Peran Generasi Muda dalam Merawat Kebinekaan dan Perdamaian

Oleh: Aturkian Laia

Bangsa Indonesia yang lahir dari keanekaragaman suku, agama, budaya, bahasa, dan daerah asal yang tersebar luas dalam ribuan pulau perlu menyepakati suatu cara hidup bersama dalam kebhinekaan sebagai warga negara suatu bangsa.

Salah satu cara hidup bersama itu adalah cara pandang tentang diri dan lingkungan dalam mencapai tujuan nasional. Seiring berjalannya waktu, makna Bhinneka Tunggal Ika semakin luntur. Sudah terlihat kecondongan terpecah belah, individualis dengan dalih otonomi daerah, perbedaan SARA, tidak lagi muncul sifat tolong menolong atau gotong royong.

Banyak anak muda yang kurang mengenal makna Bhineka Tunggal Ika, banyak orang tua lupa akan kata-kata ini, sehingga ikrar yang ditanamkan jauh sebelum Indonesia merdeka memudar begitu saja. Oleh karena itu kita sebagai anak muda Indoensia sudah seharusnya menjaga kebhinekaan dengan cara mengimplementasikan Bhineka Tunggal Ika Dengan Sungguh-Sungguh

Pemuda juga di harapkan untuk menjadi control social dan agen of change di tengah-tengan masyarakat apalagi dalam situasi pandemic ini, dan seperti yang telah disampaikan oleh Presiden RI yang pertama dengan mengatakan

“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 Pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia. Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia”. Itu adalah salah satu kalimat yang pernah diucapkan oleh Presiden RI pertama kita, yaitu Ir.Soekarno yang sampai saat ini masih sering dijadikan kalimat pemantik semangat para pemuda.

Baca Juga: Generasi Muda Itu Bersatu Bukan Beradu

Kalimat itu memberikan gambaran bahwa betapa luar biasanya kekuatan dan peranan pemuda untuk mengguncang dan memajukan dunia

Dan kita semua berharap agar pemuda sekarang memiliki semangat juang seperti pemuda yang dulu berjuang untuk memerdekakan Indonesia dari tangan penjajah. Dapat kita lihat sejarah bung Tomo dan menyatukan para pemuda dari seluruh pemuda yang ada di Indonesia untuk melawan penjajah pada saat itu dan kita tidak dapat melupakan perkataan bung Tomo pada saat berpidato yang membuat para pemuda pada saat itu menjadi semakin semangat,

Ia mengatakan “lebih baik kita hancur lebur dari pada tidak merdeka semboyan kita tetap merdeka atau mati” dan tidak hanya bung Tomo yang bisa kita contohin di era orde lama, orde baru sampai revolusi dan hingga sampai sekarang dapat kita melihat perjuangan para pemuda saat itu untuk menurunkan rezim.

Mungkin nama-nama pemuda yang bernama Wiji Tukul, Soek Hok Gie dan Munir serta pemuda yang menjadi korban pada saat semanggi satu dan semanggi dua yang menjadi aktivis untuk membela hak-hak masyarakat patuh kita contoh dan ikutin perjuangan mereka

Harapan kita semua agar pemuda sekarang masih memegang sikap Nasionalis Patriotism dan Bela Negara untuk menjaga kebhinekaan dan perdamaian apalagi dengan situasi yang sekarang ini yang di hadapkan kita dengan pandemic maka peran pemuda saat ini sangat efektif untuk membantu mengingatkan agar mengikutin protokol kesehatan, itu salah satunya.

Dan sebentar lagi tanggal 28 Oktober memperingatin Sumpah Pemuda maka harapan terbesar kita agar pemuda dapat menjadi perubahan dan pemimpin yang akan datang di negara Indonesia ini yang kita cintai.

Aturkian Laia. Peserta Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *