by

Pentingnya Perempuan Memahami Kepemilikan Tubuh

-Kabar Puan-70 views

Kabar Damai I Selasa, 06 uli 2021

Jakarta I kabardamai.id I Sebagai perempuan, ternyata paham akan kepemilikan tubuh itu penting sekali. Soal kepemilikan tubuh perempuan ini, masih kerap dibahas oleh beberapa ahli. Salah satunya oleh dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG dalam acara webinar Otonomi Tubuh: Tubuhku Adalah Milikku.

Webinar yang diselenggarakan pada Kamis (1/7/2021) ini, membahas mengenai perempuan yang kurang menunjukkan kepemilikan terhadap tubuhnya. Bahkan masalah pernikahan anak usia dini juga merupakan salah satu dampak dari kurangnya memiliki rasa kepemilikan tubuh.

Masalah kepemilikan tubuh perempuan bisa memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan derajat kesehatan.

“Masyarakat kita membutuhkan kebutuhan yang basic, sepeti perempuan yang sehat,” ucap dr. Harso. Tak hanya itu, perempuan juga membutuhkan pengetahuan, hal ini sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh dr. Harso. Perempuan yang melakukan nikah muda, tidak memiliki ilmu yang cukup mengenai reproduksi.

“Contohnya perempuan yang tidak tahu-menahu tapi dipaksa nikah muda,” jelas dr. Harso.

Tak hanya itu, dr. Hasto juga mengatakan bahwa nikah muda dapat memicu kondisi yang buruk pada perempuan.

“Masih muda panggulnya masih sempit, panggulnya belum sepuluh senti. Ini menyebabkan terjadinya persalinan macet, dan bahkan pendarahan yang menimbulkan kematian anak dan ibu,” ungkapnya. Ini adalah contoh ketidakberdayaan perempuan.

Terkait hal ini dr. Harso juga mengatakan jika ketidakberdayaan perempuan penting untuk di antisipasi. Akan lebih baik jika perempuan memanfaatkan kepemilikan tubuh untuk kepentingan yang dibutuhkan. Salah satunya dalah dengan cara meningkatkan rasa kepemilikan akan tubuh perempuan itu sendiri.

Tak hanya itu, saat ditanya apa hal yang menyebabkan perempuan belum menghargai otonomi tubuh, dr. Harso menjelaskan ada banyak faktor penyebapnya.

“Saya kira faktor mindset penting ya, pengetahuan dan pemikiran,” jawabnya.

Tak hanya itu, baginya keyakinan yang berasal dari hasil pemikiran dan pengetahuan juga menjadi hal yang penting. Selain itu, hal ini juga dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Karena pemahaman soal kepemilikan tubuh ini penting, yuk kasih tahu sesama perempuan lain. Agar kelak ada lebih banyak perempuan yang paham akan kepemilikan tubuh dan tak terjebak pada pernikahan dini.

Ia mengilustrasikan cara masyarakat Indonesia memandang tubuh perempuan dengan menunjukkan gambar dua permen lolipop, satu masih utuh terbungkus, satu lagi tidak terbungkus dan dihinggapi lalat. Analogi tersebut menggambarkan secara sempurna bagaimana masyarakat mendorong perempuan untuk memakai pakaian yang menutup kepala dan seluruh tubuhnya.

Pesannya: Jika kalian tidak ingin dilecehkan dan diperkosa, pakailah pakaian yang tertutup. Tapi bagaimana dengan negara-negara yang semua penduduk perempuannya menggunakan pakaian yang menutup seluruh tubuhnya? Apakah lantas mereka terbebas dari pemerkosaan? Tidak juga.

Masyarakat tidak berhak menentukan apa yang harus dipakai wanita atau bagaimana perempuan seharusnya mengekspresikan dirinya.

 

Jika perempuan memiliki hak untuk mengenakan apa pun yang mereka mau, apakah itu artinya laki-laki juga berhak melakukan apa pun yang mereka mau pada perempuan? Tidak! Otonomi individu memiliki batas ketika sudah melanggar tubuh orang lain, kata Rahmat. Laki-laki dan perempuan harus sepenuhnya memahami konsep kepemilikan tubuh dan pentingnya saling menghormati satu sama lain.

Ia menjelaskan tentang hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR), bahwa setiap individu berhak atas hubungan intim yang aman dan sehat serta bebas dari kekerasan fisik dan psikologis. Semua orang memiliki hak mengontrol organ reproduksinya dengan adanya akses pada kontrasepsi.

Menurut piagam yang dirilis International Planned Parenthood Federation (Federasi Keluarga Berencana Internasional), terdapat 12 hak yang harus dilindungi sejalan dengan HKSR, seperti hak hidup, hak untuk bebas dan merasa aman, hak kesetaraan dan bebas dari diskriminasi, hak mendapatkan privasi, hak kebebasan berpikir, hak mendapatkan pendidikan dan akses informasi, hak memilih untuk menikah atau tidak, hak memilih untuk mempunyai anak atau tidak, hak untuk mendapatkan fasilitas kesehatan, hak mendapat keuntungan dari perkembangan ilmu pengetahuan, hak untuk berkumpul dan berpartisipasi secara politik, dan hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan buruk.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed