Peran Kesultanan Islam Menjaga Tradisi Budaya

Kabar Budaya182 Views

Kabar Damai I 03 Januari 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Indonesia adalah negara yang luas, wilayah yang terdiri dari berbagai gugusan kepulauan ini sangat beragam dan memiliki sejarah dan kearifan yang telah ada sejak lama, satu diantaranya adalah masa kesultanan yang memberikan sumbangsih dalam pemajuan Indonesia dan masih dilestarikan hingga saat ini.

Dr. Mustofa Pinem, M.Ag dari Kementerian Agama RI menjelaskan bagaimana sumbangsih dari masa kesultanan di nusatara ini masih lestari serta menjadi kebanggan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam sebuah tayangan podcast Kemenag RI, ia menyatakan bahwa dalam sejarah ada identitas, apalagi jika  mengingat ungkapan Soekarno yaitu adalah Jas Merah yang berarti Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah. Itu sangat menjadi tantangan bagaimana mempelajari masa lalu karena disana ada identitas kebangsaan.

Ia junga mengungkapkan bahwa terkait dengan kesultanan ini dengan konteks Keindonesiaan kita sebetulnya sangat menarik, dalam kajian yang kita sajikan harus menyentuh aspek atau konteks milenial.

Jika disebutkan kesultanan masa lalu adalah penjaga tradisi bahkan kesultanan juga sebagai pusat peradaban dan keilmuwan seperti misalnya kesultanan di Nanggoe Aceh Darussalam dimana didalamnya sangat kaya akan nilai pendidikan misalnya literasi didalam kesultanan yang memberikan pencerahan pada masyarakat pada zamannya.

Baca Juga: Toleransi Beragama di Masa Majapahit

“Didalam peninggalan literasi ada manuskrip tulisan tangan, dimasa lalu di kesultanan bahkan tidak hanya Aceh sangat kaya dengan aspek literasi dan itu kadang-kadang yang kita lupa saat ini,” tuturnya.

Lebih jauh, ia juga menjelaskan bahwa jika  dikaitkan konteks kesultanan dengan NKRI, maka NKRI baru ada sejak abad sekitar 20-an padahal kesultanan sudah ada jauh sebelumnya. Kalaulah kesultanan yang ada diseluruh Indonesia tidak mau bergabung dengan NKRI maka tidak ada Indonesia seperti saat ini.Tapi mereka semua bersatu dan menyatakan rela bergabung dengan NKRI, itu sumbangsih kontribusi kesultanan yang luar biasa dalam konteks Keindonesiaan saat ini.

Ia menambahkan, jika kita berbicara tentang manuskrip, seperti telah dikatakan sebagai kekayaan intelektual. Ini juga merupakan tugas dan fungsi di Kementerian Agama, sudah ada banyak manuskrip yang telah didigitalisasi supaya dapat menyelamatkan karya ulama masa lalu. Di digitalisasi, dibaca artinya, diterjemahkan bahkan dianalisis apa isinya.

Walaupun telah terjadi modernisasi, menurut Mustofa keturunan dari para sultan yang ada saat ini masih tetap menjaga tradisi yang ada.

“Diera perkembangan saat ini, anak dan cucu dari para sultan masih menjaga dan melestarikan tradisi leluhur. Mereka tidak berkutat dengan kekuasaan namun terus melestarikan tradisi yang ada,”.

“Sampai saat ini para kesultanan itu masih eksis dan sangat dekat dengan masyarakat. Bahkan setiap tahun ada festival keraton nusantara dimana para sultan berkumpul dan itu menjadi pentas kebudayaan masing-masing,” jelasnya.

Terakhir, ia menyatakan harapan dan rencana Kementerian Agama dalam rangka melestarikan tradisi sejak masa kesultanan masa lalu.

“Ada beberapa hal yang dilakukan khususnya Kementerian Agama dalam hal ini, ada penelitian-penelitian yang dilakukan perihal kesultanan namun yang ingin kami lakukan adalah membuat ensiklopedia kesultanan nusantara,” pungkasnya.

 

Penulis: Rio Pratama

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *