalui media sosial.

“Program yang ditawarkan oleh BPIP sangat bagus, tetapi terkadang ada beberapa program yang blunder yang kontra dengan masyarakat”, terangnya.

Nurliah juga berharap jika ada pertanyaan atau pernyataan dari masyarakat melalui media sosial, ada respon dari BPIP. Karena harus ada komunikasi dua arah sehingga masyarakat atau netizen tidak merasa diabaikan.

“BPIP harus menampung masukan dari masyarakat untuk ditampung, sehingga lembaga BPIP memiliki citra baik dari masyarakta dan menjalankan tugas dan fungsinya sesuai yang diinginkan masyarakat,” terangnya. [bpip.go.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed